“Kocok Ulang” Cikeas
Panggung itu bernama Reshuffle…
Reshuffle terjadi karena adanya sebuah ketimpangan dan ketidakmampuan dalam sistem dan implementasi dari kinerja pemerintahan. "Kocok ulang" di tubuh kabinet bentukan Presiden ini menandakan kurang cakapnya pemerintah meramu jamuan saktinya untuk membentuk sebuah tataran negeri yang madani. Kita sebagai penonton umum selalu disajikan tayangan berulang kebobrokan ramuan tersebut. Tentunya ini merupakan hak Prerogatif ekslusif dari Presiden,tapi perhatikan kepentingan rakyat. Komunikasi Politik yang lembut sedang di lakoni dengan laku priyayi. Jangan sampai ini menjadi pretensi dari penggunaan hak prerogatif tersebut,dan sebuah representatif dari kepentingan partai politik. Apabila ini yang terjadi maka sangat riskan untuk berlanjutnya kinerja yang baik dari "kocok ulang" kabinet ini!.
Kali kedua setelah ramuan yang pertama kurang mujarab. Apakah ini pengingkaran janji atau pelumrahan dalam jalannya suatu manuver politik dari sebuah tangkup kepemimpinan?. Disini kasak-kusuk komunikasi partai politik mungkin bisa tercium. Konsep reshuffle yang di lontarkan,bak gayung bersambut akan jadi perebutan partai politik untuk menempatkan "orang-orangnya" di dalam tubuh eksekutif. Dan itu lumrah terjadi di dalam peta politik, karena politik adalah sebuah proses tawar-menawar yang mengesalkan yang bisa digerakkan oleh manipulasi, tanpa rasa malu, bosan, ataupun geli (Goenawan Mohamad).
Dari pencopotan menteri-menteri kurang beruntung itu dapat dilihat Presiden meminimalisir blunder politiknya,karena menteri yang dicopot tersebut tidak terlalu berpengaruh kedudukannya dan lemah figur nya di kancah politik dan kurang kuatnya partai politik yang ditunggangi oleh para menteri tersebut. Kali ini SBY rupanya merekrut kaum akademisi dan pemuda. langkah yang dilakukan dengan mengangkat Lukman Edy (Sekretaris Jenderal PKB) yang berusia 37 tahun dari kalangan muda partai menurut saya sangat ganjil,karena kalau dilihat sepertinya ini hanya pengisian dari sebuah kekosongan pos partai politik di tubuh eksekutif. dan PKB tidak mau kehilangan representasinya di dalam Kabinet Indonesia Bersatu.pencopotan ini tentunya mengundang kekecewaan dari beberapa parpol yang berbasis islam,karena mereka mengalami penyusutan di dalam tubuh eksekutif. Presiden pun melontarkan pernyataan bahwa ini tidak ada tekanan dari pihak manapun.saya rasa ini rentan dan sangat beraroma politis.
Garansi apa yang akan diberikan oleh Presiden dari Hak Prerogatifnya tersebut terhadap kemaslahatan rakyat?tentunya sebuah utopia yang akan digadangkan oleh Presiden,dan sifatnya sangat eksesif apabila ini tidak terealisasikan.
Mengapa perombakan ini tidak menyentuh tim ekonomi yah?…padahal jelas-jelas tim ekonomi tidak berjalan baik di dalam sistem pemerintahan.dan permobokan sekarang dilihat hanya menyentuh ekonomi macro berkaitan dengan inflasi,nilai tukar rupiah,dan suku bunga. Bagaimana dengan konsep ekonomi kerakyatan yang di lansir oleh Bappenas. Apakah perombakan ini bisa menyoal sedikit kebutuhan hidup rakyat,atau ini hanya sandiwara lagi guna meraih simpati karena ketidakmampuan.
menurut Francis Fukuyama,dengan menggunakan kata Rakyat dalam bermanuver politik,itu adalah masturbasi politik…seperti biasanya para politikus negeri ini selalu memakai bantalan,ini guna kepentingan Rakyat!…sial lagi-lagi inisial R besar di pakai,seperti gerakan aktifis yang sering nongol di semanggi dan senayan 97-98…ngehe,lo pada ngocok ulang,trus gw yang terima mentah muncratan sperma politik lo.masgul gw lihat manuver lo Bang…ga Rock ‘n Roll lo ah Jack!
sumbangan buat ode dinasti Cikeas!
nb: koreksi dan tambahin comment,jangan sekedar menghujat…harap maklum baru belajar berpendapat…
May 9th, 2007 at 9:51 pm
Bos…
Gokil tulisan lo! Udah banyak perubahan. Cuma kalo mau dibilang intelek tak perlu pake kata-kata dan istilah-istilah yang aneh di kuping. Lebih parah lagi kalo penggunaan kata dan istilah itu gak sesuai konteks kalimat. Ringkesnya, Keep It Simple Stupid, ups…Short!
Kalo tentang perombakan kabinet, gw khawatir ini hanya agenda elit politik yang menilai peristiwa ini penting dan baik untuk perubahan bangsa.
Padahal rakyat miskin kota, buruh, tani, dan mahasiswa gak peduli dan gak penting. Yang paling penting harga-harga kebutuhan pokok murah, akes pendidikan dan kesehatan murah serta mudah didapat, upah sesuai dengan kebutuhan hidup, harga pupuk gak mahal dan mudah didapat, harga jual padi mahal, petani punya lahan, gak ada lagi penggangguran, terakhir kalo mau usaha mudah dapat modal.
Saat ini pemerintah ada tapi tidak terasa. Dekat dengan masyarakat namun tidak menyentuh persoalan hakiki.