Infotainment,apakah produk Jurnalisme?

Wajar tidak kalau kita mempertanyakan infotainment itu apakah salah satu produk jurnalisme?…apakah manusiawi yang selalu mereka (buruh infotainment) informasikan kepada khalayak?.

Mengapa saya membuat pertanyaan seperti itu…diri saya agak tergelitik ketika sebuah merek dagang milik Haji Ilham Bintang dengan jargon andalannya sebagai pelopor jurnalisme infotainment.Apakah pantas infotainment itu sendiri bisa disbut sebagai salah satu produk jurnalisme,padahal kita ketahui definisi mengenai berita adalah sesuatu yang termasa (baru) yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar.karena itu ia dapat menarik atau mempunyai makna bagi pembaca. (Willard C. Bleyer). Sedangkan menurut J.B. Wahyudi : Berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai penting, menarik bagi sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan melalui media massa periodik.  jadi berdasarkan keterangan di atas,bisa diambil kesimpulan kecil sebuah berita harus lah menarik dan mempunyai makna penting yang dapat di konsumsi sehat bagi audience nya.

kalau kita lihat pada hasil tayangan atau tulisan berita infotaiment di surat kabar pada saat ini,sungguh sangat memprihatinkan.yang ditonjolkan justru adalah kekerasan dan kebodohan sehingga pemirsa yang mempunyai hak intelektual terhadap berita atau wacana hanya dijerumuskan untuk membuang waktu terhadap sesuatu yang tidak penting.cobalah kita lihat,apakah pantas sebuah perceraian menjadi komoditas utama publik,sehingga di konsumsi bebas sebuah aib?!.atau lebih konyol,seorang artis yang tak tahu apa lebih pantas sebagai "selebritis" memproklamirkan pasangannya dan itu menjadi berita yang agung?!. dimanakah prestasi pekerja seni kita yang tenggelam itu…

belum lagi mengenai bahasa yang disajikan.infotainment pada saat ini mencoba bermain dengan kata-kata sastrawi dalam penyajiannya.terkadang bahasa yang digunakan dibuat sedemikian dramatis dan manis,padahal content dari beritanya hanyalah saling hina,cela,makian,dan kekecewaan dari suatu objek biasanya "artis".dibuat seolah-olah ini investigasi ekslusif ..makin kacau aja tuh.trus banyak penggunaan kata artis itu sebagai publik figur,nah…disini kita banyak salah kaprah dalam penggunaan label publik figur pada artis.artis bukanlah publik figur.publik figur adalah seorang yang membuat suatu kebijakan atau pengaruh dan perkataan serta perbuatanya adalah menyangkut dengan kepentingan publik serta berpengaruh.menurut saya,artis tidak mempunyai arti apa-apa bagi publik,apa sih yang mereka perbuat untuk kepentingan orang banyak dan apa pengaruh baiknya bagi orang banyak pula,jika dikaitkan dengan gembar-gembor kehidupan hedon yang mereka jalani. Salah kaprah dalam bahasa banyak sekali digunakan dalam penyajian berita infotainment ini.

dan lebih mengenaskan adalah tampilnya sejumlah host dari acara infotainment. Dengan mimik yang dibuat sedemikian rupa sehingga terkesan sangat(maaf) "menjijikan".dan kredebilitas mereka juga patut dipertanyakan. Saya tidak bisa membayangkan kalau saja mereka yang terkena imbas dari gosip pasti perasaannya hancur juga kan. Cobalah kita lihat sejumlah host yang menyemarakkan tayangan infotainment itu,khususnya ada salah satu produk dari in house televisi,mereka coba menyindir dan mencela kelakuan dari sejawat di bidang mereka sendiri.padahal mereka pun tak lepas dari cela tersebut.

belum lagi tayangan yang bersifat seragam.bayangkan kalau saja kita tongkrongin tuh TV seharian penuh.pasti isinya ga lebih kasus Tamara berebut kepengasuhan anak semata wayangnya…mual ga lo?!.perang argumen di televisi nasional,tentunya ini tidak baik kalau diserap oleh penonton kita yang notabene masih berpikiran ngeres.

cobalah tanyakan kepada korban dari infotainment, contoh lagi panas-panasnya kasus Tamara B…mengenai perebutan hak asuh anak.kasus Dhani Ahmad dengan Maya,kasus kisruhnya Ratu..sampai-sampai Maya mengepalkan tinjunya kepada rekan infotainment.trus kasus pelemparan Sarah Azhari kepada cameraman Infotainment yang sampai ke meja hijau.padahal pada kasus ini yang salah adalah pekerja infotainment itu sendiri yang melanggar area privasi dari individu.

anda semua masih ingat dengan kasus meninggalnya campers indigo yang bertajuk SILET. Campers itu meninggal setelah meliput pernikahan diam-diam Glen fredley dan Dewi Sandra.kabarnya ia meninggal karena terkena leak,dan akibat salah tempat untuk buang air kecil dan tanpa permisi. Tahu apa yang diucapkan reporternya.dia justru menyalahkan Glen karena tidak diijinkan meliput pernikahan tersebut, dan berkata "masak kami tidak diijinkan masuk,kami kan wartawan bukannya maling" (kalau tidak salah saya ingat,karena sudah lama). loh..loh…loh…beginilah kalau salah menerapkan kode etik jurnalistik.saya bingung,apa sih sebelumnya disiplin ilmu lo sebelum terjun ke dunia "Jurnalistik" (menurut mereka). tentunya Glen punya area privasi sendiri dong!,nah kalu lo ga bisa dapet gambarnya secara detail,yah resiko lo harus nyari gimana caranya biar dapat.

Saya pun pastinya tidak se ekstrim itu memandang dengan hina pekerjaan mereka,toh kita sama-sama sebagai pekerja dan kita adalah martir dari stakeholder itu sendiri, kita lah si ujung tombak. Saya pun tidak bisa memungkiri banyak sekali teman saya yang bekerja di bidang ini.mereka pun pastinya berkata dalam hati kecilnya tidak mau seperti ini,tapi berhubung di Republik LAKNAT ini susah sekali mencari pekerjaan,ya sudah tahi kambing bulat-bulat,apa boleh buat toh.kerja mereka itu berat loh,bayangkan nongkrongin artis sampai berjam-jam kadang-kadang seharian,gimana ga nahan emosi yah.berapa kali saya mergokin teman-teman saya dengan setianya nungguin artis. dan lucunya nih,tau sendiri kan pasti kalau lagi cape-capenya emosi kan gampang ke sulut nih.tau kasusnya pemboikotan pernikahannya Raihannun kan,disitu dengan nada keras kawan-kawan peliput menyatakan memboikot meliput Raihannun,tapi besok-besoknya nongol berita tentang Raihannun…hahaha,dasar ga konsisten.itulah karena persaingan tidak sehat dan harus dikejar dengan deadline yang tipa hari karena tayangannya nongol tiap hari,jadi terpaksa lah daripada ga ada berita dan dapur ga ngepul,terpaksa jilat ludah sendiri…hahaha.

tau ga, saking ga berwibawanya label Infotainment…Pemred TPI pun menolak untuk recruitment orang yang asalnya dari infotainment loh…(ini saya dapet bocoran dari Eksprod yang tidak mau disebutkan namanya..hahaha). Karena Pemred mempertanyakan apa sih yang lo tulis dan hasilkan dari infotainment,ga aa manfaatnya.aib orang ko di bongkar,trus pernikahan aja diliput,orang pacaran diliput,kumpul kebo trus diangkat…wah,parah dah tuh.

saya yakin di balik penyajian berita Infotainment,pastinya mereka baik itu produser,korlip,korkam,campers,reporter, adalah orang-orang yang kreatif…tidak mudah lo buat script panjang kayak gitu trus bahasanya mendayu-dayu campur puitis. saya saja belum tentu bisa disuruh buat script panjang lebar.

mungkin ini saatnya memperbaiki lagi kualitas dari tayangan infotainment. ini ada kalimat yang gw dapet dari testimoni Chrisma Albandjar "Whether  we like it or not, people do learn from TV".

jadi perdebatan mengenai infotaiment itu produk jurnalisme atau tidak, maka akan saya kembalikan kepada anda semua yang menilai…saya mah cuma penyulut aja,kali aja ada masukan yang sifatnya pemberitahuan lebih jelas apakah layak infotainment indonesia bisa disebut salah satu produk pers.

nb: ini pendapat pribadi dan masih perlu perbaikan,dan dalam keadaan diserang kantuk dan pusing hebat…buru-buru coy!

6 Responses to “Infotainment,apakah produk Jurnalisme?”

  1. Bram Says:

    ente terlalu mudah untuk berkoar dan menyudutkan infotainment. bukannya gua pro dan anti infotainment, tapi untuk berkoar seperti di sarana komunikasi yang umum seperti blog ente, sangat riskan. ente tau sendiri kalau banyak dari kawan-kawan kita, mungkin sohib ente sendiri yang mengais rezeki di dunia infotainment.
    ini bukan somasi. tapi berpikir dulu, sebelum mengungkapkan apa yang ada di otak ente. kebetulan aja ente gak di infotainment. kalo ente berada di dunia itu, apa ente akan berkoar sama? apa ini pertanyaan atau pernyataan? ente simpulkan sendiri.
    -Bram, OkeZone News Reporter.

  2. Ardian Says:

    wuahaha…bung,ente terlalu panas hati…simak donk baik-baik tulisan ini.ane ga menyudutkan infotainment secara gamblang,ane pun sadar dengan jelas bahwasannya sangat berat buat kawan-kawan ane yang banyak berkecimpung dibidang ini.ini kan semua karena tuntutan pekerjaan.disitu kan ane tulis bahwa mereka adlah orang-orang yang kreatif dan punya kemampuan.ente terlalu panas hati…hehehe.ane cuma sedikit menyentil penyajian content dan cara kerja mereka yang mulai melenceng dari sesuatu yang seharunya mempunyai nilai bagi khalayak bung…sori neh,ane pun sempat berpikir tentang ini…thanx’s commentnya

  3. Bram Says:

    gua gak panas hati, gaya tulisan gua emang kayak gini.
    by the way, gua udah menyimak baik tulisan lo itu. justru di situlah letaknya. n lo sendiri yang mengatakan kalo “…saya mah cuma penyulut aja…”. secara tidak sadar lo udah menyerap sedikit dari sifat jurnalisme mereka yang “menyulut” bro. dunia yang lo cerca (bahasa lo mempertanyakan) sistem jurnalismenya.
    gua salut dengan kreatifitas menulis lo. tapi gak cukup berhati-hati n komit dari tema besar tulisan.
    philosophinya, jangan coba menunjukkan jari, jika empat lainnya mengarah pada diri.
    layak atau tidak infotainment indonesia disebut salah satu produk pers? lo atau gua belum pantas untuk menjawab atau coba untuk menjawab. sekaliber Rosiana Silalahi pun yang pernah mencoba membahas dalam suatu program diskusinya, tidak berani memposisikan dirinya untuk mendefinisikan, menjelaskan, atau membawa pemirsanya dalam suatu kecenderungan kesimpulan tertentu. karena pantas atau tidak infotainment menjadi bagian dari ilmu jurnalistik hanya mereka sendiri yang mampu menjawab. tentu dengan pemikiran yang lebih bersih dan tidak sentimen emosional. bukan begitu?

  4. DQ Says:

    Tenang Bram, ni orang emang kompor….tinggal nambahin minyak…mleduk dah…

    Gue urun saran aja deh…
    Infotainment…dari segi kata aja ada dua, informasi dan entertainment. Ga salah si dengan dua kata ini, ada informasi sama hiburan. Jadi kalo mo diartiin secara kasar ya informasi tentang dunia hiburan.

    Tapi yang gue liat bukan hiburan tuh yang diinformasiin, melainkan sepak terjang si pelaku hiburan. Iya kalo prestasinya, kalo “dapur” dan “kamar tidurnya”???

    Gue pikir nih boy, kenapa banyak orang yang newsie abizzz menolak kalo infotainment jadi bagian dari pekerjaan jurnalistik karena sekarang lebih mengurusi “dapur” dan “kamar dapur”. Kalo sekedar ngasih informasi si A cerai si gpp, tapi kalo udah sampai “jualan”, itu udah melenceng dari kode etik jurnalistik.

    Mereka emang wartawan, tapi ga newsie…gimana bilangnya tapi itu kenyataannya. Bagi gue ini adalah benang yang tipis banget untuk bilang infotainment itu jurnalistik ato ngga. Tapi bagi gue batasannya jelas, apakah urusan “dapur” dan “kamar tidur” pelaku dunia hiburan termasuk kepentingan publik???? Lu orang khan bisa jawab sendiri, ga perlu ngajak si Rosi Silalahi…

    Untung gue di Program Kriminal…eh itu jurnalis juga ga si??? Ga ngerti nih gue, maklum bukan lulusan jurnalistik…hehehe

  5. Ardian Says:

    yoa…tenang bro Bram…kan ini jadi diskusi hebat tidak sekedar debat kusir…kalo menurut lo tulisan gw kurang berhati-hati,ogut minta maaf karena menyakiti sejawat kita…tapi gw sekali lagi hanya menyoal tentang content dan cara penyajian beritannya saja…memang mereka mewartakan,tapi rasannya yang di wartakan tidak lah etis lama-kelamaan.kenapa prestasi jadi barang murahan nilainya untuk menggaet iklan,dan untuk menggaet iklan urusan (meminjam bhs DQ) “dapur” dan “kamar tidur”.gw rasa karena persaingan tidak sehat itu lah maka untuk mengejar deadline yang gila,maka dicarilah issu2 yang dianggap “menjual”,sehingga hanya kekalutan informasi yang didapat.tidak ada (maaf) mutunya untuk pemrisa dan pembaca.kita kan punya kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bung…itu lah fungsi kita.kenapa kita tidak pengaruhi awam dengan kemampuan kita dengan cara memotivasi orang memakai prestasi seseorang…begitulah kawan Bram…any comment again?

  6. Fira Says:

    yeah..mencoba untuk objektif…

    secara PROSES, saya rasa itu proses jurnalistik (dari mulai gathering hingga presenting).

    Secara KATEGORI, itu memang BERITA= laporan dari suatu peristiwa (begitu kira2), meskipun banyak juga GOSIPnya!

    Tapi secara ISI dan PENTING/TIDAKNYA…. Infotainment sama sekali TIDAK PENTING!!!!

    APA pentingnya bagi masyarakat luas klo tau si artis A cerai, pisah ranjang, rebutan anak?????

    APA pentingnya bagi stabilitas sosial kalau artis2 itu jalan2 ke luar negeri, berencana menikah, putus pacaran dengan si anu, atau baru jadian dengan si anu..????

    SAMA SEKALI NGGAK ADA!!!

Leave a Reply