Archive for February, 2007

Kabar Duka buat Jurnalisme

Sunday, February 25th, 2007

Kemarin dan Hari ini  kabar duka buat dua orang kawan yang telah tuntas dengan tugasnya…

mereka nekat dengan sembrono…demi sebuah rutinitas,kewajiban,dan ekslusifitasan sebuah nilai…

mereka pergi dengan kasih yang tertinggal,sebuah berita selayaknya tayang untuk sebuah manfaat…dalam laku seorang pekerja

etis sebuah barang diperjuangkan ketika nyawa diujung tanduk…malaikat maut tersenyum menjemput…kau tetap bermain dengan nama profesionalitas…

tak ada jaminan dan penghargaan…hanya sebuah kata dari running text mengucapkan selamat jalan kawan kerja…SUHERMAN dan GUNTUR

semua tangis akan jadi sebuah peringatan dan penyadaran…apa ini pantas buat kita…kita ditindas dengan keloyalitasan paradoks.

SELAMAT JALAN KAWAN…TENANGLAH KAWAN DI ATAS SANA…AMIEN

!

Sunday, February 25th, 2007

hahaha…

kemarin menyenangkan

kemarin menyejukan

kemarin mengawang

kemarin juga berharap

kemarin kau jadi perhatian

kemarin kau cantik sekali

kemarin kau manja

kemarin kau diperhatikan

besok apalagi entah…..

Isme

Monday, February 19th, 2007

isme mengenai gerakan feminisme selayaknya perlu dikaji ulang oleh kaum ini (perempuan)…debat mengenai PRO dan Kontra isme ini tidak akan ada habisnya dan panjang lebar.berangkat dari keterpahitan masalah yang di hadapi perempuan dan keteraniayaan baik itu oleh zaman,sejarah,aturan,religi,keadaan melatari kelahiran gerakan ini.tidak ada yang tahu pasti kapan awal gerakan ini di mulai…tapi,gerakan ini dirintis oleh Olympee de Gouges dari Prancis yang pada abad ke-18 memimpin kaum perempuan miskin Paris berdemonstrasi ke parlemen menuntut pengadaan roti.Revolusi inilah yang melahirkan perjuangan kaum Feminisme.Dan Gouges pun menjadi inspirasi gerakan Feminisme di Indonesia

saya pun coba memulainya,melihat awal gerakan ini dari berbagai dunia…

Amerika

Gerakan perempuan di Amerika mulai muncul dipertengahan abad ke-19. Emansipasi persamaan hak serta penghapusan diskriminasi terhadap kaum perempuan menjadi tuntutannya.

Tuntutan inilah yang kemudian menjadi dasar dari gerakan perempuan yang pada masa kini dikenal dengan feminisme.Pada 19 - 20 Juli 1848, sebuah konvensi diadakan oleh Lucretia Mott dan Elizabeth Cady Stanton. Konvensi ini membahas tentang hak sosial, sipil dan agama kaum perempuan. Konvensi ini kemudian menghasilkan satu deklarasi yang dikenal sebagai deklarasi yang dinamakan "The Declaration of Sentiment". Dardari konvensi ini, usaha mereka kemudian berlanjut dengan membentuk National Women Suffrage Association (NWSA) yang mengajukan amandemen pada konstitusi untuk hak suara bagi kaum perempuan. Dalam waktu yang bersamaan, sebuah wadah lainnya terbentuk dengan nama American Women Suffrage Association (AWSA). Tujuan mereka sebenarnya sama, yaitu memperjuangkan hak suara bagi kaum perempuan untuk ikut memilih (www.sekitarkita.com)

Cile
Baru pada awal tahun 1900 gerakan perempuan di Cile mulai terlihat. Gerakan feminis yang terjadi di Amerika dan Eropa Barat turut mempengaruhi ide dan konsep dari gerakan perempuan di Cile pada masa tersebut. Kemudian dalam perkembangannya terdapat dua model gerakan yang berkembang;

Pertama, gerakan perempuan yang memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan. Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran dari Amerika dan Eropa serta bergerak dibidang politik. Gerakan ini pada tahun 1919, mendirikan satu partai politik yaitu El Partindo Civico Femenino. Pada mulanya, gerakan ini hanya diikuti oleh perempuan kelas atas. Namun dalam perkembangannya, kira-kira pada tahun 1920-an, banyak masyarakat menengah yang menjadi anggotanya.

Kedua, gerakan perempuan proletariat. Rata-rata anggota gerakan ini berasal dari berbagai kalangan militan, anggota serikat buruh, istri kalangan pekerja , buruh tani, atau buruh tambang. Beberapa kelompok diantaranya merupakan bagian dari partai politik yang berhaluan kiri. Pada pertengahan 1930, mereka mendirikan Gerakan untuk Emansipasi Perempuan Cile (Movimiento Pro Emancipacion de la Mujer Chilena). Pada 1945, mereka kemudian mendirikan Partai Feminis didirikan di Cile. Salah satu tuntutan mereka adalah hak pilih universal dan usaha tersebut berhasil.

Seiring dengan terjadinya kudeta militer yang dilakukan oleh Jendral Pinochet pada 1973, gerakan perempuan di Cile juga mengalami kehancuran. Pemerintah Cile mengeluarkan berbagai kebijakan yang merugikan kaum perempuan yaitu ideologi tradisional "menjadi ibu" (Motherhood) digalakkan. Pemerintah menghambat kaum perempuan untuk terjun dalam dunia kerja dan politik dengan berbagai cara. Mulai dari Undang-undang yang diskriminatif hingga berbagai cara lainnya.

Filipina
Gerakan perempuan di Filipina baru terlihat pada tahun 70-an. Sebelumnya tidak didapatkan informasi atau data tentang gerakan perempuan pada masa tersebut. Krisis ekonomi yang mulai terasa pada tahun 1979 telah membangkitkan kesadaran kaum perempuan untuk melakukan perlawanan. Berbagai cara dan isu yang mereka angkat dalam melakukan perlawanan.

Organisasi perempuan Filipina yang paling terkenal adalah General Assembly Binding Women For Reforms, Integrity, Leadership, dan Action (GABRIELA). Kelompok ini merupakan koalisi dari 42 organisasi dan 50.000 orang anggota perempuan. Koalisi ini didirikan pada tahun 1984 dan namanya diambil dari pimpinan pemberontakan pada Abad ke-19, Gabriela Silang. Dasar perlawanan mereka adalah ketertindasan mereka sebagai rakyat Filipina dan perempuan yang mengalami penindasan dan eksploitasi karena jenis kelamin.

Tidak jauh berbeda dengan gerakan perempuan di negara lain, tuntutan mereka dibidang politik adalah mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam berpartisipasi dalam dunia politik. Di bidang kebudayaan, tuntutan kesetaraan dan akses yang sama dalam pendidikan di semua tingkat dan dalam semua bidang. Tetapi yang paling mendasar adalah permasalahan di dalam rumah tangga, kesetaraan dalam pengambilan keputusan, hak milik serta membesarkan anak-anak.

Australia
Kedatangan bangsa Eropa ke Benua Australia dimulai tahun 1788. Sebahagian dari mereka adalah orang buangan dari Eropa. Kaum perempuan Inggris mulai masuk ke Australia pada tahun 1830. Pada 1883, Inggris memasuki Australian dan menjadikannya koloni. Suku Asli Australia, Abrorigin mengalami penindasan dan dikriminasi terutama kaum wanita.

Pada awalnya, kaum pendatang dan Aborigin terjadi kesalah pahaman yang berkepanjangan. Namun, dalam perkembangannya kaum perempuan imigran dan perempuan Aborigin berhasil menyatukan konsep sisterhood. Mereka saling bertukar jasa, perempuan kulit putih mengajarkan baca-tulis kepada perempuan aborigin. Sedangkan perempuan Aborogin menjaga dan mengasuh anak-anak mereka.

Itulah sedikit gambaran awal sejarah gerakan perempuan di dunia

sedangkan di Indonesia kita masih menyandarkan kepada tokoh Kartini sebagai pelopor tonggak awal munculnya isme ini.padahal banyak yang harus disangsikan dari Kartini…mengapa ia sebagai penggambaran mau di peristri oleh orang yang sudah berkeluarga.dan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” ini pun masih disangsikan kebenarannya karena ada kemungkinan manipulasi dan politik etis dari Belanda.

lebih baik adalah Dewi Sartika…yang jelas aksinya,Dewi Sartika mendirikan sekolah pertamanya pada tahun 1904 dengan nama Sekolah Istri dan selanjutnya diubah menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Hingga tahun 1912, Dewi Sartika telah mendirikan 9 sekolah, jumlah yang mencapai 50% dari keseluruhan sekolah di Pasundan (Marianne Katoppo: 2000).Dari situlah mulai bermunculan organisasi-organisasi keperempuanan di Indonesia.

menarik garis benang merah di atas,mungkin inilah yag menjadi titik balik dari kaum feminis  bergerak lebih pro aktif untuk menunjukkan eksistensinya di ranah publik yang selama ini terjajah oleh Male Dominated. memang tidak dipungkiri dalam dunia sejarah kaum feminis mengalami banyak keternindasan dalam perjalanan sejarah dunia…keterpurukan ini coba diangkat lagi ke permukaan wacana hak hakiki yang harus kaum feminis peroleh…

tidak salah memang mereka membuat isme ini…tapi yang harus diperhatikan adalah, kita bukan hanya melihat dari sisi kelam saja.rata-rata feminis selalu saja melihat sisi ini yg dikedepankan…tidak juga,banyak lah kajian yang patut di telaah lebih lanjut..menyangkut masalah penyetaraan,kesamaan dan relasi gender adalah hal yang bias di terima penganut paham patriarkhi seperti saya…jika kita membicarakan penyetaraan dan kesamaan gender,mungkin padanan kata yang lebih tepatnya adalah "Kebebasan" bagi perempuan…ada hal yang menarik dari sini,jika ini dirunut mungkin kebebasan itu tidak bisa lepas dari syariat agama (ingat kita bangsa yg masih kental dengan budaya,agama,norma)..menurut Qasim Amien "Bapak" Feminisme Arab,Kebebasan adalah hal yang paling termahal untuk dimiliki,tetapi bukan lah kebebasan yang tanpa batas.harus ada kerangka syariat agama dan etika sosial.dari sinilah awam perempuan menanggapi tendensi kebebasan itu kadang berlebihan,mereka hanya buta dengan status emansipasi yang dijunjung R.A Kartini.

kembali ke subjektifitasan saya menanggapi masalah ini…kadang  saya suka mempertanyakan apa makna dari isme ini…mereka tokoh2 emansipasi indonesia dengan lantang menyuarakan teriakan derita kaum mereka untuk tidak dipandang lemah oleh ADAM…oke lah itu masih saya wajarkan,tapi janganlah berlebihan..sebagai kasus kecil saja dalam pekerjaan shift pekerjaan pasti kaum perempuan akan lebih memilih siang dengan alasan kesehatan,tidak kuat,banyaklah yang di urus…dan kasus paling remeh adalah dalam kendaraan,saya kadang tidak tega dengan melihat perempuan berdiri desak2an…tapi hati kecil saya coba berkata,nah ini resiko lo nuntut emansipasi..(hehehe…coba bersikap apatis).

coba lah gerakan kaum feminis ini lebih menilik hal remeh seperti ini…kembalilah kepada kodrati kita masing-masing saja…cukup lah berbicara lantang,pada saatnya kita pun akan saling menyadari peran masing-masing..dan kita pun sudah cukup tahu dengan apa yg kalian perjuangkan.Agama pun sudah memperjuangkan kalian kok…bayangkan dari 114 surat di Al-Quran,ada satu surat yang didedikasikan khusus untuk Perempuan yaitu surat An-nisaa.

saya menuntut HARI BAPAK…(maafkan saya Ibu…)hahahaha

yo…

Saturday, February 10th, 2007

kunamakan itu cinta…

sebuah kata paradoks dan dan mensunyikan hati bila kau tak bisa melawan kebodohan diri atas nama-nama cinta

kau tak tahu dimana rasio dan tak nyata…antidot dari cinta adalah rasio…

tidak bisa selamanya itu murni,ada topeng dibalik atas nama-nama cinta…pedihnya merontokkan tembok pertahanan iman dan nalar hidup

aku pun tak tahu lagi bagaimana cinta itu harus dijalankan dan membahagiakan…agama suatu yang tidak begitu penting,agama alat menafikan pikiran atas nama-nama cinta

dia mungkin jauh tapi tak terlalu dekat lagi…sebuah nukilan dari pujangga tak bisa meredakan kemarahan dan kebodohan atas nama-nama cinta

bisa kah kita bersinergi membentuk suatu nalar hidup yang lebih baik dari dulu..yo…

kau sakit akupun sakit…tapi sudah jauh itu semua…empiris kita telah membawa ke kehidupan yang amat senjang…tak bisa lagi jembatan itu menjadi perlindungan batin dan penopang jalan…itu semua atas nama-nama cinta…avontur kita tak sama lagi…

tapi coba lah satu kali picisan itu menjadi sebuah harapan baru dan mahal artinya…yo…

Fenomena Banjir

Friday, February 2nd, 2007

Banjir fenomena langganan ibukota…permasalahan banjir seakan-akan hanya wacana gombal dari pemerintahan daerah ibukota saja…mereka seakan melupakan fenomena 5 tahunan ini.dan sibuk mengurusi penataan wajah indah ibukota saja.

sistem drainase yang buruk,disiplin penduduk untuk tidak membuang sampah di setiap aliran air,pembangunan yang tidak mempunyai perencanaan bagus pengaliran air,belum lagi kekacauan areal potensi penampung air yang dijadikan tempat komersil.Itu semua merupakan faktor-faktor pendukung dari banjir yang selalu melanda ibukota dan daerah pendukungnya.

fenomena gunung es ini dikarenakan pembangunan tanpa strategi dari pihak pemerintah daerah ibukota maupun daerah penyanggah ibukota seperti Bekasi,Bogor dan Depok.sangat miris sekali kalo melihat pemmbangunan pada saat ini…rata-rata developer bila ingin mendirikan atau membuat perumahan,tempat perbelanjaan megah,gedung tinggi selalu melupakan sistem dari drainase publik disekitarnya,mereka secara tidak langsung menutup saluran-saluran air publik.

menurut Emil Salim,Jakarta saat ini mengemban banyak fungsi sehingga menjadi daya tarik untuk para pencari kerja,tetapi di sisi lain menyebabkan Jakarta tumbuh menjadi megapolitan tak terstruktur tanpa rencana, mengikuti peluang bisnis ekonomi. inilah yang menjadi kerancuan dalam penataan kota di Jakarta.Pemerintah Daerah Ibukota seakan buta dengan moderenisasi Ibukota saja…para ahli planologi kota rata-rata didatangkan dari luar negeri yang notabene di negara mereka sudah menerapkan sistem yang moderen.padahal kalo lah bijak pemerintah Daerah mengajak para ahli di Negeri ini dan mengikut sertakan publik untuk turut berpartisipasi tentu kesemerawutan ini tidak lah parah.bayangkan daerah potensi resapan air pun akan dikorbankan demi sebuah "Pohon Besi",yang pada akhirnya fungsinya tidak ada dan menjadi hiasan kota yang megah saja…berapa banyak "Pohon Besi" di Jakarta ini berubah menjadi tempat penyewaan ruang kantor dikarenakan tidak adanya pemasukan bagi pemilik gedung (maaf bahasanya kurang baik).

pada suatu wawancara dengan salah satu Televisi swasta Nasional, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso,menegaskan…tidak ada kewenangan dari pemerintah daerah untuk menahan developer mendirikan bangunan pada lahan potensial yang kosong di Jakarta.Pihak Pemerintah Daerah hanyalah membatasi berapa lahan yang akan dipakai dan ketentuan2 berkaitan besarnya bangunan (koreksi saya bila salah).

sounding mengenai Banjir Kanal Timur (BKT) bisa menjadi solusi banjir dan dapat menguragi 90% banjir, selalu menjadi kambing hitam…belum rampungnya BKT,selalu dikedepankan sebagai salah satu faktor tidak selesainya permasalahan banjir di Jakarta.tentang susahnya permasalahan pembebasan tanah untuk warga yang minta dua kali lipat dari 1,4 jt/meter,belum lagi anggaran yang di potong oleh DPRD.inilah yang membuat pemerintah mengeles sementara dari masalah banjir di Jakarta…padahal BKT bukan salah satu solusi,harus ada koordinasi hulu dan hilir serta dengan daerah penunjang terutama dengan daerah Jawa Barat yang turut menyumbang besar banjir kiriman…sodetan di beberapa kali dan sungai besar yang mengaliri Jakarta,buatlah situ-situ lalu pengerukan kali-kali yang makin dangkal akibat sedimentasi lumpur.

itu perspektif bila kita tinjau dari kesalahan pemerintahan daerah,mungkin kita bisa sedikit membuka mata kita sendiri bahwa ada kemungkinan kita menjadi salah satu penyumbang dari banjir di Jakarta…kita bisa lihat,megahnya Jakarta bisa menyilaukan mata orang desa.proses urbanisasi pada tiap tahunnya trus mengalami eskalasi yang signifikan,rata-rata orang desa yang ingin mencicipi kemewahan Jakarta datang ke kota dengan berbekal kemampuan yang minimal.sehingga mereka menjadi angkatan kerja yang pasif.rata-rata mereka tidak mempunyai kemampuan standar kerja dan lulusan SMP dengan keterampilan yang minim,beruntunglah jika orang itu nasibnya baik maka ia akan memperoleh sedikit kemewahan Jakarta.dari tenaga kerja yang tidak terpakai ini biasanya mereka akan mengisi ruang-ruang kosong di Jakarta yang semakin sempit ini.maka tidak aneh bangunan pinggir kali di Jakarta semakin sempit terisi tempat tinggal yang menampung mereka, karena ketidakmampuan ekonomi,dan tempat tinggal di Jakarta yang mahal menyebabkan keterpaksaan mereka untuk tinggal di lahan-lahan kosong dan tidak produktif.

pada saat banjir maka tidak aneh kita melihat tumpukan sampah yang menggunung terbawa arus air.ini pun harus kita soroti,bahwa keengganan warga Jakarta untuk peduli dengan kebersihan lingkungan sangat kecil.mereka seakan tidak peduli saja dengan dampak yang akan ditimbulkan pada saat banjir nanti.di kali Ciliwung tumpukan sampah yang meluber di bibir jembatan itu perlu diangkut sampai 14 truk sampah.. ironis memang,hal seperti ini masih saja terjadi.

perlu ada koordinasi yang lebih lanjut antara daerah penunjang dan DKI untuk menangani masalah ini,kita pun sebagai "pemilik" Jakarta juga harus memberikan solusi yang terbaik.kita tidak bisa menyalahkan Pemerintah Daerah begitu saja,ada tindakan positif yang sekarang sedang dilakukan oleh Pemeritah DKI walaupun itu belum rampung yaitu dengan membuat sodetan langsung dari puncak menuju ke laut langsung di daerah puncak.dan saat ini seang memperjuangkan BKT.tapi pemerintah DKI juga harus memperhatikan lahan-lahan potensial resapan jangan di buat lagi lahan komersil.serta pembangunan tanpa strategi juga harus lebih diperbaiki…

semoga penataan kota lebih baik lagi dan kepedulian kita sebagai "pemilik" Jakarta akan membuat kita sadar,lebih peduli dengan Jakarta terkait dengan masalah banjir ini…

maaf kalo kurang representatif dan komprehensif pembahasannya…