Apa Benar ada Janji Tuhan di Pernikahan?
hmm…pernikahan?
apakah pernikahan itu?, apa yang harus disiapkan dari pernikahan dan pada kapan kita harus menikah?…alegori dari banyak teori untuk satu pembenaran pasti jadi menimbulkan keraguan pada tiap insan jika mendengar kata pernikahan. ada seorang kawan mengartikan perjalanan pernikahan dengan mengkiaskan pada kereta api yang singgah di setiap stasiun,dan stasiun itu merupakan penggambaran dari transisi kehidupan,yaitu remaja,dewasa, dan abadi dalam kekekalan tujuan suci agama.
ada juga yang mengartikan ini menegakkan setengah dien kita,dan merupakan jalan tuhan serta menghindarkan dari perbuatan maksiat dan dosa…hmm…bisakah dengan alasan jalan tuhan sehingga menafikan arti cinta?
ketika ditanyakan kapan menikah,tentunya sebagai seorang manusia yang sudah sampai pada tahap pencapaian transisi dewasa, pertanyaan itu menimbulkan banyak tendensi di dalam diri. apakah sudah siap secara batin dan mental,lalu melihat sisi finansial,dan pemuasan terhadap ambisi pribadi…parameter mana yang harus dicapai untuk sampai pada kata menikah? jujur saja saya bukanlah penganut menikah secara ekspres…hehehe.malah menurut saya pernikahan adalah momok,apalagi dikaitkan dengan segi finansial.karena pada usia dan baru memasuki tahap manusia dewasa,saat ini adalah masa rawan dan pencarian posisi untuk menemukan kemapanan.saya selalu mengecilkan niatan seorang karib untuk menikah, saya mengatakan padanya "lo mo kasih makan apa tuh anak,trus gaji lo berapa,emang tanggungan lo ga banyak".sempat masygul mendengar karib ku tetap teguh dengan pendiriannya…wow,hebat sekali kau karib. Teman perempuanku pun sempat memojokkan dan mencoba mempengaruhi saya dengan artikel-artikel pernikahan,serta doktrin nya untuk menyegerakan pernikahan karena itu jalan mulia…saya pun hanya skeptis dan alusi menjawab pertanyaan itu…ku jawab "gw lom puas keliling nusantara,gw mo lihat dunia!". "lo mo sampai kapan yan begitu", teman ku berusaha mengingatkan.
sampai pada saatnya pertemuan terjadi dan saya menyatakan siap dengan kepatuhan absurd itu,tak tahu apa yang bisa merubah saya yang tadinya sebuah momok menjadi kematangan berpikir secara mutlak dan tak ragu.sebuah pernyataan sudah diutarakan,sebuah keyakinan sudah dimantapkan,keberanian ku lantangkan…tapi sadar penuh itu hanya mimpi awal…tak tahu sampai kapan mimpi itu jadi nyata…amien,atau itu memang benar mimpi.
keterkaitannya dengan permasalahan pernikahan,terkadang tidak bisa dipungkiri yang paling mendominan dan menjadi titik sorot adalah material.banyak yang beranggap kebahagiaan dalam pernikahan adalah dilihat dari kemapanan di ekonomi pribadi sang mempelai,dan usia yang sangat matang dari calon qowwam (pemimpin) kelurga.karena pada titik krusial itu biasanya pria sudah sampai pada tahap kemapanan sempurna dan kemampuan berpikir pengendalian emosi.Tapi apa benar seperti itu.
ah pusing memikirkannya..dah ah sekarang keluar dari bahasa yang formal yah ngebahas soal pernikahan,secara gw lagi butek banget!..nah iya begini nih,ketika kita mo melangkah kesana pastinya ada kaitan tentang perasaan cinta (bodoh) dan materi,dua itu bisa jadi korelasi dan alegori yang sempurna banget untuk mewujudkan pernikahan.beruntung sekali seorang mempelai yang mempunyai itu dan dia bisa dengan gampangnya menunjuk apa yang disukai dan menikahinya, dan setelah itu orang tua dari yang dilamar pastinya oke-oke aja kan,toh calon mantunya bisa membahagiakan anaknya dan tidak sengsara lagi anaknya.berarti matilah sudah namanya cinta dan perasaan itu yah,atau memang benar limpahan harta menjadi suatu yang di Agungkan dari sebuah keberanian pernyataan hati yang jujur.
pada sampai tahapan ini,gw mulai meragukan sesuatu yang mulia dari perasaan…semuanya bisa tenang dengan adanya kemapanan.gw pun sempat berpikir pesimis,kalo gw nunggu mapan sampe kapan yah…pa lagi hasil keringat gw aja baru cukup untuk beli gula buat ngimbangin tuh rasa keringet yang asin.trus kalo disandingkan dengan umur pa lagi,beruntung banget yang dah pada tua,tinggal bilang jadi dah klik..dengan alasan gw dah males pacaran mo cepet aja…ngehe,seenak jidatnya aja ngomong mentang-mentang rambut dah pada tipis.emang bener kali yah kata iklan, yang muda yang ga dipercaya (bener ga tuh)…hahaha…
sekali lagi cinta dan harta adalah area abu-abu,cuma sedikit bedanya sama perasaan…kalo melihat di atas,gw sih sadar aja…ilmu gw masih tipis jack untuk mengerti dengan jelas apa itu arti kemapanan,apa sih yang dilihat dari kemapanan…jadi untuk memulai suatu pernikahan kita harus memperkaya pundi-pundi kantong semar harta kita dulu dong…trus mengenai janji tuhan mo dikemanain yah,ah bingung gw mo milih yang mana dulu…apa tunggu tua kali yah biar gampang…KAGA DONK!,kita harus maju untuk menyingkirkan generasi bau tanah tersebut….karena gw adalah avant-garde…BANGSAT!
kenapa ga ada yang berpikir tentang kesederhanaan adalah yang paling baik untuk memulai sesuatu,pastinya ga ada yang berani tuk mengiyakan ini kan atau ada juga yang memberanikan?…coba tanyakan pada kondom bekas…hahaha,ga nyambung…BODO amet, lo ga berhak!…sekarang lo semua pada milih yang mana (eh,gw buat pilihan ga di atas tadi?)
April 30th, 2007 at 3:36 am
Mungkin ada yang punya pandangan bahwa dengan men-segera-kan menikah lebih baik untuk menghindari dosa, menggenapkan setengah diri, mengikuti jalan mulia, dll…
Tapi pernikahan juga membawa begitu banyak konsekuensi dibelakangnya…
Ada banyak hal yang harus dipenuhi untuk mewujudkan dan memelihara sebuah lembaga pernikahan…
Terus terang, secara pribadi kiki punya pandangan:
Mnghindari dosa bukan hanya dengan menikah..ada banyak orang terikat pernikahan yang jalan terus berbuat dosa-nya ;p
Jalan mulia ngga cuma pernikahan..ada banyak jalan menggapai berkah Tuhan..
Meski udah banyak yang nanyain “kapan nikah…?” kiki masih belum punya rencana menikah tuh dalam 1-7 tahun ke depan…
Ngikutin jargon-nya IPB, kiki masih “Mencari dan Memberi yang Terbaik…” hahahahahaha…
May 2nd, 2007 at 8:42 pm
menikah itu kan setengah nya “DIEN”. jadi klo blom menikah, brarti blom ada setengahnya dalam menjalankan agama.
Kenapa menikah segitu “besar” kedudukannya dalam islam? karna dalam pernikahan itulah nantinya keimanan dan keislaman seorang hamba ALLAH benar2 teruji…
Betul bgt..klo nunggu mapan, nggak jadi2 nikahnya. klo nunggu yang “sempurna”, nggak ada manusia sempurna.
yang ada cuma keberanian untuk memulai hidup dengan penuh tanggung jawab…
bismillah aja, klo emang merasa udah mampu bertanggung jawab, ya jalankan aja…
masalah rejeki, nikah justru membuka pintu rejeki. InsyaALLAH niatnya dikembalikan lagi cuma untuk meraih ridho sangKhalik
klo kata ALLAH “kunfayakun”, siapa yg bisa menghalangi?