Archive for September, 2007

Selancar di Sungai

Sunday, September 9th, 2007

"yang tadi kan selancar beneran nih, dit…", kalimat lead in dari Krisna Mukti ketika ingin meyampaikan materi Riverboarding pada tayangan Lintas Pagi Akhir Pekan (LPAP), edisi 09 September 2007. "Nah, pernah mendengar berselancar di sungai?", sambung Krisna Mukti kepada Ditti. "Memang bisa, selancar di sungai?’ timpal Ditti merasa heran dengan Kalimat Lead In Krisna. "Ga Percaya yah!, kalau begitu kita saksikan tayangannya. Kira-kira seperti itu lah  kalimat pembuka materi tentang Riverboarding.

Mungkin belum terlalu banyak orang yang mengenal jenis olahraga apa Riverboarding itu, saya pun masih asing dengan olahraga ini. Saya baru mengetahui Riverboarding setelah mengikuti liputan mengenai River Boarding. Ya, seperti kalimat pembuka pada tulisan di atas, yaitu berselancar. Berselancar selama ini pandangan orang pada umumnya dilakukan di laut. Tapi jangan salah, kini kita dapat berselancar di sungai.

Apa itu Riverboarding?, Olah raga ini termasuk dalam kategori olahraga hydrospeed. Olahraga yang bersangkut paut dengan kecepatan, dan ini dilakukan di air dengan kekuatan arus. Kegiatan ini sama dengan berselancar, jadi ada yang menggambarkan bahwasan Riverboarding ini seperti kegiatan downhill pada sepeda tanpa rem. Bisa dibayangkan dengan sebilah papan, kita bergumul dengan jeram secara langsung tanpa dihalangi apapun, dan kita pun akan merasakanya seperti bermain surfing. Berbeda dengan surfing, kalau surfing mengandalkan gelombang, angin sebagai medianya, tetapi pada Riverboarding kita turun langsung menghadapi jeram, dan lebih menantang lagi kalau kontur pada sungai itu menurun.

Riverboarding lahir pada tahun 1970an. Adalah sekelompok pemandu rafting dari Perancis yang menemukan ide "berenang di sungai", dan berawal dari kebosanan mereka di rafting dan ingin menemukan cara yang menarik dan menantang di sungai.  Mereka yang sudah sangat mengenal karakter sungai, mengikat beberapa jaket pelampung menjadi satu, dan terjun langsung ke sungai. Dan itulah cikal bakal riverboarding.

Riverboarding ini dikenal dengan kegiatan hydrospeed, karena pada bagian arus yang sangat deras, kecepatan peselancar bisa melebihi 30 km per jam.Riverboarding4
Apalagi jika kita sudah sangat mengenal karakter jeram, tambah mengasyikan dan adrenalin akan mengalir cepat. Tantangan lainnya adalah, di air sungai yang bergejolak, terkadang papan yang terbuat dari karet busa berketebalan 8-12 cm itu tidak berarti apa-apa. Dengan perahu karet atau kayak, kita seringkali ditelan jeram. Dengan riverboard hampir sepanjang pengarungan kita akan sejajar dengan permukaan air. Dan selanjutnya kita akan terbenam, terlempar ke udara ketika menghadapi hole, wall, dan standing wave.

Semula yang dari peralatan sederhana, maka mulai dikembangkan mencapai bentuk papan selancar sungai. Ripboard3_1
Dan kini riverboard sudah menyebar luas di Eropa, Amerika, dan Australia serta Selandia Baru. Sekarang, kenapa riverboard terlambat masuk ke Indonesia. Ini dikarenakan kurangnya arus informasi mengenai riverboard. sekarang dengan adanya informasi melalui internet maka sangat memungkinkan akan semakin banyak informasi tentang riverboard untuk berkembang di Indonesia yang pada saat ini masih populer dengan arung jeram saja. Padahal di Indonesia ini sungai-sungainya memiliki banyak potensi yang sangat baik untuk kegiatan hydrospeed seperti ini.

Tidak ada yang tahu pasti kapan riverboard masuk ke Indonesia, tetapi yang mempopulerkannya adalah Rahim A.B.S. Rahim juga sekaligus pembuat papan riverboard. Rahim, menceritakan pengalaman pertamanya  ketika mencoba peralatan buatannya, "ketika pertama masuk sungai, saya takut karena saya belum pernah mencobanya. Namun, nekat saja karena saya yakin dengan alat pelindung saya akan selamat", kata Rahim, yang mengalami luka di betis dari pengalamanya mencoba riverboarding.

Dikatakan lebih lanjut oleh Rahim, selama pemain riverboard melakukannya sesuai prosedur maka tingkat kesalahan akan bisa diminimalisir. Alat keselamatan utama yang harus dikenakan adalah, rompi pelampung, helm, dan body protector. Namun untuk jeram grade satu dan flat, hanya diperlukan pelampung dan helm. Selain beberapa alat keselamatan itu, juga jangan dilupakan fin (sepatu katak)
.

Sepatu_katakFin ini gunanya untuk mengayuh dan kontrol, karena dengan menggunakan fin ini kita akan berselancar dengan cepat untuk masuk kedalam jeram.

Pada proses pelaksanaan kegiatan ini, seperti pada umumnya kegiatan adventure lainnya. Perlunya latihan mendalam terhadap olahraga seperti ini. Adanya tahapan yang harus dikembangkan dalam diri. Harus sehat fisik dan kuat mental, karena riverboarding sifatnya personal, pengandalan pada tingkat pengendalian diri sendiri menghadapi jeram.  Keterampilan renang, yang berguna untuk membantu bermanuver dan meminimalkan bahaya atau resiko subyektif.
Riverboarding3

Dan yang penting adalah mampu membaca karakter sungai, karena kita dapat tahu dimana spot atau titik jeram yang terbaik dan memfasihkan teknik di jeram grade III dan IV. Jangan lupa pula untuk scouting sungai.

Riverboard sama seperti kegiatan yang menyangkut kecepatan, dituntut untuk mengambil keputusan yang sangat cepat. Seperti yang dikatakan oleh seorang kawan saya, kalau sudah masuk jeram ataupun gelombang, maka tidak ada kata mundur dan dayung kuat. Sekali lagi, semakin kuat tantangan, maka itu yang menyebabkan kita ketagihan dan akan mencoba terus, atau kembali lagi.

"It’s just between you and the river"


Buletin-Eiger Adventure News (Edisi# 47 /Juli- Agustus 2007)                                                                             Pikiran Rakyat (Edisi Cetak - Rabu, 3 Juni 2007)