Archive for October, 2007

Memoar untuk Sahabat Terbaik

Wednesday, October 31st, 2007

Memoar untuk sahabat, Achmad "Maink" Ismail, IWP13969703LW (10/10/81-28/10/07)

Tak ada yang bisa menggambarkan perasaan ini ketika kabar yang menyentak itu menjadi kenyataan. Kita (gw, Panjul, dan elo sendiri) sudah tahu, hal itu tinggal menghitung hari. Dasar kepala batu, kau cuek saja, tapi tetap menyimpan mimpi-mimpi yang panjang. Semangat hidup yang sangat spektakuler sahabat.

Berpikir keras aku ketika kau tinggal menghitung hari, bagaimana caranya kita punya kenangan yang istimewa, walhasil hanya banyak ceng-cengan yang menjadi arti pada saatnya kelak. Aku sudah ingin merancang pendakian terakhir untuk mu sobat, tapi waktu dan kesempatan tidak pernah memberi kita keluangan. Ingat betapa kau dengan ringannya memberi tahu aku sebuah tabung kaplet dan tertera untuk penderita penyakit khusus. GILA, ini bukan main-main, aku dan Panjul menyarankan kau untuk terus bersabar dan ini kesempatan untuk mendekatkan kepada-Nya. hebatnya kau bertahan dengan lama sahabat, sungguh perjuangan panjang dari tubuh yang demikian kuat menahan penyakit itu. Kau memang dari dulu punya kemampuan fisik yang luar biasa.

Kami berkenalan secara tidak sengaja dan dengan cara yang konyol, ketika itu di muka gerbang sekolah, bubaran jam sekolah. Riuh rendah suara memanggil dan saling sapa. Tak ku sengaja, aku melihat teman perempuan sewaktu SMP dahulu, teman dekat. Ku panggil ia Made, perempuan Hindu. Tapi disebelahnya ada seorang pria yang terlihat menemaninya. Made ku tepuk pundaknya, dan ia pun menolehnya. Ia pun kaget melihat kita berada satu lingkup sekolah, walaupun ia tidak satu sekolahan.  "Hai", ujar made. "Sama siapa lo De?", tanyaku heran padahal baru saja hitungan bulan ia sudah menggaet seorang pria. Sang pria cengar-cengir seperti orang tenar sibuk disapa kana-kiri. Lantas pria itu menyibakkan topi ku, halah…ia ternyata pria cengeng yang menangis pada waktu latihan fisik Inswapala. "Maink!", ia memperkenalkan dirinya. Aku sambil lalu saja dan itulah awal perkenalanku dengannya.

Kami pun sempat double date loh. Lucu sekali pada waktu itu, maink sibuk bergumul mesra, bercanda rayu didalam ruang tamu. Sedangkan aku hanya melongo geleng kepala melihat tingkah laku mereka berdua. Sambil melongokkan setengah kepalanya, Maink menegur dan bertanya, "Ngapain lo berdua diam-diaman?!". Sialan, bocah edan, justru gw yang bingung melhat tingkah polah kalian berdua. Kaya binatang lagi bercanda.

Setelah itu, Maink yang ku kenal sangat jauh. Tak alang kepalang lagi tindak tanduknya serta reputasinya di sekolah. Anak cerdas tapi merupakan (meminjam kata Dicky) partner in crime yang baik. Pergaulan dan lingkungan yang kurang sehat, serta kebodohan ia menyortir semua hal itu. Tapi pandangan ku adalah tetap kesan pertama, segarang apapun ia disekolah, sengoton apapun ia menghadapi masalah, tak takut dengan semua orang, tapi ia merupakan pria yang cengeng…hahaha. Pernah sekali aku memergokinya ketika ia sedang bertiga dengan kawan-kawannya. Ruang kecil di depan sekolah itu mendadak gaduh. Teriakan histeris para perempuan, mencoba menyadarkan para lelaki diambang maut. Bah!!! lagi-lagi tiga orang yang bodoh mencari sensasi, dasar Maink. Sudah keracunan seluruh aliran darahnya, dan badan menolak keras, menggigil sekujur tubuh, muka pucat pasi. Tak mau ambil pusing, aku keluar dari pertunjukan itu. Resiko ketika membuat keputusan!. Terlihat apatis memang, tapi itulah jalan hidup. Tapi ku dengar dari kejauhan, "biarin aja gw mau mati aja kalo begini!", bah!…mau mati saja bilang-bilang, kalau mau jangan merepotkan orang.

Ia merupakan sosok yang sangat kepala batu dan analisis. Masih ku ingat betapa ngotot dan gigihnya ia ingin mengadakan pelantikan IWP di gunung. Ia meneguhkan bahwa ini organisasi pecinta alam, tidak lazimnya mengadakan pelantikan di kota. Kepala Sekolah kami sangat kolot. Beradu argumen lah ia, sampai akhirnya jadilah kami semua berangkat dan mengadakan pelantikan di gunung. Seharusnya berterima kasih kami semua kepadanya. Selain itu daya matematis ia sangat kuat, entah anugerah darimana isi otaknya bisa menjelajah dan mempersempit perhitungan matematis, di luar jangkauan ku. Pada saat "setengah sadar", ia pun dapat menghitung dengan baik, tak berkurang sedikit pun kemampuan berhitungnya, walaupun zat-zat haram menggerogoti isi otaknya. Para guru pun bahkan tidak akan percaya dengan kecerdasaanya, karena tertutupi oleh tingkah liarnya. Penilaian yang sangat subjektif dan picik!.

Kami akrab setelah lulus dari sekolah, awal canda itu berjalan baik. Tapi "kegemaran" Maink terhadap zat itu tidak berhenti. Ia terus mencintai zat itu, walau ku tahu ia berusaha keras menjauhinya. Semeru lah yang memulai semuanya, banyak cerita disini bersama ia. Inilah orang yang sangat tidak memperdulikan dirinya. Bayangkan persiapan ia sangat minim dari standar pendakian. Hanya bawa sweater, celana panjang khas jawa corak batik dan baju, serta logistik. Sebelum berangkat dengan tubuh yang terlihat kuyu, ia membuat pernyataan ingin mati di gunung. Tak habis percaya kami semua (aku, Dicky, Panjul, Rafky). Sepertinya salah bawa orang, tapi Dicky dan Panjul meyakinkan bahwa Maink cukup baik untuk mendaki. Pada saat meniti, melipir punggungan antara Ranu Pane dan Ranu Kumbolo, tak hentinya kami tertawa dan bersahut-sahutan. Nama-nama ayahanda kami lah yang mengisi kekosongan hutan rimba itu. Pada saat aku menyebut nama ayah Dicky, Maink saat itu langsung meninterupsi perkataan ku. "Nama bapaknya siapa tuh yan?", tanya Maink heran. "Lah, itu kan bapaknya Dicky!", seru ku. "Salah bego…nama bapaknya buka itu!". Aku pun langsung melihat wajah Dicky yang mesem-mesem menahan tawa. Sialan! aku dan Panjul selama ini merasa tertipu, seenaknya Dicky menyebut-nyebut nama ayah kami tanpa kami ketahui nama ayahnya.

Ranu Kumbolo, kehebohan dimulai. Mulai dari kompor kami yang meledak, sehingga api menyala-nyala dari slang, dan menjadi pemandangan yang lucu di tengah-tengah para pendaki yang beristirahat. Kami pun berebut dengan anjing saat bungkus nugget, kami di "rampas". Berlarian saling kejar-kejaran dengan anjing liar, segala barang apapun didekat kami, kami timpukkan ke arah anjng keparat itu. Lelah pun menjangkit, angin lembah semakin menusuk tulang belulang. Berhubung tenda minim, kami sepakat mendirikan bivak. Mengukur arah angin agar tidak terlalu parah diterpa angin lembah, maka mulai sibuklah membuat bivak. Aku dan Maink ingin sekali menghindar dari pekerjaan itu, melihat ke arah atas ada tanjakan cinta. Mitos disini, apabila berhasil melewati tanjakan ini tanpa henti maka niscaya pengharapan cintanya akan dikabulkan. Aku menantang Maink, sejurus kemudian kami berdua berjalan menuju tanjakan cinta. Ternyata tidak mudah, langkah kami terhenti karena kelelahan. Sambil melihat ke bawah, tampak kawan-kawan sibuk mendirikan bivak. Aku dan Maink hanya tertawa-tawa melihat mereka bekerja, tapi Maink segera menyadarkan ku dan mengajak untuk membantu kawan-kawan.

Tim kami sangat terkenal heboh, mungkin dimata para pendaki lain, kami adalah galatuping (gabungan lelaki tukang camping). Ketika kompor kami meledak di ranu Kumbolo, teriakan histeris membahana seantero Ranu dan sambil memegang tabung gas serta slangnya yang menyala-nyala. Tapi paling terkenal adalah aku dan Maink. Kami berjuluk Kapten-Kopral dari Bekasi. Setiap berjalan pasti Maink ku panggil Kapten, "Kapten gimana kondisi di depan, Kapten bagaimana keadaan Indonesia today", dan Maink pasti membalasnya "KOPRAL BEGO!"…hahaha.

Sampai di puncak Mahameru, Maink kembali berulah. Berbeda dengan orang kebanyakan ketika menjejakkan kakinya di puncak, ia malah melingkurkan tubuhnya sambil ditutupi selapis selimut. Mana ada yang membawa selimut ke atas puncak selain ia. Merajuk seperti anak kecil, meminta harus ada pengabadian foto ia di atas puncak.

Lain lagi dengan pendakian Sindoro. Kata-kata tim sein kiri keluar disini, maksudnya adalah menyindir Dicky yang pada awalnya jalan paling depan sebagai leader perjalanan, tapi lambat laun seperti kendaraan memberi sein kiri, mempersilahkan kendaraan lai menyusulnya. Disini aku kena dikerjai oleh Maink. Aku yang hanya membawa daypack, dipaksa oleh Dicky dan Maink untuk membawa tenda yang dimuat di dalam tas jinjing ala ibu-ibu kepasar. Bawaan ku pun menjadi limblung dan tidak seimbang beratnya, terasa tersiksa membawa itu!. Kami  kena badai hujan dari pukul tiga sore sampai pukul 11 malam. Tenda bocor, air memenuhi isi tenda, angin kencang dan dingin tidak karuan. Di tambah oleh pakaian yang basah, sekali lagi penyiksaan tiada terkira. Sepanjang itu kami terus memanjatkan doa, jangan sampai doa Maink kesampaian disini…IA INGIN MATI DIGUNUNG!. Pagi menjelang, kaki ku keram dan ada sedikit membenjol tepat dilutut, mungkin ini akibat keram semalam. Kami ingin memutuskan berkeliling sesaat, karena di puncak ini kami mendengar banyak sekali orang bercengkrama dan tertawa-tawa. Padahal di puncak ini kami hanya ada tiga tenda dan itu letaknya berjauhan antara lembah yang satu dengan yang lain. Selain itu kami menunggu seorang teman yang menyusul dari Bekasi. Aroma mistis menyengat kami setelah mengetahui di puncak ini sepi, Maink merengek kepada ku tidak ingin ditinggal sendirian dan minta ditemani ke tenda.

Perjalanan menurun tajam dan berliku, memaksa kaki ini untuk menapak lebih kuat, sedangkan kondisi lutut ku semakin tidak baik. Benjolan itu semakin membesar sekepalan tangan. Tak bisa menekuk lutut ku, harus ku istirahatkan sejenak kakiku. Tiba di pos (entah aku lupa pos apa itu) dekat kebun teh, kami bertemu dengan pendaki dari Rawamangun. Bercengkaram dan menanyakan alamat, pembuka pembicaraan. Dari arah atas maink setengah berlari kecil mengejek ku, setengah mengancam aku mengambil batu besar dan mengancam akan menimpuknya. Ia tidak mau berhenti, aku niat hati ingin mengenai carrier nya tapi yang terkena malah mata kakinya. Terpelanting lah ia dengan membawa carrier besar, berdentum bunyi tubuh serta tas besar itu jatuh. Ku kira ia akan marah besar, tetapi ia hanya tertawa kecil sambil meringis setengah kesakitan mengumpat ditengah undakan tanah kebun teh. Di bilanglah kami tim Srimulat oleh pendaki dari Rawamangun.

oiya, Maink sangat menjengkelkan apabila sedang bermain billiar. Dengan segala perhitungannya ia akan dapat memperkirakan bola yang ia lesakkan sudah diperhitungkan dengan masak-masak. Padahal itu bola liar dan lebih kebanyakan faktor keberuntungan. Tapi ia bersikukuh kalau bola itu memang sudah diperhitungkan, kami yang menjadi lawannya terpaksa harus meredam kejengkelan, karena apabila diadu dengan argumen sama saja dengan gilanya Maink.

Sampai pada akhirnya kita sama-sama mengetahui bahwa waktu kita menjadi seorang teman, kawan, sahabat, saudara, dan berkumpul akrab bersama-sama karib tinggal menghitung waktu. Tapi di wajah mu tidak sedikit pun menunjukkan kecemasan akan kehilangan itu. Malah berita kegilaan mu semakin menjadi-jadi, adalah kau menjadi penunggak kartu kredit hingga puluhan juta yang semakin lama semakin menggungung jumlahnya, adalah kau berhenti dari pekerjaan karena berselisihpaham dengan atasan, kau bertemu dengan Tommy datang dengan muka penuh cakaran karena bertengkar dengan kesayangan mu, sepanjang waktu kau gadaikan HP mu serta berganti nomor HP dan hilang beberapa HP. Tak habis heran ku menunggu waktu itu, aku pun terus memantau itu. Malah aku sempat berkonsultasi dengan panjul mengenai mengajak kau untuk mendaki gunung Gede-Pangrango. Panjul pun mengisyaratkan dan mengiyakan mengenai ide ku itu, mungkin ini adalah pendakian ia terakhir yan, itulah kalimat yang terlontar dari bibir Panjul. Panjul pun tidak lupa ku beri laporan mengenai tindak tanduk mu, sama seperti aku, Panjul pun heran bukan main, anak ini tidak menunjukkan tanda-tanda tobat…hahaha. Ia pun ingin menikah, padahal ia tahu itu hal adalah yang tak mungkin. Berkali-kali aku menanyakan apakah ia benar serius dan sadar seratus persen tentang niatannya. Cincin sudah disiapkan, tanggal pun sudah dipersiapkan, bahkan rumah telah tersedia.

Masih banyak cerita tentang salah satu sahabat terbaik ku ini, tak habis diuraikan dengan berjuta-juta kalimat dan pita memori isi otak ku ini, masih banyak kawan ku Maink. Tak sudi aku teteskan air mata ini, malu aku dengan kau menangis di depan tubuh kering berhias kumis dan jenggot tak terurus, serta di pusara mu sekali pun. Kau adalah yang terkuat aku kira, tak pantas kau hanya ditangisi tapi kau akan ku kenang sebagai yang terbaik. Lelaki yang tampan, ceria, cerdas, impulsif, meledak-ledak, analisis, tapi cengeng. Kau bukan yang meracuni aku dengan alam, tapi kau racuni aku dengan bagaimana belajar mengenai semangat hidup tanpa mengeluh, jangan berhenti bermimpi walau waktu itu semakin sempit. Kau adalah Lintang bagiku dalam Laskar Pelangi. Kau tinggal kan mimpi itu kepada kami semua, kawan-kawan yang menganggumi sebagai pribadi yang misterius penuh cerita.

Mungkin masih lama kita akan bertemu, semoga kita tidak sibuk di hari kebangkitan, pada hari penghitungan, meniti jembatan shirotul mustakim, dan semoga ku temui engkau sedang bercumbu mesra bersama para bidadari di surga.

Kawan, sedih ku tinggalkan dan ku hentikan tulisan ini. Terbayang potrait wajah mu dalam monitor ini, menari-nari riang kau di atas kepalaku, ku ingat jelas foto close up mu di meja belajar ku dengan topi rimba. Sekali lagi kawan yang terbaik ku  Achmad Ismail, selamat jalan kawan, semoga amal baik mu diterima disisi-Nya. Maafkan kawan mu yang selalu terlupa dengan mu, tersilap tingkah laku yang pongah, atau pun penghinaan itu hanya candaan kawan.

Rinjani sudah ku tuntaskan, ingat impian kita di Semeru. Itu untuk mu, belum pernah gunung cantik itu kupersembahkan. Tapi itu untuk mu kawan. Selanjutnya, doakan semoga ini berhasil…KERINCI SEBLAT!.

Paradoks kronik

Friday, October 26th, 2007

Siapa yang sedang jatuh cinta?…
Beruntunglah anak manusia itu yang mendapat anugerah indah dari tuhan. Kita tidak akan bisa menolak perasaan yang datang itu, semua orang akan jatuh cinta kelaknya. Bila jatuh cinta segalanya menjadi mudah, semuanya indah lancar sentosa, semuanya tampak bodoh, rasio orang lain tidak mampu menjangkaunya, tersenyum tiada henti tampak seperti orang gila, berkaca-kaca nongkrongin cermin seperti menonton layar bioskop kelas wahid film box office.
Bila jatuh cinta kalian akan sedikit menjadi ofensif, posesif, menggilai dan gila, tiap hari merindu, kala melihat bulan akan tampak bisa menyampaikan perasaan kita, bintang menjadi penghatar surat cinta, matahari penjemput cinta kita, terlindungi dan melindungi. Indahnya secara teoritis dan diatas kertas. Nikmatilah selagi bisa kawan.

Namanya saja jatuh cinta, maka siap-siaplah jatuh tersuruk-suruk, terbanting menjadi remah-remah kecil, atau gila secara akal…hahaha. Dan jatuh cinta pun bisa menjadikan kita buta sesaat, hilang akal lagi, pembelaan yang berlebihan dan merasa benar, segala aral tidak dapat menghalangi cinta itu bersemi.

Aku pun demikian, begitu buta hingga membabi buta tidak kepalang tanggung menjadi monster yang menakutkan. Tidak ada intropeksi terhadap diri, merasa benar, ketakutan berlebihan, sehingga ia tersakiti. Lirih aku menyadari tapi telat, tidak ada pengampunan. Ditinggalkannya, aku hilang kesadaran, meratap kehilangan. Obat dan antidot itu datang lagi. Kali ini datang sebagai pria dewasa dan matang secara pemikiran, tapi pemikiran seorang pengembara yang bukan seorang bohemian. Walaupun aku secara strata berada dalam strata sosial yang termanjakan. Lamunan malam pemilik pelangi Jonggol dan Kuta Lombok yang mengobati itu, memang dari dulu ia ku amati dan memang ku cari. Dasar penyesalan tidak berada di depan, kalau saja berada di depan pasti sempat lah mengelak…hehehe. Dan ia mungkin tidak percaya…hahaha. Setiap hari aku mengalami paradoks akut yang lama-lama akan timbul kronik pada kehidupanku.

Sudahlah lupakan itu, tidak berguna lagi sekarang. Cuma jadi ajang kutukan tak bertuan saja, mengawang-ngawang sampai akhirat pun tidak akan diijabah sama sang ilahi. Sekarang kita membahas saja tentang jatuh cinta. Ketika ku membaca cerita tentang Arai pada karya tetralogi Andrea Hirata, betapa gigihnya simpai keramat itu berjuang mendapatkan cintanya, sampai-sampai dari belitong ke prancis ia menyatakan syair cinta itu ditengah kelimunan orang lain bangsa dan bahasa pada hari kematian Jim Morrison dekat pusaranya. Kasihan, cinta bertepuk sebelah tangan.                                                                                                                  End of The Night  :                                                                                                                              Realms of bliss
                             Realms of light
                     Some are born to sweet delight
                     Some are born to sweet delight
                     Some are born to the endless night

I Looked At You :

                                I looked at you
                                You looked at me
                                I smiled at you
                                You smiled at me

                            And we’re on our way
                            No, we can’t turn back
                            Yeah, we’re on our way
                            And we can’t turn back
                               ‘Cause it’s too late
                                Too late, too late
                                Too late, too late

                                I walked with you
                                You walked with me
                                I talked to you
                                You talked to me

Lebih gila lagi adalah cintanya A Kiong, ia tidak akan pernah menjadi pria sejati, karena hanya memendam perasaan tanpa berani ambil resiko apapun. Terlalu malu dan takut. Selamanya akan menjadi pesakitan cinta dan memendam rasa sebagai pecundang!, atau menjadi Scaramouch (pecundang yang banyak omong).

Lain lagi dengan kisah cerpen dari Seno Gumira Ajidarma, yang mengisahkan tentang dua pasang kekasih yang cinta buta dan buta karena cinta. Ketika dua pasangan itu ingin berpisah salah satunya berkata, bahwa ia akan kembali untuk cintanya. Tapi apa dinyana, cinta itu tak kunjung memihak dan sesuai dengan janji. Berdiri mematung, hingga berlumut hijau dekil, menetap seperti batu patung penjaga rumah agar terkesan angker. Bodoh tak terkira jadinya orang itu, tidak realis, malah jadi absurd.

Cinta yang paling epik perjuangannya adalah cinta Ali Topan terhadap Anna Karenina. Tokoh, idola, pahlawan antikemapanan akhir 70-an ini, begitu dahsyat menerjang aral melintang untuk mendapatkan cinta Anna Karenina dan ia coba menisbatkan syair cintanya pada sebuah lagu milik The Beatles - Anna (Go to Him):

                       Anna
                        You come and ask me, girl
                            To set you free, girl
                        You say he loves you more than me
                            So I will set you free
                                Go with him
                                Go with him

                                    Anna
                        Girl, before you go now
                        I want you to know, now
                        That I still love you so
                        But if he loves you more
                                Go with him

                                All of my life
                       I’ve been searching for a girl
                           To love me like I love you
                    Oh, now, but every girl I’ve ever had
                       Breaks my heart and leaves my sad
                       What am I, what am I supposed to do

Yang lucu dua novel Teguh Esha ini mampu mendoktrin teman-temanku ingin mendapatkan cinta seperti itu dan berusaha menjadi Ali Topan sebenarnya. Salah dalam menggilai buku sehingga meracuni nalar sehat. Cari jaket Levi’s belel, rambut gondrong terurai acak-acakan, tidak takut apapun, bercita-cita menjadi wartawan dan semuanya mulai belajar menulis, hanya saja tidak mampu melengkapi motor trail nya saja. Ali Topan mampu memikat Anna Karenina dengan menjadi dirinya sendiri, hebatnya Anna mampu melepaskan diri dari pengaruh dan ia mengerti kebutuhan untuk dirinya. Jatuh cinta yang sangat Rock ‘n Roll, siap menerima tantangan menjadi manusia dalam artian sebenarnya, walaupun orang bilang itu GILA!!!.

Berbicara mengenai cinta sama saja mengurai suatu yang muskil untuk diteliti, menurut Alm. Asmuni itu hil yang mustahal. Beragam teori psikologi sudah banyak yang menisbatkannya, tapi itu menjadi sebuah teori diatas kertas, tidak ada yang tahu misteri yang bakal dialami setiap pelakunya. Hanya suatu kebetulan dan kemiripan yang akan diiyakan oleh pelakunya lalu merefleksi ulang.

Aku sendiri merasa kapok dan tertipu oleh apa yang dinamakan cinta, penuh dengan ketidakwarasan. Kalimat si Kuta Lombok keluarkan ketika amarah begitu menohok ku, terpojok, sehingga merasa begitu hina. Tapi aku benar-benar jadi tidak waras, ia impian dari cita-cita mulia. Tak mengapa itu jalan tuhan (penyejuk dibalik umpatan). Aku coba berusaha merepresentatifkan lirik ini untuknya…hehehe, masih saja coba menggoda, tapi inilah salah satu bentuk pengejawantahan perasaanku terhadap mu Kuta Lombok :

Hard to Handle

Baby here I am
Im the man on the scene
I can give you what you want
But you gotta come home with me

I have got some good old lovin
And I got some more in store
When I get through throwin it on you
You gotta come back for more

(chorus)

Boys and things that come by the dozen
That aint nothin but drugstore lovin
Hey little thing let me light your candle
cause mama Im sure hard to handle, now,
Gets around

Action speaks louder than words
And Im a man of great experience
I know youve got another man
But I can love you better than him

Take my hand dont be afraid
Im gonna prove every word I say
Im advertising love for free
So you can place your ad with me

Menurut Dr. Berbie Siegel, cinta tanpa pamrih (unconditional love) adalah merupakan cinta yang mengandung energi penyembuhan yang kuat dalam segi kesehatan. Cinta yang tulus, bukan cinta yang harus tampak realis dan matrealis sesuai dengan kebutuhan hidup mengikuti tuntutan jaman edan ini.

Memang saja membicarakan cinta tidak ada habisnya seperti akan menaikin tangga berundak pada proses hidup, maka setiap step nafas kita akan semakin panjang untuk bersabar dan melihat keatas langkah seperti apa yang akan kita ambil berikutnya.

KAMPRET!!!…lagi-lagi cinta…kapan habisnya?, habis tenaga dan tidak berguna. Tapi jadi pemantik api kreatifitas juga kadang-kadang.

nb:kalo ada nafas lagi gw bakalan tambahin. sementara seperti ini dulu yah

 

Pelangi Toh Pasti Kembali 2

Thursday, October 18th, 2007

Ku tanya sama kalian semua!, kapan terakhir melihat pelangi?.
pertanyaan yang mengusik pikiran kita, yah…kapan terakhir melihat pelangi. Aku menanyakan seperti ini, karena membaca lagi tentang Laskar Pelangi. Baru ku sadari aku sudah lama tidak melihat pelangi yang begitu tajam di pelupuk mata, berkesan dalam hati, tak lekang dimakan waktu.

Pelagi ketika usia ku belum memasuki belasan tahunan mungkin sering ku nikmati, tetapi selepas dari masa sekolah memasuki kuliah, aku sudah kehilangan pelangi. Aku pada saat itu tidak tahu lagi kapan terakhir melihat pelangi, merindukannya hadir di mata ku. Selalu terbayang para bidadari melintasi pelangi dan mereka berhujung dimana, apakah mereka sedang bermandian di sebuah pancuran bambu buatan jelata untuk pengairan sawah, atau air terjun deras. Beruntung yang menemukan para bidadari dalam kepolosan itu. Selalu ingin mengejar pangkal dan ujung pelangi, tapi tidak tahu ia hadir dan berakhir dimana.

Aku pun sempat bertanya mengapa pelangi itu punya warna, darimana warna-warna itu. Perlu penjelasan ilmiah, sekali lagi sayang aku tidak bisa menjelasakannya karena aku bukan penikmat fisika dan fisikawan. Tapi aku mencoba menjelaskannya : Warna-warna lazim diindentifikasi dari panjang gelombang, kumpulan warna-warna yang dinyatakan dalama panjang gelombang ini disebut spektrum warna. Nah dala spektrum wana itu ada komponen warna putih. Warna putih ini bisa diuraikan dengan alat prisma kaca. Sedangkan pada alam, bukan hanya prisma kaca yang bisamenguraikan warna putih tersebut. Tetesan air pun bisa menguraikan warna putih menjadi berwarna-warna sehingga terciptalah pelangi. Dan ada yang perlu diketahui pula bahwa bentuk pelangi itu ternyata lingkaran, bukan setengah lingkaran seperti yang biasa kita lihat loh.

Jadi pelangi baru tampak ketika ada butiran-butiran air yang mengenai cahaya, biasanya pelangi akan tampak setelah hujan, gerimis, dan tepian air terjun. Sekarang aku sudah jarang sekali melihat pelangi. Dimana pelangi? Pelangi terakhir yang sangat indah ku lihat di daerah Jonggol. Daerah itu merupakan pemukiman yang belum rampung. Tanahnya menurun dan masih banyak tanah lapang, jadi masih sangat luas daerahnya. Kondisi pada saat itu sehabis hujan turun, dan langit pun langsung cerah ditambah suasan petang. Langit bermandikan warna kuning memerah, awan melembut seperti kapas sisa awan hitam pekat setelah menumpahkan hajatnya. Aku bersama kawan-kawan aktivis kampus ingin menjenguk seorang kawan seperjuangan yang terkena musibah, rumahnya dirusak oleh orang-orang tidak dikenal. Kini aku berdiri ditanah lapang, memandang takzim kepada ilahi menengadahkan kepala ku, mengagumi pemandangan. Tanahnya basah rapuh terkena air, tanah merah itu menempel di sandalku sehingga menyulitkan aku berjalan. Tinggal rintik yang ia sisakan untuk yang terakhir membasahi bumi ini. Aku susuri jalan menurun berundak, sesekali aku memayungi kepalaku dengan tangan, kadang berlari kecil mempercepat langkah, memasuki gang kecil dari perumahan tersebut sebelum jalan ini ditutup aksesnya. Perdu-perdu basah layu, mengeluarkan aura ada kehidupan baru.

Seorang aktivis muda terluka batinnya, ingin menegakkan kebenaran di tanah lahirnya. Sisa pecahan kaca dipan rumah berarakan di lantai, dan menyisakan tingkapan yang melompong, foto-foto orang berjenggot memakai sorban sebagai saksi kekejaman gerombolan muka hitam tak pernah kena wudhu yang murka diusik kegiatan maksiatnya. Kami hanya mampu berucap semoga kau sabar kawan, konsekuensi orang menebarkan kebajikan ditanah jahiliyah. Tanah licin ini semakin menyulitkan kami berjalan, bekas tanah merah yang kami bawa membekas dilantai dari semen yang mulai mengelupas kulitnya. Semakin lama orang berdatangan, ruang untuk kami juga semakin menciut. Ada semacam pertemuan untuk membahas kronologis kejadian. Orang-saling bertatap curiga terhadap orang baru antisipasi ada mata-mata. Alis mereka naik, mata tajam seperti elang mengawasi setiap gerak-gerik. Termasuk ketika kami datang, tapi semua berubah jadi senyum solidaritas ketika kami menyapa sang kawan aktivis muda tersebut.

Pertemuan dimulai dengan duduk bersila membuat lingkaran, diujung pembicara dengan bersorban khas, pangkat sebuah ormas agama yang terkenal dengan cara "eksekusi"nya . Teh manis penyejuk tenggorokan mulai berkeliling, perkenalkan identitas satu-persatu. Kami mahasiswa muda pendobrak reformasi, bangga sebagai penyemat aktivis akademika, ditengah kaum marginal, naik kelas lah strata kami dimata mereka. Lagi-lagi mata para tetua yang tak ku kenal namanya dalam bingkai mengawasi cermat tiap bola mata yang mengamati, Orang berjenggot memakai sorban dalam bingkai. Mereka mulai merancang strategi jika malam ini ada serangan dadakan, berbekal senjata ala pendekar kampung, otot mereka andalkan. Gila ini, aku terjebak dalam mandala peperangan!. Apa yang mesti ku raih pertama kali ketika perang "salib" ini terjadi, palingan jurus lari tunggang langgang. Padahal aku tidak kenal dengan si aktivis muda ini, aku tergerak pun karena ajakan seorang teman, dan itu pun menghindari mata kuliah sekaligus piknik gratis…hahaha. Stres aku memikirkanya, aku pun ingin mencari udara segar keluar dari rancangan tersebut. Masam sudah mulut ini, kelu lidah tidak terkena tembakau. Kembali melintasi jalanan licin, perdu-perdu itu tidak tampak cemas dengan dan akan terjadi kalau-kalau peristiwa ini benar terjadi peperangan yang kedua. Tak takut ia terinjak kaki-kaki kuat para penerjang.

Walaupun langit mulai cerah, tapi rintik-rintik hujan belum reda. Sampai diujung gang kami mulai mencari warung rokok. Bakar dulu lah sembari otak ini merespon dengan baik zat nikotin. Tak ku sangka begitu membalikkan tubuh ke arah barat. Ku lihat horizon cakrawala memerah dihiasi selendang pelangi. Pelangi terbaik yang pernah ku lihat, begitu nyata, tajam dan bernas warnanya. Merah, kuning, hijau dilangit yang kuning memerah. Aku tertegun, langkahku terhenti, badanku kaku, tangan ini tidak sadar memegang cigarette. Subhanallah…baru saja hati ini berkata sudah berapa lama aku tidak melihat pelangi. Ia menampakkan wujudnya dengan cantik dan indah, laksana surai kuda yang menjuntai menggapai tanah. Pelangi itu mencari pijakan, jembatan dari nirwana menghantarkan para bidadari yang ingin mandi. Pikiran ku mulai ngeres dimana pelangi berujung, ingin mengintip bidadari dengan polos mencibak air terjun ke tubuh mereka yang putih bersih, pasti sangat seksi…hehehe. Ku hentikan langkahku, lutut serentak kompak dengan otak rehat sejenak menekuk dipinggir trotoar jalan. Langit begitu bersih, efek blair dari matahari menambah tajam sinar yang dihasilkan dari prisma kaca alam yaitu tetesan air. "KAMERA…KAMERA", aku memekik panik tidak ingin ketinggalan momen. Sial, barang lawas pemberian ayahku yang sering ku bawa-bawa kali ini tertinggal. Begitu pula dengan temanku. Ah, pemandangan indah lewat begitu saja tersimpan dalam memori saja. Ingat kala itu, aku ingat kembali dengan gadis lamunan malam pengusik tidur dibuai mimpi indah. Di mata ku ia cantik seperti pelangi Jonggol dan Kuta Lombok, beruntung kau punya wajah yang diidamkan setiap lelaki, perangai keras tapi lembut menyentuh. Matahari mulai merendah, sebagai penutup perjumpaan kami dengan pelangi. Kini aku meninggalkan pelangi, kembali ke tempat semula berharap cemas dan berdoa semoga tidak benar-benar nekat para penerjang untuk melakukan serangan kedua.

Sekarang dimana kta bisa menemukan pelangi lagi, semua berganti dengan pohon besi dan beton menjulang, tetesan air sebagai salah satu media tidak bisa berfungsi diganti dengan embun polusi. Sudah jarang sekali kita pasti melihat pelangi, salah satu fenomena alam yang sering dibuat orang dalam kandungan syair syahdu penghantar cinta sang pujangga. Tapi ku yakin kawan…Pelangi Toh Pasti Kembali!

Jalan Grote Postweg, dalam Montase Jurnalku

Monday, October 8th, 2007

Membaca salah satu karya Pramoedya yang bertajuk Jalan Raya Pos, Jalan Daendles. Membuat isi kepala ku berputar dan seperti tertarik kebelakang pada tahun 1809. Membayangkan bagaimana proses pembuatan jalan itu, yang banyak memakan korban pribumi. Seiring itu aku pun berusaha menyambung montase cerita itu dengan empiris ku pada sekitar tahun 2002 an. Aku tidak berusaha membahas mengenai potongan sejarah genosida tersebut. Hanya sekedar menceritakan dan membayangkan betapa jauhnya jarak tersebut, dan itu juga karena secara tidak sengaja melewati beberapa bagian wilayah jalan raya pos, jalan Deandles. Selain itu banyak kejadian yang lucu dan mengesalkan selama perjalanan itu. Pada bagian wilayah jalan raya pos ini, aku potong kompas langsung ke Bandung, ini memotong jalur Anyer-Cilegon-Banten-Serang-Tangerang-Batavia-Jatinegara/Meester Cornelis-Depok-Bogor/Buitenzorg-Priangan-Cianjur-Cimahi.

Pada cerita ini kemungkinan, aku tidak  akan secara detil terhadap penamaan tempat dan wilayah daerah tersebut, karena aku pada perjalanan itu sambil lalu, baik itu karena bersendau gurau, tertidur, mengeluh, atau beradu pendapat dengan kawan seperjalanan .

Anyer-Panarukan, sejarah mencatat ini menjadi jalan terpanjang pada masa itu menyamakan dengan jalan antara Amsterdam-Paris. Bisa dibayangkan berapa banyak rakyat kita mati dan tidak terkuburkan pada proses pembuatan jalan tersebut. Sekarang kita seakan lupa dengan ribuan liter darah yang "menyuburkan" jalan tersebut, kita tidak mencatat sejarah itu sebagai alat banding untuk protes terhadap kekejaman kolonial. Menyedihkan sekali bagaimana bangsa kita ini diperbudak kompeni.

Sudah lupa kan tentang itu, kembalikan memori tersebut dengan empiris ku saja yah..hihihi. Sekitar tahun 2002-an, setelah aku ingat-ingat lagi pas membaca karya Pramoedya, aku sempat melewati beberapa bagian Jalan Raya Pos. Itu pun tidak secara sengaja. Bagaimana itu bisa terjadi, lain tidak karena kebodohan dan keegoisan kawan sekaligus sahabat kental ku Irfan Hendrian (Panjul). Dan bodohnya lagi aku pun menyanggupi petualangan tersebut. Awal ceritanya adalah memenuhi undangan seorang teman Denny di timur Jawa, tepatnya Malang. Ia berhajat ingin melepas lajang, tapi Irfan tidak memberitahu ku secara gamblang tujuan sebenarnya untuk ke Malang. Irfan menanyakan keluangan waktu ku untuk bersoan ke Malang dan keisengan ia melontarkan wacana mengisi liburan. Yah, pada saat itu aku tidak mempunyai rencana bepergian, langsung menyanggupi ajakan ia.

Petualangan dimulai dari Bekasi-Bandung, Irfan pada saat itu ingin membeli sepatu tracking yang sedang in dan sekalian bisa dibuat untuk acara formal. Sial, padahal perjalanan ke Malang bisa langsung menggunakan kereta api, ini harus loncat dari satu bis-ke bis yang lain, duh…melelahkan sekaligus memboroskan baik itu biaya maupun tenaga. Dalam hati aku bergumam, "bakalan dekil gw". Dasar otak dan jiwa kelewat liar, semua hal itu dikesampingkan dulu, lihat saja nanti bagaiman cerita itu bergulir…hihihi. Tujuannya adalah toko outdoor sport Eiger di kawasan cihampelas (kalu tidak salah yah, karena gw kurang menguasai jalur Bandung). Tuntas lah hajat Irfan mempunyai sepatu track itu, tentukan tujuan berikut menuju terminal Leuwipanjang. Karena hanya itulah yang kami ketahui terminal satu-satunya di Bandung. Sialnya, ternyata terminal itu hanya untuk trek pendek saja, tidak ada untuk angkutan luar kota antar provinsi. Seperti anak ayam kehilangan induk, kami bertanya-tanya dalam hati, menenangkan diri karena kehilangan orientasi. Ternyata kita harus menuju Cicaheum (aku lupa apa namanya, karena menderita gejala akut lupa yang menahun) . Lanjut terus, merelakan ongkos dan waktu yang terbuang. Karena kami sudah mengetahui untuk menuju Jawa Tengah ada jam khusus untuk angkutan yang menuju kesana. Dugaan kami tidak meleset, telat sudah dan makin merana. Tujuan Jogjakarta sudah tidak ada, dan untuk Jawa Tengah pun sudah tidak ada pula menyisakan tujuan Purwokerto. Aku dan Irfan sibuk mengukur waktu perjalanan.Bodohnya kami menggunakan waktu tempuh dari Bekasi-Purwokerto dengan perhitungan antara 9-10 jam. Dan ini kali pertamanya aku menaiki AKAP PATAS (Angkutan Luar Kota Antar Provinsi Cepat Terbatas) yang benar-benar PATAS. Bayangkan dalam kendaraan itu kami hanya bertujuh, dan itu dengan bangku 2 seat. Wihh…bebas lancar dan sentosa, tinggal pilih dan seenak hati duduknya. Aku dan Irfan memilih untuk sendiri-sendiri, dengan bangku yang kami lipat depan belakang, kaki selonjoran biar leluasa merebahkan tubuh yang mulai dihinggapi rasa lelah.

"Njul, kemungkinan kita sampe di Purwokerto setengah empat pagi, jadi pasti ada bis yang ke jogja jam segitu", ujar ku. Omongan sambil lalu itu menyelengi sendau gurau kita dan membahas mengenai sepatu serta kartu diskon Eiger yang waktu tenggatnya tinggal beberapa bulan saja. Kami berdua pun saling membuang pandangan menyaksikan jalan antara Cicaheumi-Purwokerto. Irfan sibuk menceritakan tentang Cadas Pangeran dan berliuknya kondisi jalan disana setelah melewati Sumedang kelahiran ibundanya, dan aku sambil merebahkan tubuh serta membuka baju ku agar tidak kotor, agak mengangkat kepalaku lalu ku serongkan ke kanan muka, agar dapat menyimak cerita ia. Entah kami melewati Cadas Pangeran atau tidak karena pada saat itu sudah malam hari, kami hanya bisa melihat temaram lampu diluar pandangan kaca gelap bis. Sial, inilah tidak nikmatnya perjalanan malam hari. Padahal aku ingin mengetahui sekali bagaimana rawannya daerah tersebut. Dan disinilah peristiwa yang tak lazim terjadi antara Gubernur Jendral Daendels dan Pangeran Kornel Wirakusumah. Ya, peristiwa salaman tangan kiri yang dilakukan Pangeran Kornel Wirakusumah terhadap Daendels. Di tangan kanan sang Pangeran sudah siap keris yang terhunus, ini merupakan tabiat yang tak lazim dilakukan oleh bangsa Asia. Ini merupakan bentuk protes sang Pangeran terhadap politik dari Daendels yang terkenal kejam. Pikiran ku pun melayang kembali, bagaimana proses pembuatan jalan itu memotong tebing curam, pasti banyak memakan korban. Karena pada saat itu belum mengenal proses pembuka lahan dengan dinamit. Bayangkan saja pada saat itu keadaannya seperti apa jalur itu. Membuka jalur yang tak lazim.

Jam pun sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 WIB, dan betapa terkejutnya aku  ketika melihat SPBU dengan tanda jalan, Jalan raya Purwokerto (kalau tidak salah). Aku pun melonjak dari kursi duduk dan mengambil baju ku yang ku tanggalkan agar tidak kotor. "Njul kita sampe di Purwokerto, gimana nih, masak mau nginep lagi di purwokerto", kami saling pandang dan bingung bukan main. Kami tidak mau peristiwa menginap di Terminal terulang lagi karena kemalaman. Terpaksa kami sibuk merapatkan barisan dan me reschedule ulang, sekali lagi menenangkan diri. Karena hanya itu lah yang kami bisa.

Tiba di Terminal Purwokerto yang sudah akrab dengan kami, kami pun sedikit melonggarkan urat kemaluan yang menegang menahan gejolak kandung kemih yang sudah mulai penuh dengan urine. Diskusi antara kami tidak jauh adalah mencari tujuan mana saja menuju Jawa Tengah atau terpaksa menjemput pagi di terminal ini. Pucuk di cinta ulam pun tiba. SEMARANG, yup, ternyata ada bis menjuju Semarang. Berarti sudah ada sebagian wilayah jalan raya pos tersebut, yaitu Bandung, Brebes-Tegal, dan kemudian menuju ke Semarang. Tanpa pikir panjang lagi, kami pun menaiki bis itu. Dalam hati setengah was-was, tapi nekat yang penting sampai tujuan ke Jawa Tengah selanjutnya menuju Surabaya. Padahal kami miskin pengetahuan tentang jalur-jalur menuju Malang dengan sistem "loncat-loncat". Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30.

Rasa kantuk dan lelah yang sangat sudah mulai tidak bisa ditolerir, tubuh ini sudah tidak bisa menahannya. Selama Perjalanan kami berdua terus bangun dan tidur, seperti kebiasaan angkutan luar kota dan itu perjalanan menjelang pagi hari tentunya banyak penumpang turun naik membawa sejumlah logistik yang tak tahu aku apa itu. Kami duduk pada bangku bagian belakang yang memanjang. Pada awal perjalanan bangku masih terasa nyaman utnuk kami tempati dan duduki, karena itu pulalah kami dengan cepat dibuai mimpi indah. Tapi lama-kelamaan posisi duduk kami menjadi seperti berada di menara Pisa Italia yang terkenal itu. ALAMAK!!!ternyata bangku kami sudah terisi penuh manusia pagi, dan itu bersender ke samping kanan semua. Aku yang berada  paling kanan merasa sesak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku pun meminta pindah posisi dengan Panjul, dan ia pun mengalah. Bukannya berhenti, hal ini terus berlangsung sampai pada daerah yang tak ku ketahui namanya tempatnya. Penderitaan lanjutannya adalah, udara yang dingin menusuk kulit. Angin malam coy! Tentunya menyiksa sekali badan ini ditampar hembusan angin ketika kaca pintu bis dibuka oleh sang kondektur untuk meneriakkan dan mencari penumpang. Pengen negur tuh kondektur tapi nyali lagi nggak besar-besar banget, sudah itu jauh dari markas, bisa buang nyawa.

Hah…akhirnya kerlap-kerlip lampu jalan kota seperti kebiasaan pusat kota Jawa umumnya, sudah didepan pelupuk. Jam menunjukkan pukul 5 pagi, sebentar lagi sampai terminal Semarang. 5.30 WIB tepatnya kami menjejakkan kaki di Semarang. Beli kudapan dan air mineral untuk mengisi perut, dan membakar sebatang tembakau racikan, lalu celingak-celinguk untuk tujuan berikut, Surabaya. Kaki ku melangkah menuju wartel, untuk kontak dengan Denny memberitahukan posisi kami saat ini, sekalian menanyakan berapa lama lagi perjalanan ini tuntas. Kota yang berasal dari sebutan asem dan arang ini, tidak mempunyai kesan apapun pada ku saat itu. Padahal kota ini mempunyai sejarah yang menarik, dan menjadi kota perdagangan yang pesat di Jawa medio 1800 an, melalui pelabuhan besarnya. Dan di Semarang , saat dulu wilayah pemukimannya terkotak-kotak menurut etnis. Dataran muara kali Semarang merupakan pemukiman orang Belanda dan Melayu, Sekitar jalan R.Patah ditempati etnis Cina, sedangkan orang Jawa sepanjang kali Semarang dan cabang-cabangnya. Selain itu yang terbayangkan pada saat menginjakkan kaki pertama di Semarang adalah bayangan kota tua nya yang mengusik sangat pikiran. Ingin sekali melihat bangunan lama karakter khas Eropa  tahun 1700-an, serta legenda laksamana Ceng-Ho. Padahal belum ada catatan yang otentik apakah Cheng-Ho pernah singgah di Semarang, ada yang mengatakan pula malah jurumudi Cheng-ho lah yang mendarat. Tapi apa daya roda salah satu moda transportasi darat itu tidak berjalan lurus sesuai pikiran, melintas pun barang sekejap mata tidak dituruti.

Kembali kepada cerita di terminal. Belum lama kami berjalan menuju peron terminal, kami sudah dihampiri para calo. Biasalah, pasang tampang cuek dan garang sedikit. Ternyata itu semua bukan ilmu pasti yang bisa diperkirakan dan berjalan sesuai teori. Mereka (calo), semakin beringas menghadapi kami. Kami pun pasang badan, Irfan yang bertubuh lebih tinggi dari aku yang terkena getahnya. Ia yang terus dipepet para calo, sampai-sampai kami berdiskusi singkat plus bahasa sandi untuk pura-pura menelpon. Ternyata ruang kotak KBU wartel tempat sembunyi dadakan itu tidak mempan menghadang niatan mereka. Pintu kami dijaga dan gerak-gerik tubuh kami diawasi terus, tidak ada jalan keluar kami pun melangkah pasti dengan langkah tegap. Seperti lagu anak-anak…HAP, LALU TERTANGKAP. Ada gula ada semut, gula sibuk diperebutkan semut, bersitegang, pikiran kami terpecah antara waspada dengan barang bawaan dan bimbang menentukan keputusan. Kami di dorong-dorong, sedangkan aku berusaha menengahi dan menarik Irfan. Bingung harus berbuat apa, karena mereka lebih ganas, terpaksa mengalah dalam kondisi pasrah, sial! posisi tak bisa melawan adalah pecundang. Kami harus menerima itu dengan terpaksa dan menaiki bis yang mereka rekomendasikan. Di dalam bis kami menanyakan tarif bis sebenarnya ke penumpang lain yang satu bis dengan kami. Setengah terperanjat kaget mendengar tarif yang sebenarnya, kami pun main salah-salahan. 2 kali lipat dari tarif resmi, kami niatnya ingin menghemat, ternyata harus keluar biaya lebih banyak. Pagi yang sejuk, dan cerah, berganti dengan hari yang panas, penuh amarah dan dendam. Ditambah dengan suasana tepi jalanan yang kami lalui begitu gersang panas membakar. Kami saling membuang pandang dan menyalahkan, lebih parah adalah kami menganggap satu sama yang lain adalah pecundang yang gampang dikalahkan oleh segerombolan orang Jawa..hehehe(bukannya bermaksud SARA), itu dikarenakan tipikal kami adalah orang Sumatra. Tidak ada habis-habisnya saling menggerutu, tapi kadang-kadang sedikit akur dengan komentar mengenai pemandangan wilayah-wilayah yang kami lewati. Pengobatan kala itu adalah pematang sawah yang dihujani oleh embun pagi menggantung dengan bumbu sinar matahari. Petani baru saja mengangkat cangkulnya untuk memulai hari kejemuan dalam peluh bayaran harga ijon, sungguh tragis. Mereka merayapi tepi jalan aspal dan lempur kering tengah sawah. Sederhana tapi kaya arti.

Ditengah gemeretak gesekan gigi yang menahan geram, rupanya naluri lelaki kami bangkit. Hey!…ada mahluk manis, ditengah gempuran Java’s Criminal Cat (para kucing garong Jawa) diselasar tengah ruang bus. Lumayan olah mata buat inspirasi sang birahi selepas tiba di kota tujuan…hahaha. Kami berdua saling melepas gurau, "Njul, kayaknya tuh cewe ngeliatin kita berdua deh", aku sedari tadi mengamati perempuan yang sedang dijaga ketat oleh pria nya. Irfan tidak mau kalah dan mengatakan bahwa ia lah yang sedang diperhatikan oleh perempuan tersebut, sampai kami berdua mencapai kesepakatan untuk terus memperhatikan dua bola mata sang gadis tersebut kemana saja. Lumayan lah pemandangan tidak menjadi kering kerontang seperti tanah daerah Jawa saat musim kemarau. Ketika sedang asyik nya memancing birahi, kembali diusik untuk berganti kendaraan. Kepalang urat kepala ini semakin menegang. Apa-apan ini, seakan merasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Yang tadinya kami asyik memanjakan "butut" harus bergelantungan di bus yang baru. "Kampret!", kutuk ku. Untung nya jarak kami dan sang gadis bertambah dekat. terpaksa dan niat, harus pasang aksi. Merasa sebagai anak kota, tentunya wajah kami umumnya berbeda dengan yang ada didalam bus yang diisi oleh jejaka Jawa. Aku yang terlahir langsung dari darah pempek ini, mengambil sedikit gurat-gurat oriental. Sedangkan Irfan yang peranakan Sumatra dan Sunda (apa bedanya Sunda dengan Jawa?), menolak keras wajahnya mirip dengan para njawi. "Gue maju ah, biar tambah deket yah yan", wah…aku kalah langkah dan sigap dengan keadaan. Sial, Irfan semakin dekat dan memasang muka licik senyum tanda kemenangan atas diriku. Bunyi gesekan roda dan aspal lalu diiringi pegas gas dari pedal rem, dilanjutkan dengan semakin melambatkan laju bus. Ada yang turun mungkin, karena dari tadi kondektur tidak berteriak ada penumpang akan naik. Dengan bahasa Jawa nya, aku menangkap ada yang turun. Ternyata mahluk manis itu yang turun, sedih sekali rasanya hiburan kami menghilang, sekarang hanya sepi menggantung di benak pikiran. Kami saling pandang, "Kenapa enggak lo tanya tadi namanya njul?!", sesal ku membiarkan mahluk manis itu lepas begitu saja. "Gila apa lo, enggak liat ada monyetnya tadi!", kesal rupanya Irfan terhadapku yang hanya bisa memerintah…hehehe.

Perjalanan kta lanjutkan, setelah terpotong oleh seonggok daging yang indah tadi…hahaha. Kali ini untuk kali pertamanya aku melihat Mesjid Demak yang termasyhur itu. Rupanya sudah sampai Demak, aku pun segera menepuk bahu Irfan untuk menyadarkan ia agar tidak terlewati memandang Masjid Demak. Laju bus ini sangat cepat, aku tidak mau meninggalkan pandangan mata ku terhadap Mesjid bersejarah tersebut. Sampai-sampai aku menundukkan kepala untuk melihat potongan Mesjid yang terhalang oleh batasan tingkap bus. Tidak terlalu megah, sangat tradisional dan unik. Entah yah, mungkin karena terlalu singkat aku mengamatinya. Tapi sekali lagi aku tidak mau kehilangan mesjid itu, karena ku pikir kapan lagi aku melewati jalan ini. Dan tidak sedikit pun punya minat dan niat untuk singgah dan mengunjungi daerah ini berikutnya. Kota nya tidak menarik dan kecil. Tak ada kesan sebelum melewati Masjid Demak. Aku saja baru menyadari ini Demak, setelah melihat Masjid itu, yang berada tepat pada kelokan jalan.

Habis lah episode Masjid Demak, aku kembali lagi mengamati tepi jalan, memandang kegiatan pagi. Sepeda ontel khas merayap pinggir jalan, sawah lagi yang aku lewati. Pikir ku tidak jemu mereka dengan keseharian seperti itu, apa hiburan mereka?. Deretan banguna dengan kanopi hijau, ku melihat sedikit keatas bangunan untuk melihat apa tempat ini, rupanya sebuah pabrik rokok kecil atau usaha apa lah itu, yang pasti ada semacam pengantar tembakau dengan sepeda ontelnya masuk ke dalam bangunan tersebut. Wah, jangan-jangan ini kudus, sibuk aku mencari petunjuk. Dan ternyata ini adalah Kudus. Hah, semakin masam saja mulut ini untuk menghisap tembakau murni. Dji Sam Soe yang terbayangkan pada ku saat itu, seslop lah dapat gratis…hihihi. Sama seperti Demak, aku tidak tertarik dengan kota ini.

Sepanjang perjalanan, aku ingin cepat smua ini berakhir. Sangat membosankan dan panjang. Ditambah pagi yang mulai menghangat berganti dengan panas, mata ku selalu memandang marka jalan dan petunjuk sudah sampai mana saja aku berjalan. Sudah tidak terhitung berapa kali aku melihat tulisan Surabaya, tapi kok tidak sampai-sampai…KAMPRET!. Berharap setiap kali melihat tulisan itu, tapi tetap saja tidak sampai-sampai. Perjalanan Jalur utara pulau Jawa ini, kita akan banyak melewati tepian pantai dari laut utara Jawa. Ada yang sangat menarik, yaitu badan jalan berbatasan dengan rel pelintasan kereta api dan langsung laut. Lumayan lah melihat tepian laut.

Akhirnya, perjalanan menyiksa ini berakhir juga.  Memakan waktu 5 jam , dan harus menikmati panasnya kota Surabaya. Tidak mau kena dua kali kejadian seperti di Semarang, kami ketika turun dari bus langsung mengambil langkah tegap , sigap, dan cepat mencari bus Malang. Karena masih trauma, segala bentuk penawaran kami acuhkan dan tidak peduli, toh kami masih bisa mencari sendiri. Ada seorang menawarkan bus ke Malang, entah lah ia bermaksud baik, tapi tetap saja kami bila. Enggak Mas!, padahal ujung-ujungnya kami menaiki bus yang ia tawarkan kepada kami. Kami pun menaiki bus yang tepat dengan kegemilangan tanpa sedikit pun berbuat kesalahan…hahaha.

Jalur Pos ini terhenti di Surabaya, kami pun mematahkan jalur itu dengan tujuan berikut ke Malang, tapi kami juga sempat melewati bagian sedikit yang tersisa dari Jalur Pos, Jalan Daendels yaitu, Porong.

"Duduk sini aja dulu Njul, sambil nunggu Denny dateng", ajak ku ketika awal tiba di Terminal Arjosari Malang. Rambut gondrong ini sudah tidak tahu bentuk sisirannya, Baju putih sudah mulai coklat warnanya. Ini mengingatkan ku ketika, aku da Irfan baru turun dari Semeru. Badan baunya sudah tidak karuan, kulit ku menghitam dan pecah-pecah kering, gigi kuning, rambut sudah abu-abu karena debu vulkanik. Maklum saja empat hari berada dalam hutan rimba. Waktu itu pula sempat-sempatnya buat taruhan kalau saja ada perempuan yang mau diajak kenalan maka aku akan memperoleh sebungkus rokok gratis dari kawan. Beruntunglah aku yang tampang ini tidak jelas seperti monyet gunung, ada saja yang mau menanggapinya. Maaf melantur, tapi ku ceritakan sedikit pengalaman konyol ini. Turun dari Semeru kami berhenti di Tumpang, kebiasaan setelah mengembara lima hari tanpa sentuhan wanita, melihat wanita kota seperti kucing dilempari puluhan kepala ikan tenggiri. Melihat gejala ini temanku membuat taruhan, "ayo yan, kalo lo bisa kenalan dapet nomor telpon gw beliin rokok sebungkus", merasa dapat tantangan aku nekat menghampiri dua orang perempuan yang sedang melintas diujung jalan. Jangankan menanyakan nama, hendak didekati dia sudah buang wajah, mempercepat langkah dan menutupi cuping hidungnya. Seketika itu ku dengar teriakan dan ejekan yang memekakkan telingaku dari ujung jalan. Ku hampiri malah tawa mereka semakin keras. Sial, kutuk ku memaki. Tapi ketika kami sedang duduk ditepian trotoar luar terminal Arjosari Malang. Ada Angkutan Kota menurunkan penumpang. Bajunya putih abu-abu dengan tindikan di hidung dan kuping lain dari kebiasaan. "FUCK OF!", betina itu mengoceh tidak karuan dengan logat Jakarta. Kami semua saling pandang, ide gila itu keluar lagi. "Yan sekarang taruhannya di naikin, rokok plus duit 10 ribu". Meluncur ku menanyakan namanya, tanpa basa-basi ia keluarkan kartu nama, dan ia bilang telpon aja ke nomor itu, ku ingat namanya Noni. Jangkrik!, gila bener nih cewe….hahaha. Avontur yang luar biasa, sekarang mau seperti itu tidak bisa lagi. Jiwa terpasung, kawan sejalan pergi untuk hidupnya. Semoga masih bisa seperti itu lagi

Itulah sekilas penyambungan yang entah kemana alurnya…hehehe. Menyangkut dengan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels atau dalam bahasa Belandanya Grote Postweg. Aku bisa membayangkan berapa nyawa anak bangsa itu hilang. Kondisi alam, wilayah, dan kontur yang tidak bisa diperkirakan pada saat itu mungkin yang banyak memakan korban. Rawa, hutan, tebing, dataran tinggi, malaria, serta ancaman pembunuhan yang tiba-tiba dari kompeni harus dilewati para pekerja. Inilah yang harus kembali kita kaji ulang sejarah dan perlu dibuat sebagai bahan pengingat serta acuan tentang sejarah bangsa ini.

nb: Neousis akan mencoba menggalinya, doakan kami kembali demi romantisme.