setiap pekerjaan pasti ada resiko,pengorbanan,ketidakadilan,kesenangan,dan kebahagiaan…
parameter manakah yang kita harus capai dahulu untuk menjadikan itu semua kenyamanan dan pencapaian yang sempurna…sebuah jawaban yang absurd pasti akan kita peroleh dari pertanyaan sederhana…
setiap hari pasti ada seorang buruh yang terkorbankan oleh kebijakan2 yang tidak jelas…memang bagi para buruh,sudah resiko untuk selalu ditindas dan dengan terpaksa menerima kebijakan unrasional dari stakeholder.
semua pekerjaan buat pekerja adalah harapan,namun tidak semua sesuai harapan…mereka setiap hari pasti mengalami kejadian-kejadian luar biasa yang tidak mungkin bisa diprediksi…aku mungkin mengambil contoh pekerjaan jurnalis…
sama seperti pekerjaan yang lainnya,saya mengambil contoh ini dikarenakan saya menyemplungkan diri di dunia ini…begini,pekerjaan jurnalis merupakan pilihan penuh pertimbangan dan panggilan jiwa.memang menjadi jurnalis kita akan menjadi orang yang lain dari pada yang lain,maksud saya adalah prestise dari pekerjaan ini di mata awam adalah hebat (mungkin tidak juga)…tapi apa lacur dibalik ke prestise an itu semua,tidak akan sebanding dengan bayangan awam terhadap profesi ini…untuk seorang fresh graduate menjadi jurnalis merupakan impian,padahal dari sisi finansial mungkin tidak akan melebihi salary nya yang akan didapat dengan buruh EPSON jika ia lembur…
jurnalis akan dihadapi oleh berjuta permasalahan yang pelik,mulai dari hal sederhana tentang deadline yang mengejar sampai pada tahap terbuangnya pergaulan sosial,waktu untuk keluarga dan handi taulan,lom lagi menyangkut nyawa…semua itu harus jurnalis tanggung dengan kerelaan pribadi…
prestise itu akan hancur dengan sendirinya,ketika kita mengetahui bagaimana sistem yang akan dijalankan oleh jurnalis itu yang terkait dengan kebijakan2 dari stakeholder.kadang-kadang kreatifitas jurnalis tidak sebanding dengan pengharapan mereka dari hasil kreatifitas itu,lom lagi beberapa pengorbanan fisik dan waktu…lalu materi dan imateri.
ini semua saya tulis karena rasa simpati saya terhadap nasib seorang jurnalis SINDO yang terkuburkan hak-haknya setelah dia merelakan semuanya untuk SINDO…testimoni yang menyentuh dari Teguh.R,salah satu 4 wartawan SINDO yang dipecat…sampai pada tahapan ia dipecat,Teguh tidak tahu apa yang menyebabkan ia dipecat…bahkan ia dipecat dengan selembar surat SK saja yang ditandatangani oleh Korda,sungguh membingungkan seorang Korda mempunyai kewenangan memecat wartawan?
Sindo yang dibawah cengkraman MNC sangat tidak profesional jika dilihat dari kasus ini…mereka menuntut keloyalitasan,profesionalitas karyawan tanpa mempertimbangkan hak-hak dari pekerja…MNC yang menggurita dengan tentakel-tentakelnya(saya memakai bahasa Teguh.R)mencoba menguasai dunia informasi di Indonesia,tapi pada kenyataannya tentakel itu hanya untuk meraih kejayaan semata tanpa mempertimbangkan kemanusiawian dari penghasil kejayaan itu
mungkin itu sedikit gambaran cerita miring dari perjuangan jurnalis,saya pun kembali melihat kepada potret sedih di kantor saya pula…sebagai salah satu karyawannya,saya mencoba untuk meluangkan waktu untuk membangun perbaikan dari program News TPI walaupun itu kecil dampaknya,saya bersedia untuk mengorbankan diri saya karena saya mencintai dunia jurnalistik.saya teringat omongan salah satu orang HRD yang pada pelatihan Jurnalis Junior pada bulan Oktober mengatakan kita harus profesional dalam pekerjaan,tapi pada kenyataannya semua terbalik…
tim mereka pun tidak profesional,bayangkan pada saat kontrak saya berakhir saya pun masih bekerja tanpa kejelasan dipekerjakan kembali atau tidak.lom lagi nilai kontrak yang jauh dari perkirakan,berbeda dengan teman saya yang baru 6 bulan diperpanjang untuk 1 tahun langsung mendapat kenaiknan 100% persen lebih.padahal kalo di tes secara kemampuan,mungkin tidak jauh berbeda…mungkin lebih!(agak subjektif).biar IPK saya kurang,tapi kalo suruh menulis saya pun bisa menggambarkan peristiwa melalui angle yang berbeda(padahal saya tidak pernah ke lapangan,itu menjadi kekurangan saya juga sih).
saya disini merasakan tidak memperoleh hak saya secara penuh,hingga timbul kejenuhan dan motivasi yang menurun…waktu perayaan 16 tahun broadcast ini,gambaran bonus di mata kawan-kawan seprofesi sudah di depan mata,tapi itu semua hanya untuk jajaran penggede saja yang merayakannya…sungguh tidak ada apresiasi terhadap loyalitas kami…bahagiakan kami adalah pengobat dari cerita sakit kantor ini para penggede…
jadi profesi jurnalis dan dunia Jurnalisme adalah sebuah pilihan besar dalam hidup…hanya yang terpanggil dan siap "gila" dan sakit dalam dunia liar ini…selamat berjuang kawan-kawan…
Cerita Sakit Buruh Media…