Archive for August, 2007

Independensi Redaksi Televisi, Sudahkah Terwujud

Tuesday, August 28th, 2007

Televisi sebagai salah satu media periodik masuk pada ketegori media elektronik mempunyai pengaruh besar pada pandangan, konsep hidup publik/masyarakat dan bersifat konstruktif dan destruktif. Konsumsi publik sekarang lebih banyak memperoleh informasi dari televisi, mengapa demikian? karena dalam penyajian, keaktualitasan, dan kecepatan, televisi mampu menjangkau ketiganya. Ditambah dengan bebasnya televisi dapat masuk ke ruang privat pemirsanya, dan lagi pemirsa/publik juga dapat meperoleh sebebas-bebasnya informasi dan hiburan dari televisi karena dukungan teknologi sekarang ini.

Pada saat ini jumlah stasiun televisi nasional berjumlah sebelas, belum lagi ditambah dengan televisi lokal, kabel, dan setelit. Maka pemirsa dapat mengakses informasi dan tayangan sesuai dengan selera mereka sendiri. Mungkin ruang ini saya akan persempit kepada permasalahan fenomena penyeragaman yang terjadi pada sejumlah televisi nasional. Pada saat ini pemirsa mempunyai hak atas penerimaan informasi yang cerdas, bebas, dan dinamis. Sedangkan tren televisi mengarah pada proses pengakuisisian beberapa televisi guna "menyambung" hidupnya. Jadi proses jurnalisme dan penyajian program bersifat mendidik akan terpengaruh bagaimana menghasilkan rating dan share yang tinggi untuk menggaet iklan dan sponsor.

Tren dan era televisi sekarang ini lah yang agak sedikit mengaburkan makna mendidik, menghibur, dan mengawasi. Malah akan menjadi semacam penyeragaman pada setiap program televisi, bukan keragaman. Mestinya pemirsa akan mempunyai banyak pilihan dari kuantitas televisi di Indonesia ini. Pada kasus yang jelas adalah bagaimana TransCorp meng take over TV-7 dari kelompok Kompas Gramedia yang dilebur menjadi Trans-7. Menurut saya ini merupakan pembunuhan karakter dari media yang sedang berkembang, serta menghilangkan kesan dari para karyawan TV-7 tersebut. Dengan komposisi kepemilikan 51:49, TransCorp mengubah TV-7 menjadi Trans-7. Belum lagi dengan masuknya Star TV di dunia pertelevisian indonesia, Perusahaan milik raksasa media, Rupert Murdoch, itu membeli saham 20 persen milik Anteve. Pada awal produksi era "pembaharuan" Antv, Antv banyak merubah programnya. Antv pun memperbaiki citra yang bersifat keras dan mistis dengan  elegan dan ekslusif. Mereka pun menarik  punggawa jurnalis SCTV, Karni Ilyas untuk merombak citra pemberitaan Antv. Sedangkan MNC, yang agak diperjelas dengan membuat segmen pada martirnya, terkadang juga tidak konsisten dengan segmen mereka sendiri. Sekali  lagi para group ini, memandang rating dan share adalah "mahkota" yang harus didapatkan guna mencapai mahligai kebahagiaan industri.

Adanya penyeragaman baik itu di bagian program produksi dan redaksi, lama-kelamaan akan menjadi semacam plagiarisme dalam penyampaiannya. Sekali lagi saya membuat ruang sempit pada pembahasan ini. Redaksi lah yang saya sorot, setiap jurnalisme akan mengenal lima prinsip jurnalisme, yaitu, akurat, fair, objektif, seimbang, tidak memihak. Lima prinsip ini akan berjalan dengan baik pada produksi dan pasca produksinya apabila jurnalis bekerja dengan independen, tidak tergantung pada pihak manapun, dan angle pemberitaan akan kaya dalam content materi berita tersebut. Dengan  banyaknya para group yang menguasai pertelevisian nasional, apalagi dengan masuknya salah satu raksasa media luar negeri, maka kepentingan dari luar akan mempengaruhi pemberitaan nasional, dan ini menyebabkan berita akan berat sebelah. Selain itu setiap kebijakan redaksional juga terpengaruh untuk mengejar rating dan share, kemungkinan pada setiap rapat redaksi rating hal itu akan selalu menjadi pembahasan utama, dan penempatan materi agar pemirsa tetap" terjaga matanya".

Independensi pertelevisian berkaitan dengan era industrialisme media, kemungkinan masih dalam harapan daripada kenyataan. Seperti yang diungkapkan oleh Didik Supriyanto, "Lima belas stasiun televisi nasional, seharusnya memungkinkan adanya variasi dalam pemberitaan televisi. Namun yang terjadi keseragaman". dari perspektif Didik, maka diharapkan televisi seharusnya mampu merubah perspektif tersebut dan dapat menggali sisi luar/lain dari peristiwa agar terlepas dari dominasi peristiwa yang muncul dipermukaan dan layar televisi swasta nasional.

Keseragaman tersebut terjadi karena kepentingan pemilik media yang sudah "bertaruh" untuk uangnya. Memang media elektronik ini lebih banyak menguntungkan dibanding media cetak, sehingga industri ini banyak peminatnya. Dari hal di atas, ada implikasi menyebutkan bahwa ada yang hanya mengejar rating. Jadi tidak aneh, beberapa program yang berkaitan dengan kekerasan menjadi alat jual yang baik, saya pun sempat bingung ada apa di benak masyarakat Indonesia yang menggemari tayangan dan program kekerasan. Padahal menurut saya dengan keseragaman pemberitaan kekerasan di televisi nasional, akan menciptakan modus-modus baru dalam dunia kriminal, masyarakat akan terus berpikir akan melakukan alternatif lain untuk "menghilangkan jejak" yang baik dalam dunia kriminal. Sampai kah para pemegang kebijakan redaksional berpikir sampai kesana?. Padahal yang sifatnya pengulangan itu mempunyai dampak memori yang panjang di otak. Bayangkan tayangan tersebut disajikan pada jam-jam potensial pemirsa untuk menontonnya. Apalagi ada istilah berita "titipan", yang terkait dengan pemilik modal atau jajaran media tersebut, guna ajang publikasi dan mediasi dengan pemirsanya atau publik. maka prinsip pers bebas dan independen akan luntur. Lama kelamaan ini akan menjadi preseden buruk.

Kemana fungsi media sebagai sarana pendidikan, memberikan informasi yang baik, dan hiburan. Padahal jelas dalam pasal 36 UU no 32 ayat 1 tahun 2002 tentang penyiaran jelas disebutkan. Selain isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, dan hiburan. Isi siaran harus bermanfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak dan moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.

Yang terjadi justru semua agak melenceng dari pendalaman pasal tersebut. Kini semua beralih pada seni plagiarisme (keseragaman) untuk kepentingan kapital dan penyambungan hidup. Masyarakat berhak atas intelektualitas, kehidupan, dan pemikiran yang cerdas. bagaimana mungkin media menjadi salah satu mediasi masyarakat atas haknya itu mengaburkan semuanya.

Akankah juga bisa terwujud gambaran Independensi media yang bebas, mandiri, dan akrif. PR yang masih panjang dalam perjalanan kebebasan pers media Indonesia pada saat ini. Dan terus mendulang dalam alam mimpi.

Ke Mana Arah Pertelevisian Kita?  (Suara Pembaruan, 26 Agustus 2007)

NB: Saya adalah salah satu awak media televisis swasta nasional…ironi…koreksi bila salah…mohon pencerahan                                                                           

HIMAPALAM BERPESTA

Sunday, August 26th, 2007

HIMAPALAM berpesta!
Kami komunitas, kemarin kami tuntaskan hajat seiring menyambut kemerdekaan republik ini, maka kami turut merdeka dari segala bentuk kaitan kapital.

Dari bawah pohon angsana, mimpi-mimpi itu seiring berkembang manjadi nyata. Ide dan mimpi terwujud dengan kerja keras. Ingin pendakian ekspedisi, tinggal bikin program keja (proker) tulis di white board. Outbound, outing, family gathering, tinggal sebar pamflet sederhana, atawa tawarkan kepada perusahaan, ada yang tertarik tinggal buat perencanaan, strategi games dan materi acara yang baik, langsung diselenggarakan secara sesingkat-singkatnya sampai tuntas. Perlombaan mancing, lari aja ke papan tulis, besok langsung ngerancang strategi. Rafting, sekali lagi, mimpi itu tinggal buahkan melalui tulisan di white board ajaib, esoknya kita berangkat mengikuti alur jeram. Latihan fisik, pancing saja dengan tindakan nyata, massa pun akan bertambah meramaikan suasana. Sekarang mimpi kami ekspedisi dua tim, tim Rinjani dan Kerinci Seblat. Dan Kemarin kami mempunyai ide gila berpesta , games untuk masyarakat sekitar dan kami.
awal perencanaan adalah menentukan games menarik, setelah itu perencanaan biaya dan logistik apa yang diperlukan, setelah itu UGD (urusan gali dana) dengan urunan sukarela, kumpul uang beli alat-alat untuk hari H.

Hari H
Kebiasanaan orang indo pasti ngaret dari waktu yang ditentukan. Acara pertama suguhan untuk masyarakat sekitar. permainan berjalan dibambu panjang, memecahkan balon di air, dan mengejar bebek yang dilepas ke tengah empang. Setelah acara untuk masyarakat sekitar, maka giliran kami yang berpesta. Dua tim, tim merah dan putih. Permainan sedikit kami ubah untuk menarik dan meriah penuh canda tawa. Berjalan di atas bambu, dayung ban karet, gebuk bantal di atas ban, giring bola dengan arus, dan kejar bebek. Tim Merah, sesuai namanya badan lebih kekar dan perkasa (gw ada disana loh..hehehe). Tim putih, standar lemah…hahaha. Pesertanya pun ditidak mengenal umur, tua muda tidak ada batasan. Permainan dimulai dengan melintas bambu dengan bumbu lumpur, jadi tambah licin. Tim Merah kandas dengan skor 4-7, merasa dikalahkan, kami niat balas dendam dipermainan berikut, yaitu dayung ban karet secara estafet. Kami pun menang dengan jarak yang signifikan dari tim putih. Lanjut terus gebuk bantal di atas ban, anehnya kami semua mulai kehilangan orientasi untuk mencari kemenangan. Jadi dipermainan ini tidak diketahui siapa pemenangnya. Lalu diteruskan dengan menggiring bola dengan arus, secara permainan kami menang, tapi disini mulai keceriaan yang muncul. dan permainan ditutup dengan mengejar bebek.

Hari itu tidak ada yang tak mandi lumpur, semua mandi dan makan lumpur. wajah tertutup lumpur, rambut mengeras, kulit ini hitam legam terbakar matahari ditambah lumpur pekat. Badan yang sudah kotor terpaksa harus mengering menunggu giliran membersihkan mandi, seperti kuli harian, kami menunggu giliran sambil duduk melepas lelah, kopi, rokok, serta kudapan. Persis kuli, canda pun mengalir membahas permainan dan menunjuk korban untuk diejek. Kelakar hari itu, melupakan duka kami semua, seperti lumpur yang menempel ditubuh, terkena air maka bersihlah tubuh.

Acara pun ditutup dengan membakar satu kompi ikan yang mabok, muncul ke permukaan air, dan ayam sajian super market. Sekapur sirih dari Ketua Pelaksana (Ketuplak) mengenai suksesnya acara, dan ketuplak menginginkan acara rutinan (gile bos males bilasnya). Pada awal permainan padahal ada semacam sistem kompetisi, tapi kemenangan milik bersama, yang penting berkumpul dan silaturahmi membakar dan menghapus konflik yang ada. Itulah cinta kami, kami semua seperti keluarga yang menyimpan konflik tersendiri. Haram berdendam tapi harus berargumen, tawa adalah penawar, sedih adalah pengingat, haru merupakan doa.

Esok kita berbuat apa kawan?…

Selamat Merdeka!

Thursday, August 16th, 2007

MERDEKA!!!

Kata ini akan bergema tepat tanggal 17 Agustus, pukul 8.00 WIB. Mungkin sebelumnya kata ini sering disebutkan tiap ada kesempatan yang bertajuk tentang kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme. Apalagi jargon-jargon politik mengatasnamakan kerakyatan, pastinya ada misi memerdekakan sesuatu yang terkungkung atas hak yang berhak diperoleh oleh rakyat.

Berkaitan dengan kata merdeka dengan penekanan "Merdeka!", pada pagelaran tahunan bertepatan dengan 62 tahun Indonesia merdeka. Sudah merdeka kah kita?. Apa arti dari kemerdekaan untuk rakyat Indonesia itu sendiri?, "pesta" tahunan ini pasti berakhir dalam satu harian dengan berbagai macam hiburan ala rakyat jelata, atau paling pantas adalah pentas pasar rakyat. Hiburan ala binatang, harus berela kotor memanjat batang pohon mati dengan dilumuri pelumas untuk hadiah hiburan, tangan seperti diikat untuk memakan kerupuk yang hanya beharga Rp. 500, bermain bola dengan dandanan seperti "waria". Tepatnya ini pembodohan, tidak layak disebuat merdeka! dipaksa seperti binatang, tidak ada lagi pemaknaan heroik didalamnya.

Sedangkan bagi rakyat kecil, arti merdeka adalah yang bersifat konkret dan riil, hidup nyaman, dapat pendidikan, rumah sederhana, tanpa sibuk mencari susu pengganti yang harus diganti dengan air tajin campur gula merah, tanpa antri beras murah yang dengan protein tambahan didalamnya karena banyak kutu, atau memusingkan konversi minyak tanah ke kayu bakar. Dari semua itu bisa kah mereka mendapatkan hak kemerdekaan yang telah direbut kembali oleh buyut atau kakek-kakek mereka?!. Ironis apa yang mereka alami, justru para kapital berwajah melayu dan oriental berhati tikus yang menikmatinya. Padahal pada perayaan pentas pasar rakyat itu, justru mereka yang kecil inilah tertawa renyah menyambutnya dengan didandani seperti binatang dan jadi bahan tertawaan. Tapi yang penting bagi rakyat kecil, lantang mereka adalah MERDEKA!, untuk kesenangan hati mereka sendiri, mengusir rasa bosan tertindas.

Arti kata merdeka menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah, bebas dari penghambaan, penjajahan, dan lain sebagainya. Nah, dari penggambaran dari arti kata merdeka, kita bisa melihat banyak potrait-potrait muka buram dari rakyat Indonesia?. Tonton sajalah media pada sekarang ini, itu akan secara gamblang bagaimana rakyat jelata yang miskin dan bodoh jadi alat jualan dari media untuk disampaikan kepada publik betapa bobroknya negeri ini.
Sedangkan arti kemerdekaan itu sendiri yang saya dapatkan dari Enda Nasution ketika ia membaca artikel NY Times(pada saat itu ia pun lupa mendapatkan artikelnya darimana), Merdeka atau freedom mempunyai definisi yang berbeda dibagi atas strata sosial.

  1. Pada tingkat pendidikan tinggi (college degree, thus middle class, middle income), mereka mengasosiasikan kemerdekaan adalah, kemerdekaan sebagai bentuk ekspresi diri dan mencapai potensi diri.
  2. Survei pada tingat pendidikan rendah (no college degree, thus low income),freedom adalah bebas dari penindasan, merdeka dari rasa takut akan masa depan, kelaparan, takut akan teror, tekanan sosial, ekonomi, dll.

Sekali lagi arti kemerdekaan yang dikaitkan pada sub kategori ini, bagi sebagian daerah sub ordinat seperti Papua, mungkin akan mengalami suatu trauma khusus. Seperti dikatakan Tom Beanal, tokoh Papua dari suku Amungme yang menggantikan Theys Hiyo Eluay sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Adat periode 2002-2007. Ia memaparkan, "kami didik oleh orang Indonesia yang tak punya hati", dan ia melanjutkan keinginan masyarakat Papua untuk merdeka. Kemerdekaan yang diterima oleh masyarakat Papua dari RI, justru bentuk penindasan baru dengan adanya perampasan sumber daya alam Papua.

Jadi apa arti dari kemerdekaan yang bisa kita terima dan kita maknai, karena kita sedang mengadakan hajatan besar tiap tanggal 17 Agustus. Sebaiknya saya kembalikan kepada anda semua, karena itu tergantung pendefinisian dan pendeskripsian tiap individu.

bagi saya MERDEKA! dengan penekanan adalah, bebas dalam berpikir tanpa kungkungan dunia, tahu bertindak dan bertanggung jawab, mampu berbuat sesuatu dan berapresiasi tanpa tekanan pihak lain. Mungkin tertalu sempit, sedikitnya itulah cara pandang saya. Esok mungkin ada penambahan.

Selamat Bermerdeka secara berjemaah, kemudian mulai memerdekakan, dan MERDEKA!…Terus berjuang…Salam.

nb: ini sedikit mengartikan ditengah keadaan yang sedang ingin merdeka dari kerinduan, kecemasan, kegelisahan, kedengkian, kecembuaruan…