hahaha…akhirnya lepas dari penat selama sepuluh hari, mau tahu ceritanya…
bekerja selama setahun lebih tanpa hiburan berarti, terus dipaksa dengan rutinitas menjemukan tanpa sesuatu yang berarti, memaksa otak gw cari cara nyari tantangan yang hilang selama empat tahun…berpetualang kembali, menguji untuk berada di titik nol kemampuan diri.
bekerja dengan waktu shift pastinya kita punya waktu libur yang terbatas dan tak tentu. untuk menikmati sabtu-minggu itu hanya sebulan sekali. gw cari cara gimana caranya dapet cuti sabtu-minggu tambah enam hari biar jadi sepuluh hari. Pas banget bulan Juni ini gw dapet libur Sabtu-Minggu,9-10 juni. gw ‘ga mau kehilangan momen buru-buru minta cuti dari hari Senin-Senin, 11-18 Juni…mantab…alasan ke Batam ada urusan keluarga.
Setelah tayangan Lintas Pagi Akhir Pekan Sabtu kelar siaran, dimulailah kebimbangan menentukan pilihan…mau kemana yah gw ini. SMS dari teman masuk memberikan jurnal ia mengenai petualangannya. Kebetulan ia berada di Lombok baru turun dari Tambora. Semula hati ini memantapkan tujuan menuju Batam, sibuk konfirmasi dengan sahabat ku disana, kalau saja jadi ke Batam mau kemana dan ngapain aja. Dikarenakan ia hari biasa bekerja. Gw iseng aja balas SMS teman di timur Indonesia itu, "lo enak plesiran mulu, gw bingung nih cuti ga ada tujuan"…SMS DITERIMA…SMS DIBALAS…"kesini aja, hari Senin jam 9 gw naik Rinjani". ah, ‘ga penting menurut gw. rencana hati ingin bertemu dengan kesayangan, buat lepas penat. tapi ia sibuk dengan urusannya. lagipula siapa gw?!biarlah gw pake hari ini buat istirahat menenangkan pikiran dan mikir seribu kali mau kemana liburan. Sunday morning, gw pengen denger ah suara pagi…niat mengembalikan bukunya, agar niat tersirat untuk melihat parasnya yang jelita terobati menjelang liburan panjang. Tapi ia punya rencana ingin beshoping ria, yah sudah lah…iseng-iseng menelpon teman di timur Indonesia…seperti kebo dicucuk lobang hidungnya, provokasi populer itu membius ku…
Putar haluan dari ranah Andalas menuju timur Indonesia, Mataram-Lombok. Sesegera mungkin mencari tiket pesawat untuk ngejar Rinjani, Senin pukul 09.00 WITA. Muka gw pucat setelah mengetahui tiket Minggu, 19.00 WIB, penerbangan terakhir Jakarta-Mataram diberi harga 1 jt. Gila gimana nih, masa kesempatan yang tertunda selama empat tahun hilang begitu aja gara-gara tiket pesawat…masa bodo, pesen aja urusan susah belakangan. Tinggal transfer dari Jakarta…hihihi (nodong emak). Urusan tiket kelar pukul 13.00, siap-siap packing peralatan tempur untuk mendaki puncak ketiga tertinggi di Indonesia, MT. RINJANI…berhubung rencana mendadak, sibuklah gw tilpan-tilpun dengan sang provokator Wahyu, untuk nyiapin carrier,senter,logistik, dll. Gw cuma bisa bawa daypack hijau, lipat baju sampe sekecil-kecilnya enam stel, underwear biar ga gatel, jaket 2 pasang, celana Jeans 2 merek, celana panjang, celana pendek 2 pasang, peralatan make up buat modal cantik dikota, kamera pocket digital, sendal Boogie…semuanya tumplek dalam satu packging yang sempurna demi kenyamanan perjalanan. Pesawat Take off dari Jakarta…
Selama dalam penerbangan, gw ‘ga bisa tenang…banyak berdoa, sebagai orang berlatar belakang broadcasting, pastinya gw banyak dapat input yang menyeramkan dari semaraknya penerbangan Indonesia. Bayangkan saja ketika pesawat menembus awan pasti lampu dari luar kedap-kedip kan, hati gw langsung dag-dig-dug. belum lagi guncangan yang ga jelas. gila ini mah nyerahin nyawa 50-50. Akhirnya tiba dengan selamat di Bandara Mataram pukul 21.55 WIB, tapi lebihkan satu jam untuk daerah WITA. Belum selesai jet lag gw, mau keluar dari bandara itu udah serasa artis. orang-orang diluar berkerumun ratusan menunggu dipintu keluar, WAW…fenomena apaan ini yah, serasa paling ganteng aja gw jadi pusat perhatian. Gw pun bertanya sama Wahyu yang menjemput gw di Bandara…"itu pada jemput TKI yan, disini kan daerahnya TKI"…oiya setelah mendengar penjelasan singkat dari Wahyu gw pun mengerti. Putar-puter sibuk cari logistik dengan teman-teman baru Mataram ku, Kudri, Yeyen, Udi. Ternyata perut gw ga bisa kompromi lagi, dia lupa gw isi dari siang..hehehe. Kali ini langsung makanan khas Lombok jadi korban keganasan perut gw, Ayam Kaliwang…Gila Jack, pedesnya bukan main, mulut gw udah kaya ikan mas kena pancing.
Santap malam selesai, langsung tancap gas menuju Praya Lombok Tengah…disana kita pun berbasa-basi dulu menjelang keberangkatan esok pagi ke Rinjani. Ibaratnya orang mau mendaki gunung es, tentunya ada proses aklimitasi (penyesuaian suhu). gw nikmatin dulu hawa lombok dong, karena masih ‘ga percaya bisa ke Lombok hanya dalam hitungan Jam untuk buat keputusan dan putar haluan. Anggur merah gw seruput buat menghormati dan tanda perkenalan tuan rumah, dalam hati gw pikir ini hal gila…bayangkan kalau aja gw "lewat" di Rinjani bisa berabe nih. cepet-cepet gw berdoa mohon pemakluman…hihihi. waktu semakin malam, gw ijin diri untuk rehat sejenak biar fresh pagi harinya. Mentari pagi bersinar ramah, gw ‘ga menyia-nyiakan kesempatan untuk mengotori udara bersih dengan kepulan tembakau gw…hehehe. Selesai bakar paru-paru, Topan (guide) mengajak kami untuk berkeliling sambil melihat Rinjani dari kejauhan dan sedikit mengintip jalur yang akan di daki. hitung-hitung ngelonggarin urat kaki sama paru-paru, kami jalan santai mengelilingi beberapa blok. Gw coba ngereka-reka jalur, ini jalur bakalan parah nih. Pukul 08.00 WITA siap-siap packing, kurang lebih pukul 09.00 WITA langsung cabut. ‘ga pernah terpikir bakal bawa carrier sama daypack akhirnya kejadian juga gw bawa beban dua sekaligus…sial! mana napas senin-kamis.
Selama perjalanan menuju sembalun dari Aikmel, lo akan dibuat kagum oleh lanskap sekitar…ini yang bisa sedikit nyaingin jalur ini adalah Lawang-Ranu Pane…standby terus yah kamera, karena kendaraan disini supir-supirnya sekelas F1, ga ngertiin banget…beda sama di Semeru, kita bisa minta supir untuk berhenti dijalan untuk motret.
tiba di Sembalun Lawang pukul 02.00 WITA, dimulailah petualangan kami…peralatan tempur modal celana pendek kaos oblong sedikit olahraga kecil, biar ‘ga kaget di mandala peperangan. Awal perjalanan carrier gw ‘ga bisa kompromi, doi narik urat bahu gw. salah packing nih!…penderitaan itu berakhir di pos II. Besok pagilah packing ulang. Urat gw semua mendadak kenceng. Packing ulang ah, dan ternyata semua beras sama gw. logistik penuh di gw, air, nasting, kompor, tabung gas, full…sial!. gw coba perbaikin packingan temen gw, eh ngehe carrier doi isinya cuma sleeping bag, tenda, ma baju…pantesan doi ngebut. Ternyata logistik dan beras dilimpah tugaskan di gw, kurang ngajar. gw oper aja langsung beras sama logistik sebagian, biar rata!.
Perjalanan terasa lebih enakkan setelah packing, nah ini baru bener setelannya…disini ada dua opsi jalur yang menyesatkan, ada bukit penyiksaan dan ada bukit penyesalan…dua jalur ini beda dua jam, gw saranin pilih jalur bukit penyiksaan lebih cepat walaupun tracking abissss!. Akhirnya tiba juga di Plawangan Sembalun. Lanskap disini keren abis jack!…mana disini banyak bule nge camp…ada yang buka baju cewenya, ada yang tos make bir, trus foto-foto make lensa tele padahal jaraknya buka setengah meter, bego tuh bule…sampe lebaran haji juga ‘ga bakalan fokus…hahaha. Sunset cing!…langsung gw setel Black Crowes (Hard to Handle), biar sedikit Rock ‘N Roll suasana, dan berdisco ria dengan Blair (Have Fun Go mad). terus ditutup dengan Reggea Party Steve&Coconut (Welcome to My Paradise)…goyang semua tuh seisi Plawangan Sembalun…hahaha.
Pukul 02.00 WITA, kami ngacir ke puncak. Dasar nasib sweaper, terpaksa makan debu sama pasir dari merosot dan seretan kaki teman-teman. Menuju puncak dari Plawangan Rinjani disini perbandingannya 1:1 1/2 langkah, karena medannya pasir batu. Tenang aja masih sulitan Semeru tracknya. Adu balap sama lampu dibawah, gw pikir nih porter yang ngejar, tahu-tahunya bule jack!…waduh ini tanah pribumi, jadi harus pribumi dulu yang nginjak tuh puncak! semangat gw pun membuncah, segera menyadarkan teman-teman dari rasa lelah.
Sejam menuju puncak, beberapa teman sudah mulai tertidur dan merebahkan tubuh dibalik batu, menghindar dari dingin dan angin. Berhubung saya sweaper yang setia semenjak dari awal perjalanan, rasa egois akan puncak pun mulai mendominasi…gw ‘ga mau kehilangan sunrise dan kalau berhenti akan dingin, saatnya gw didepan tanpa harus stres dibelakang. dan saat itu gw pikir jalur toh sudah jelas. gw tinggalkan teman-teman, betapa terkejutnya gw ternyata Dwi (Badak Perempuan) ngikutin gw…hebat!. Cuaca tidak bersahabat, badai…gila lo,muka sebelah kiri gw beku. Tapi Dwi anteng aja melenggang kangkung menahan dingin. Topan pun berlari menyusul…"Pan anak-anak kemana", tanya ku. "ga tahu pada tidur", jawabnya singkat. ah pikir, kami bertiga mereka akan menyusul mungkin. Angin pun semakin kencang, dibelakang daypack gw ada bunyi ‘ga beres nih, gw was-was cover bag mental nih. Napas mulai tersengal-sengal kehabisan oksigen…baru pertama kali nih gw naik abis napas bener-bener.
Dwi dan Topan berada 100 meter didepan gw, gw memanggil Dwi untuk break karena cuaca semakin tidak bersahabat…teringat pesan dari sahabat, "Remember bro, puncak itu cita-ita tertinggi. TUJUAN UTAMAnya adalah kembali ke rumah dengan selamat", itu pesan singkat dari sahabatku Irfan Hendrian menjelang keberangkatan gw pas di bandara. Tapi dasar bareng guide muda usia, dibabatlah suasana mencekam ini. gw dah bener-bener kehabisan napas…ada batu besar dipersimpangan, gw lihat Dwi sama Topan salaman…INI PUNCAK…ngumpulin tenaga, start jongkok..GO…sampe juga gw…"Pan mana puncak", tanya ku penuh penasaran…"masih 5-10 menit lagi", jawab Topan ringan…"lah tadi kenapa pada salaman", tanya gw lanjut…"orang kita ada bisnis", sambung Dwi sambil terkekeh-kekeh melihat ekspresi gw yang keheranan. Sial ketipu gw…rehat sebentar menunggu teman-teman dan cuaca kami mengobrol ringan berlindung dibalik bebatuan. Akhirnya cuaca mulai membaik, tanpa buang waktu jalan lagi. Hore puncak idaman ketiga sampai juga. Disini penyakit narsis gw kambuh dan semakin akut…buka baju ah, ajak Opan…wih boleh juga tuh, siapa takut. sedikit selebrasi ala Fruit Tea yang sengaja ku siapkan dari bawah, sedikit potongan coklat menghangatkan suasana kami bertiga. Puas dari puncak kami kembali ke leter S batu besar. "kayaknya anak-anak ga nyusul nih, kita turun aja deh", ajak gw biar ‘ga terlalu berlama-lama di puncak, karena matahari mulai naik.
Gw pikir nanti turun bisa surfing ria, ternyata jalurnya pasir batu…ogah balik-balik badan pada beset. Gw sama Dwi sibuk potrat-potret, mumpung belum jauh dari puncak dan pemandangan oke banget. Ternyata teman-teman gw yang tidak jadi muncak menunggu di tengah jalan, Wahyu KO, Kristian tidak bisa ambil keputusan, dan Suleh jadi korban keputus asaan Kristian.
Tiba di Plawangan Sembalun, ambil air buat persiapan ke Segara Anak. Jalur turun menuju Segara Anak dari Plawangan Sembalun harus siap-siap kaki hancur yah, karena jalur disini turunan terjal plus batu. Kepala gw pusing turun lewat sini, kaki menghentak keras dibebatuan. Apalagi sepatu gw boot, mana bekas kerikil puncak suka nyelip di kaki. jadi sepanjang jalan, jalan gw kaya siput berusaha meredam hentakan kaki dan menahan kerikil. Tapi semua stress itu bisa terobati di Segara Anak, suasana tenang dan damai di keheningan danau. Di Segara Anak banyak sajian loh, kita bisa mancing, ke utara dikit ada air terjun plus air panas, agak ke timur 30 menit bisa mandi sauna di goa susu. Di Segara Anak kami coba beristirahat mengumpulkan tenaga untuk turun, seperti kebiasaan gunung Jawa. Jalur track turun pastinya sudah bisa dibayangkan dong, lancar terus sampai bawah. Tapi disini beda kita harus naik dulu jack! mana jalur tebing, dalam hati gw sial banget sih nih, ga ada habisnya nyiksa gw. Ditengah kejenuhan, gw masih bisa lihat puncak Rinjani…"Lo mo kasih gw jalur kaya mana bakalan gw tempuh deh", gw terharu ngucap kaya gitu karena usaha keras gw terbayar oleh keindahan Rinjani. Ternyata ucapan gw dibayar Jack! sama Rinjani. Selepas Plawangan Senaru jalur kering dan tanah pasir…duh, mana gw make sendal…sengsara deh nih, tambah lagi luka. Mana otak sama kaki dah ga kompatibel lagi jalannya, meleset terus. sampe kata-kata makian terucap, dan yang bikin gw sewot, si Wahyu sempet-sempetnya lari, terpaksa gw suruh duluan dari pada nabrak gw!. Kejutan lain, buka mie instan dan telpon. Waduh gw yang udah jenuh sama jalur ga habis-habis, terpaksa gw duluan ninggalin dia untuk masuk hutan berlindung dari panas. Gw kalo turun paling demen track hutan, biar stress, kalo lari ‘ga sakit. Masuk hutan lah sudah, ga ada acara meleset lagi. sampe Pos III, Topan bertanya sama gw, "mana mba’ W". "Nelpon", jawab gw kesal. "biarin aja ah, jalur jelas ini terus gw cape nungguin. mana panas,terus jatuh mulu", tambah gw. Setelah kumpul semua, kita coba susun formasi biar cepat sampai Nol KM. Perasaan gw yang daritadi ‘ga enak takut penyakit sendi Wahyu kumat gara-gara lari, terjawab. Wahyu terseok-seok, jalannya menggeser tanah…waduh masalah nih, ga bakalan keubuer jam empat sore. Mana ke Nol KM itu masih empat jam, bayangkan empat jam itu jalur turun. Ini jalur Stress berattttt!!!. Campur aduk perasaan, jengkel,lucu,kasihan,marah,sedih…udah bertumpuk dikepala. Akhirnya perjuangan panjang itu usai setelah berjam-jam melihat patok jalan yang ditempuh lama cuma berkurang 0,5 km.
Dari desa Senaru kami naik angkot, gw sama topan milih bagian VIP…atap mobil buat lihat pemandangan. Baru pertama kali gw lihat sunset segede pantat panci penggorengan didepan mata…kuerreeennn aabbiiiiissss!!! Matahari di ufuk barat mulai tenggelam. Peradaban akhirnya bisa dirasakan lagi, langsung dinner di rumah Udi, makan Ayam Kaliwang. Busyet, perut belum keisi dah dihantem sama pedes, tapi urusan belakang yang penting happy…hahaha.
Selesai dinner, Topan pamit ke Praya. Tapi gw bilang sama Topan, besok gw mesti nginep Praya. Kami pun segera menikmati hembusan malam angin pantai Senggigi, kudapan jagung bakar dan sekali lagi PEDAAASSSS…ga ada matinya. Ada lagi yang buat gw ngidam di puncak FANTA MERAH!.
Sabtu pagi beberes untuk membeli beberapa oleh-oleh di pasar. Gw sibuk luluran biar kulit yang gosong dan pecah-pecah cepet hilang, lumayan mempercantik diri. Pukul 15.00 WITA, gw sama Topan cabut ke Praya sambil bopong tiga carrier, gila tuh pegel banget mana naik motor. Kami berdua langsung mengarahkan haluan menuju Kuta setelah menaruh carrier. Mapir sebentar di SADE, desa wisata suku Sasak. Pernak-pernik dan rumah adat cukup bikin gw berdecak. Di Kuta mulai Sunset, pasir putih yang luas…WAW…cukuplah merenung menikmati kecantikan Kuta yang ku padankan dengan paras seorang gadis kesayangan. Tenang hati ini, setelah kemarin berada di atas awan sekarang berada di pesisir.
Minggu, 17 Juni. Gw harus mengalah sama waktu, kalau ‘ga bisa kena SP 1. Belum sempat gw melepas kangen dengan berfoto ria sama Topan, gw harus berburu dengan waktu untuk mengejar penyebrangan jam tiga. Apa lacur perpisahan itu berakhir dengan genggaman tangan dan pelukan kawan sejati. "maaf pan, sampai ketemu lagi", beberapa patah kata yang mewakili kekecewaan karena kurangnya waktu.
Gw pun berpamitan dengan teman Mataram dan Praya hanya melalui SMS, beribu terima kasih karena keindahan alam dan keramahan kawan di ujung pulau…empat jam penyebrangan itu ku lalui dengan perasaan kehilangan sangat, belum pernah gw merasa kehilangan dan rindu yang memuncak terhadap suatu tempat, dan itu LOMBOK!. Di buritan, ku habiskan pandangan dengan memandangi Rinjani yang angkuh memasak bumi. I’ll be Back Rinjani…sampai benar habis pandangan itu seiring Matahari yang lelah memancarkan suryanya. Ku rindu ia (gadis itu)…
nb: ini kali pertamanya gw naik pada make senter korek api…gila ga safety procedur man!!!
tak ada yang bisa dibeli, biar alami…akan hancur semua demi komersialisasi…
tak rela rasanya perjuangan tanpa lelah demi sebuah kekasih (puncak) itu terenggut dengan kemewahan duniawi…
lagu wajib…WELCOME TO MY PARADISE
nantikan tentang RINJANI berikutnya