Kita Punya Hari Itu!
"Yan,ntar kita makan yuk…",ajak Bang Udin (Produser Lintas Pagi)…"oke bang,tapi abis Lintas Malam ya!",balas ku…"sipp,gw dah laper banget nih",jawab bang Udin.
obrolan selintas ini trus ku bawa dalam memori jangka pendek. Dalam hati, ga bakalan aku sia-siakan dan ini pasti jadi obrolan yang bagus pas makan nanti…karena bang Udin itu suka nyerocos ga jelas tapi informatif. Baik itu seputar dunia jurnalistik, gosip seputar broadcast, kasak-kusuk artis, cerita miring kantor, sampai kiat tulis-menulis dan asyiknya dunia bloger.
selesai juga akhirnya Lintas Malam,ngelirik sebentar untuk ngukur waktu…jam menunjukkan pukul 00.10. wah masih ada waktu tuk nyantap ayam bakar favorit kami di daerah Pinang Ranti. Bergegas aku menuju ruangan untuk menyiapkan kaset. Selesai itu ku hampiri bang Udin…"bang,jadi gak?…"ayo,lo dah kelar?",balas nya…"aman deh",sahut ku…bergegas menuju lobby dan segera menyiapkan tunggang si Tigi yang oceh berat.
benar saja,baru beberapa lepas landas dari lobby,keluar lah ocehan tak bertuan…"aduh gw kurang tidur yan",buka obrolan dari bang Udin…"sama dong,gw juga nih bang"…"gw di dor sama orang buat ngelarin bab III nih"…"buat apaan bang?",tanya ku sambil meraba-raba apa yang dia maksud…"gw lagi nyiapain buku"…widiihh,ini yang aku suka nih,sembari ngulik kiat-kiat dia…"ini proyek pertama gw nih,pusing kaya dikejar-kejar.padahal baru tidur 3 jam"…makin semangat aku ngeboncengin nih orang,dan ga rugi rasanya bergosip dengan bang Udin,soalnya banyak info dari mulutnya.dan itu pula lah yang bikin betah aku masuk malam.
"siapa penerbitnya bang?",tanya ku lebih lanjut…"Mizan!"…wihhh,Rock ‘n Roll nih salah satu penerbit yang aku doyan saat ini…gila benar ku pikir,ada saja "lobang" tuh menyalurkan Isi "OTAK" yg Keselip…obrolan sejenak terhenti karena tujuan tuk mengisi perut telah sampai. sejenak ku nyalakan sebatang rokok tuk memulai kembali montase cerita yg hilang diperjalanan tadi.."Jenisnya apaan bang?",selisik ku lebih lanjut…"yah,semi biografi,gayanya populer",jawab bang Udin…sebenarnya aku ingin menyampaikan siapa profil yang ingin diceritakan oleh bang Udin,tapi rasanya tidak etis,biar lah ini tersimpan. Rupanya penerbit itu ingin mengulang suksesnya buku Ahmadinejad yang di terbitkan oleh kelompok Mizan. Sebab pada buku Ahmadinejad ditulis dengan gaya ringan dan "dikeroyok" oleh beberapa penulis yang dari kalangan pers juga…secara isi profil Ahmadinejad pada buku itu hanya selintas saja tidak terlalu gamblang siapa itu Ahmadinejad,tapi pada buku itu lebih banyak menampilkan tentang Revolusi Iran. Rupanya Mizan telah "kecolongan" judul dan gaya oleh penerbit lain. Dan Mizan ingin mencari angel yang berbeda guna meraih pasar dan pembaca muda.
Dialog malam ini terus mengalir,walaupun ayam bakar mencoba mengganggu.tapi itu tidak menghalangi intimnya dialog ini…aku pun menanyakan bagaimana ia memulai semua ini dan caranya mengumpulkan potongan-potongan cerita. Rupanya dalam mencari ilham dan mentoknya bercerita, bang Udin hampir sama dengan ku. Dia tidak mampu menelurkan ide liar nya jika di PC,karena keterbatasan PC dengan tempat. dirasakan memang PC agak kurang mobile. Berarti sama saja dengan ku, ketika di rumah rasanya makin keselip saja Isi "OTAK" ku ini.
makin meluas saja obrolan,seiring tandas nya kulit dan daging si ayam bakar. Ku bakar satu batang rokok lagi biar longgar suasana. sampai lah pembicaraan itu menyentuh ruang tentang keluarga dan berumah tangga. Aku pun mulai kerasukan mengenai dialog ini, ia mulai menceritakan indahnya berkeluarga, dan pertengkaran-pertengakaran kecil yang sering terjadi pada pasangan serta cara penyelesaiannya, belum lagi nakal dan lucunya kedua anaknya yang sering mengganggunya ketika ingin menulis. Lamunan ku pun mulai melayang kepada seseorang yang terkasih,yah perempuan itu ku pandang indah lewat pikiran ku. perempuan itu mungkin bisa membuat pria istimewa barangkali (harap)…
Sempat terdiam beberapa menit untuk memulai obrolan yang mulai kurang bahan, bang Udin pun bercerita lagi tentang masa SMA dan kuliah. Cerita susahnya jadi anak kost, hikmahnya jadi anak kost, iri melihat teman yang sering jalan tapi dia sendiri tidak punya biaya untuk "berhura-hura", tentang korespondesi dia, baca-bacaan dia pada waktu kuliah, gilanya grup-grup filsafat. selain itu ada pula kesamaan dalam keinginan, yaitu ingin mempunyai laptop dan kamera D-SLR.duh…mantab benar rasanya malam ini.perut terisi, kepala pun makin berisi.
jadi selama 45 menit itu cerita berkembang terus, kalau saja tak ada batasan dengan deadline mungkin ini akan jadi obrolan ala Sumatra tinggal ditambah gitar, papan catur, dan kopi…huahahaha. Bang Udin mungkin terlihat pendiam dan cekatan dalam bekerja, tapi ia punya beracam cerita. awalnya aku pun segan dengan sosok ia di malam hari, tapi lama-lama mencair juga. Bayangkan pernah dua hari, suasana malam mendadak seperti toko kaset NewsRoom ini. Suasana yang jarang ditemukan pada siang hari…dari ceritanya itu melecut diri ku untuk maju mengembangkan diri,pasti ada jalannya apabila terus diasah. Mungkin kita harus mencapai tahapan belajar dulu lah, bersabar dulu aku nya. Terima kasih bang Udin, ini memang saat yang ku nantikan dan aku percaya cerita menarik pasti mengalir dari diri nya. Lebih baik bercerita seperti ini daripada gosip tentang buruknya kantor dan performa orang-orang kantor…
nb: kalo kata bang Oma…begadang jangan begadang kalo tiada artinya…coba deh lo sambungin dengan cerita diatas…hahaha