Pilihan ku atau pilihan-Nya…atau bisa terpilih

Di era male dominated, mungkin banyak kaum feminis maupun gender ini merasa tersisihkan dan tidak perlakukan dengan adil dalam hal persamaan derajat dan selalu menjadi warga negara nomor dua. Banyaknya tuntutan  untuk diperlakukan lebih baik dari kelamnya sejarah  hitam yang diterima oleh  kaum feminis, setidaknya sedikit membuka mata hati untuk melihat apa yang salah dari semua yang terjadi dan diterima oleh gender ini.

Banyaknya peristiwa atau kejadian belakangan yang harus diterima oleh kaum ini. Semakin memprihatinkan tampaknya. Banyak kekerasan yang harus diterima gender ini!, dan harus segera dibuat semacam perundangan, hukum atau peraturan (apalah itu), untuk melindungi gender ini. Belum lagi stigmatisasi buruk tentang pelacuran, padahal mereka hanya pelakon dan berperan kalau ada yang menonton dan membeli tiket "pertunjukan" itu. Lepas dari masalah kekerasan, saya menyoroti masalah tentang cap buruk tentang pelacur saja…tidak berani rasanya menyoroti tentang kekerasan terhadap perempuan kalau diri saja belum baik memperlakukan mahluk indah itu.

Seperti yang kita ketahui, mungkin kita masih rancu dengan kata Pelacur dan Pelacuran…apakah itu bisa disebut dengan profesi dan industri?

Pemikiran "jahil" ini muncul ketika saya sedang menonton salah satu tayangan TV berbasis pemberitaan, disitu membicarakan tentang posisi yang sulit harus diterima gender ini bila terjadi dalam wilayah konflik, misal Timor Leste, Afghanistan, dan berbagai wilayah Asia-Pasifik lainnya. Benar saja dalam satu wilayah yang dilanda konflik tentunya yang paling banyak menderita adalah perempuan dan anak-anak. terutama perempuan yang paling rawan akan bentuk-bentuk kekerasan dan penindasan hak suci nya. Contohnya di Afghanistan pasca berakhirnya dinasti Taliban, bukan berarti kebebasan mutlak akan didapat oleh perempuan Afghanistan. Justru disitu lah dimulainya persoalan baru. yaitu terjadi konflik dan peperangan yang dilakukan oleh kelompok sakit hati Taliban. Karena posisi yang paling lemah diantara "srigala-serigala gurun" itu, maka perempuan akan dijadikan objek kekerasan berikutnya, guna menghindar maka mereka mencari kehidupan lebih baik di daerah pakistan, dan perjuangan menyelamatkan diri itu belum juga berakhir, di negara ini karena tidak bisa memenuhi kebutuhan dan minim kemampuan ini, rata-rata perempuan ini dengan terpaksa melacurkan dirinya. hitung-hitung menyelamatkan diri secara semu. Dan kondisi ini pun tidak jauh berbeda dengan di Timor Leste, seharusnya kaum feminis ini mendapatkan perlindunmgan yang lebih justru mereka menjadi objek kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum polisi dan pemerintahan Timor Leste…ironis.

Kembali kepada masalah apakan pelacur itu merupakan profesi profesional seperti profesi "suci" lainya, misal Dokter, pilot, wartawan, guru, ibu rumah tangga, dll. Seperti yang ditulis R Valentina dalam bukunya, Pelacur VS His First Lady…apa yang membedakan antara seorang ibu/istri dengan pelacur?, seorang istri/ibu adalah figur yang disucikan oleh negara, sedangkan pelacur hampir semua sepakat adalah perempuan yang menjual tubuhnya kepada sembarang laki-laki, dan identik dengan nista dan dosa. Jelas tampaknya, perempuan yang terjebak dengan pilihan profesi pelacur ini tidak bisa lepas dari stigma negatif dari publik umum. padahal ini bukan merupakan pilihan jika saja mempunyai pilihan lebih baik dari mereka, justru ini merupakan identitas dari cerminan negara tersebut apabila banyak terjadi kasus pelacuran. sudah pasti pilihan perempuan ini identik pula dengan kemiskinan, bobroknya sistem dan rendahnya pendidikan bagi perempuan di negara tersebut, penerapan salah dari budaya kedaerahan serta patriarkal yang dominan, sistem politik.

Dan dikaitkan dengan kata pelacuran, apakah bisa ini dikaitkan dengan sebuah industri yang menghasilkan tambang emas bagi sebuah negara. Kita tidak perlu menutup mata akan hal ini atau pura-pura tidak tahu. Tidak ada sebuah negara pun yang tidak ada Industri seks nya. Rasanya tidak ada satu pun negara di dunia ini yang bersih dengan industri ini, malah industri ini disebagian negara ada yang dilegalkan dan menghasilkan pendapatan yang besar bagi negara tersebut. Termasuk pula di Indonesia sekalipun. Jadi kalau kita ingin menyalahkan tentunya kita bisa menunjuk kepada siapa pemanfaat Industri ini, bukan lah personal pelaku/korban dari industri ini yaitu PSK tersebut.

Saya pernah punya pengalaman ketika sedang ikut meliput dengan kawan, dan kebetulan saya sempat menjadi Camdak (Cameraman Mendadak). kami mengikuti operasi penertiban yang dilakukan Pol PP. tiba di kali Angke, disitu banyak pelacur kelas bawah mangkal, dan berlarian lah mereka (pelacur dan waria) ketika mengetahui ada Pol PP. sebagian diri menyeburkan tubuh mereka ke dalam kali hitam pekat yang bau nya mneyengat agar tidak terjaring. Saya masygul melihat kejadian tersebut, dalam hati susah sekali mencari pekerjaan di Jakarta ini dan betapa beruntungnya  saya ini yang dibekali orang tua berada, sehingga cukuplah pendidikan ini serta hidup berkecukupan, sehingga tidak sampai pada titik nadir seperti itu. Para PSK dan Waria yang terjaring lalu dibawa ke panti rehabilitasi guna dibimbing, sebelum itu mereka di data dan diinterogasi, rekan-rekan jurnalis lainnya pun tak mau kehilangan momen ini lalu melakukan wawancara dengan beberapa PSK. ditengah berondongan pertanyaan dari kawan-kawan jurnalis, tiba-tiba terdengar celotehan yang didengar tidak pantas…"giliran kesorot TV lo tutup muka, pas NGEWE lo ga malu"…salah satu petugas Pol PP berkata seperti itu, kontan saja beberapa rekan Pol PP lainnya memperingatkan ia, dan berkata "he ada TV loh". Dan seorang Jurnalis pun tampaknya kesal lalu bilang, "lo ngomong yang bener, kerekam suara lo!".

Benar saja, coba kalau PSK ini nasibnya seperti saya. mungkin pilihan ini bisa dibuang jauh-jauh dari pikiran mereka. Sedih rasanya apabila membicarakan keberuntungan dalam hidup. Mungkin ini sedikit repesentasi tulisan singkat yang bisa diambil dari perasaan para pelacur-pelacur tersebut. Tentunya kita tidak bisa menjadi malaikat atau pun Tuhan, yang bisa seenaknya membuat stigma, hinaan, penuduhan. dalami dulu mengapa ini bisa terjadi dan rasanya tidak bisa dipecahkan.

NB: jangan menghina, kalau belum merasakan pahitnya hidup…

One Response to “Pilihan ku atau pilihan-Nya…atau bisa terpilih”

  1. yo Says:

    “tidak berani rasanya menyoroti tentang kekerasan terhadap perempuan kalau diri saja belum baik memperlakukan mahluk indah itu..”(Paragraf 2 alenia 8)
    yup..gentle..rangkaian kalimat yang tetap, jangan sok membela kaum kami bila masih memperlakukan istri semena-mena, jangan berkoar membela bila masih menghina pembantu RT,dll. tidak pantas rasanya bila gender ini di perlakukan kasar dan semena-mena..padahal gender ini mempunyai andil yang cukup besar membuat peradapan manusia berkesinambungan..

    satu kalimat yang sangat saya sukai dan itu nyata “seorang lelaki akan menjadi tokoh besar karena terdapat perempuan istimewa di belakangnya..”)

Leave a Reply