Untuk Yang Merasa Ekslusif
Saturday, March 31st, 2007Ini adalah penggalan beberapa pandangan dari kawan-kawan di milis sma1bks@yahoogroups.com pada waktu lalu mengenai pengotakan yang terjadi di tubuh islam.saya coba mengangkatnya karena kawan-kawan di milis mempunyai pandangan-pandangan yang cerdas dalam mengemukakan pengetahuannya,dan ini menjadi menarik,sayang untuk di buang begitu saja.
berawal dari kawan Fira yang memposting sebuah puisi mengenai keekslusifan beberapa kalangan dan menyindir suatu komunal di kalangan Islam itu sendiri,dan postingan itu mendapat tanggapan beragam,ada yang menyindir keras bahwa puisi itu kurang etis,tidak bernilai,dan kasar.saya melihatnya justru kasihan dengan para pengkritik,karena mereka ada yang berprofesi sebagai penulis,sangat disayangkan bahwa nilai sebuah karya harus dimentahkan oleh pendapat orang yang juga berkarya.kritik tanpa solusi adalah pemborosan berpikir!
pembahasan ini berkembang kepada masalah pengekslusifan beberapa kalangan Islam,dan itu di mulai oleh kawan Opik
OPIK
Apa yg tersurat dalam tulisan (puisi) itu adalah
sebuah realita… ada
"kaum" yang memang menjaga ekslusifitasnya dari kaum
yang lain gue akui, pengetahuan gue asoal islam emang minim banget, tapi setahu gue islam gak pernah ngebeda-bedain orang, termasuk non muslim (cmiiw).
pernah suatu ketika, gue shalat di salah satu mushallah yang dijadikan basecamp kaum tersebut… tapi alangkah kagetnya gue ketika melihat tempat dimana gue shalat tadi, langsung di pel oleh salah satu dari mereka…awalnya gue berpikiran baik, mungkin emank dah waktunya dibersihkan (dipel) mushallahnya, tapi ternyata tidak, yang di pel cuma tempat gue shalat tadi ajah… dan yang lebih menyakitkan, itu dilakukan saat gue masih berada disana (masih pake sepatu).
berulang kali gue perhatiin pakaian, apakah ada kotoran atau lumpur yang menempel di baju dan celana gue, tapi ternyata semuabersih…akhirnya gue tahu bahwa mereka sebenarnya memang tidak mengijinkan kaum lain untuk beribadah disana…ini adalah fakta yang ada di sekitar kita
wass
OpiK, 3A23-93
dan postingan tersebut dibalas oleh kawan Qidhir Abdul Salam.
Qidhir Abdul Salam
Kita mesti berfikir dengan jernih, apakah memang layak
Islam dikotakkan-kotakkan dalam 2 kata; eksklusif dan
inklusif? apakah pikiran kita harus seperti itu?
Apakah tidak lebih baik kita mengkaji substansi Islam
itu sendiri daripada memotret Islam dalam bingkai
eksklusif atau insklusif yang mana kedua kata itu
lebih bernuansa politis dan cenderung memecah belah
atau lebih mudahnya bukankah pengkotakkan itu adalah
part of the problems? please advise!
Saya pikir, Kita mesti menghindari menggunakan kata
ekslusif untuk memotret Islam, karena yang terjadi
adalah simplifikasi, sama halnya kesalahan Clifford
Geertz memotret masyarakat Islam Jawa dengan
mengkotakkan menjadi Islam Abangan dan Islam Santri.
Dikotomi masyarakat Muslim santri yang dikontraskan
dengan masyarakat Muslim abangan sebagaimana dikaji
Geertz dalam Religion of Java merupakan hasil dari
‘thick description’ yang lebih menekankan pada
pandangan bahwa masyarakat keagamaan adalah teks
sosial-keagamaan daripada entitas lainnya. Hal inilah
yang juga dikritik sejarawan Marshall GS Hodgson (The
Venture of Islam, Vol 2, 1974), bahwa keunggulan
kajian Geertz tentang masyarakat Muslim Jawa ditandai
kesalahan sistematik besar. Yaitu, ketika Geertz
mengidentifikasi kaum santri berdasarkan kerangka yang
diberikan kaum skripturalis; dan pada saat yang sama
mengelompokkan kaum Muslim lainnya ke dalam kelompok
abangan. Dan kelompok terakhir ini secara simplistis
dia sebut sebagai lebih menganut tradisi Hindu-Budha
daripada Islam.(Azyumardi Azra, Islam Observed dan
Santri, Republika 23 November 2006)
Jadi mas opik,lebih baik kalau ada masalah
pel/mengepel yang menyinggung perasaan kita, lebih
baik ditanyakan langsung aja secara baik-baik apa
maksudnya tanpa harus menyimpulkan eksklusif.
Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, bila ada
yang salah, please advise!
peace
3.A1.3/93
tak ketinggalan kawan saya Dicky Kurniawan turut menimpal.
Dicky Kurniawan
Maaf kalo ada kata2 yang kurang berkenan. Terakhir saya kutipkan Quran Surat Ali Imron : 7.7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183] , itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[ 184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami."Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
[183]. Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[184]. Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
nih…saya sepakat dengan Imbar, tapi kalo wacana ini
ditarik dari perspektif Al-Quran dan Hadist maka
berhentilah diskusi ini, tafsir-tafsir dalam Al-quran
pun banyak juga yang masih multitafsir. ..
menurut saya, biarkan lah topik ini menjadi
luas,karena selama ini banyak orang berpandangan
membicarakan agama adalah hal yang tidak perlu, dan
agama seharusnya diamalkan.Dan pengetahuan agama,
sebagaimana ilmu lainya haruslah berkembang dan
mengalami evolusi agar tidak mengalami stagnasi dan
beku.
kembali ke topik masalah, kenapa ada pengkotak-kotakan
di dalam tubuh umat Islam yang kali ini saya
melihatnya dari sub yang lebih kecil ,yaitu Indonesia
dan baru meluas ke dunia…
sebenarnya untuk secara umum kita memandang nya
haruslah memusatkan kepada aspek-aspek kultural dan
politik kepemimpinan mereka…terutama kultural tiap
daerah yang berbeda…
terlepas dari adanya Islam Abangan dan Santri merek
Geertz (walaupun pada akhirnya kurang tepat dalam
pengelompokan di tubuh umat muslim Jawa), serta Islam
Borjuis dan Proletar milik Nu Khalik Ridwan…juga ada
dikotomi kelompok tradisionalis dan modernis yang
diwakili oleh NU dan Muhammadiyah.
pada kelompok tradisional mereka merujuk kepada
Al-Quran,hadist, ijma’ ulama, dan qiyas serta
pengikut salah satu Mazhab.
sedangkan kelompok modern mendasarkan amalan
keislamannya kepada Al-Quran dan Hadist serta
penalaran, dalam menetapkan hukum satu masalah
biasanya kelompok modernis tidak merujuk pada
karya-karya ulama salaf dan khalaf untuk
menjustifikasi keputusan hukum…
karakteristik dari dua kelompok ini berbeda karena
memang dari dua sisi sosiologis yang beda…
sebenarnya saya sendiri tidak terlalu paham dengan
permasalahan ini, saya hanya mencoba menuangkan
pikiran saya biar ga "butek" di ubun-ubun… maaf kalo
meluas masalahnya.. .
Rock On aja deh…
Are-The-And (Ardian99,pelajar dunia)
baru belajar nulis…hehehe