Jalan Grote Postweg, dalam Montase Jurnalku
Membaca salah satu karya Pramoedya yang bertajuk Jalan Raya Pos, Jalan Daendles. Membuat isi kepala ku berputar dan seperti tertarik kebelakang pada tahun 1809. Membayangkan bagaimana proses pembuatan jalan itu, yang banyak memakan korban pribumi. Seiring itu aku pun berusaha menyambung montase cerita itu dengan empiris ku pada sekitar tahun 2002 an. Aku tidak berusaha membahas mengenai potongan sejarah genosida tersebut. Hanya sekedar menceritakan dan membayangkan betapa jauhnya jarak tersebut, dan itu juga karena secara tidak sengaja melewati beberapa bagian wilayah jalan raya pos, jalan Deandles. Selain itu banyak kejadian yang lucu dan mengesalkan selama perjalanan itu. Pada bagian wilayah jalan raya pos ini, aku potong kompas langsung ke Bandung, ini memotong jalur Anyer-Cilegon-Banten-Serang-Tangerang-Batavia-Jatinegara/Meester Cornelis-Depok-Bogor/Buitenzorg-Priangan-Cianjur-Cimahi.
Pada cerita ini kemungkinan, aku tidak akan secara detil terhadap penamaan tempat dan wilayah daerah tersebut, karena aku pada perjalanan itu sambil lalu, baik itu karena bersendau gurau, tertidur, mengeluh, atau beradu pendapat dengan kawan seperjalanan .
Anyer-Panarukan, sejarah mencatat ini menjadi jalan terpanjang pada masa itu menyamakan dengan jalan antara Amsterdam-Paris. Bisa dibayangkan berapa banyak rakyat kita mati dan tidak terkuburkan pada proses pembuatan jalan tersebut. Sekarang kita seakan lupa dengan ribuan liter darah yang "menyuburkan" jalan tersebut, kita tidak mencatat sejarah itu sebagai alat banding untuk protes terhadap kekejaman kolonial. Menyedihkan sekali bagaimana bangsa kita ini diperbudak kompeni.
Sudah lupa kan tentang itu, kembalikan memori tersebut dengan empiris ku saja yah..hihihi. Sekitar tahun 2002-an, setelah aku ingat-ingat lagi pas membaca karya Pramoedya, aku sempat melewati beberapa bagian Jalan Raya Pos. Itu pun tidak secara sengaja. Bagaimana itu bisa terjadi, lain tidak karena kebodohan dan keegoisan kawan sekaligus sahabat kental ku Irfan Hendrian (Panjul). Dan bodohnya lagi aku pun menyanggupi petualangan tersebut. Awal ceritanya adalah memenuhi undangan seorang teman Denny di timur Jawa, tepatnya Malang. Ia berhajat ingin melepas lajang, tapi Irfan tidak memberitahu ku secara gamblang tujuan sebenarnya untuk ke Malang. Irfan menanyakan keluangan waktu ku untuk bersoan ke Malang dan keisengan ia melontarkan wacana mengisi liburan. Yah, pada saat itu aku tidak mempunyai rencana bepergian, langsung menyanggupi ajakan ia.
Petualangan dimulai dari Bekasi-Bandung, Irfan pada saat itu ingin membeli sepatu tracking yang sedang in dan sekalian bisa dibuat untuk acara formal. Sial, padahal perjalanan ke Malang bisa langsung menggunakan kereta api, ini harus loncat dari satu bis-ke bis yang lain, duh…melelahkan sekaligus memboroskan baik itu biaya maupun tenaga. Dalam hati aku bergumam, "bakalan dekil gw". Dasar otak dan jiwa kelewat liar, semua hal itu dikesampingkan dulu, lihat saja nanti bagaiman cerita itu bergulir…hihihi. Tujuannya adalah toko outdoor sport Eiger di kawasan cihampelas (kalu tidak salah yah, karena gw kurang menguasai jalur Bandung). Tuntas lah hajat Irfan mempunyai sepatu track itu, tentukan tujuan berikut menuju terminal Leuwipanjang. Karena hanya itulah yang kami ketahui terminal satu-satunya di Bandung. Sialnya, ternyata terminal itu hanya untuk trek pendek saja, tidak ada untuk angkutan luar kota antar provinsi. Seperti anak ayam kehilangan induk, kami bertanya-tanya dalam hati, menenangkan diri karena kehilangan orientasi. Ternyata kita harus menuju Cicaheum (aku lupa apa namanya, karena menderita gejala akut lupa yang menahun) . Lanjut terus, merelakan ongkos dan waktu yang terbuang. Karena kami sudah mengetahui untuk menuju Jawa Tengah ada jam khusus untuk angkutan yang menuju kesana. Dugaan kami tidak meleset, telat sudah dan makin merana. Tujuan Jogjakarta sudah tidak ada, dan untuk Jawa Tengah pun sudah tidak ada pula menyisakan tujuan Purwokerto. Aku dan Irfan sibuk mengukur waktu perjalanan.Bodohnya kami menggunakan waktu tempuh dari Bekasi-Purwokerto dengan perhitungan antara 9-10 jam. Dan ini kali pertamanya aku menaiki AKAP PATAS (Angkutan Luar Kota Antar Provinsi Cepat Terbatas) yang benar-benar PATAS. Bayangkan dalam kendaraan itu kami hanya bertujuh, dan itu dengan bangku 2 seat. Wihh…bebas lancar dan sentosa, tinggal pilih dan seenak hati duduknya. Aku dan Irfan memilih untuk sendiri-sendiri, dengan bangku yang kami lipat depan belakang, kaki selonjoran biar leluasa merebahkan tubuh yang mulai dihinggapi rasa lelah.
"Njul, kemungkinan kita sampe di Purwokerto setengah empat pagi, jadi pasti ada bis yang ke jogja jam segitu", ujar ku. Omongan sambil lalu itu menyelengi sendau gurau kita dan membahas mengenai sepatu serta kartu diskon Eiger yang waktu tenggatnya tinggal beberapa bulan saja. Kami berdua pun saling membuang pandangan menyaksikan jalan antara Cicaheumi-Purwokerto. Irfan sibuk menceritakan tentang Cadas Pangeran dan berliuknya kondisi jalan disana setelah melewati Sumedang kelahiran ibundanya, dan aku sambil merebahkan tubuh serta membuka baju ku agar tidak kotor, agak mengangkat kepalaku lalu ku serongkan ke kanan muka, agar dapat menyimak cerita ia. Entah kami melewati Cadas Pangeran atau tidak karena pada saat itu sudah malam hari, kami hanya bisa melihat temaram lampu diluar pandangan kaca gelap bis. Sial, inilah tidak nikmatnya perjalanan malam hari. Padahal aku ingin mengetahui sekali bagaimana rawannya daerah tersebut. Dan disinilah peristiwa yang tak lazim terjadi antara Gubernur Jendral Daendels dan Pangeran Kornel Wirakusumah. Ya, peristiwa salaman tangan kiri yang dilakukan Pangeran Kornel Wirakusumah terhadap Daendels. Di tangan kanan sang Pangeran sudah siap keris yang terhunus, ini merupakan tabiat yang tak lazim dilakukan oleh bangsa Asia. Ini merupakan bentuk protes sang Pangeran terhadap politik dari Daendels yang terkenal kejam. Pikiran ku pun melayang kembali, bagaimana proses pembuatan jalan itu memotong tebing curam, pasti banyak memakan korban. Karena pada saat itu belum mengenal proses pembuka lahan dengan dinamit. Bayangkan saja pada saat itu keadaannya seperti apa jalur itu. Membuka jalur yang tak lazim.
Jam pun sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 WIB, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat SPBU dengan tanda jalan, Jalan raya Purwokerto (kalau tidak salah). Aku pun melonjak dari kursi duduk dan mengambil baju ku yang ku tanggalkan agar tidak kotor. "Njul kita sampe di Purwokerto, gimana nih, masak mau nginep lagi di purwokerto", kami saling pandang dan bingung bukan main. Kami tidak mau peristiwa menginap di Terminal terulang lagi karena kemalaman. Terpaksa kami sibuk merapatkan barisan dan me reschedule ulang, sekali lagi menenangkan diri. Karena hanya itu lah yang kami bisa.
Tiba di Terminal Purwokerto yang sudah akrab dengan kami, kami pun sedikit melonggarkan urat kemaluan yang menegang menahan gejolak kandung kemih yang sudah mulai penuh dengan urine. Diskusi antara kami tidak jauh adalah mencari tujuan mana saja menuju Jawa Tengah atau terpaksa menjemput pagi di terminal ini. Pucuk di cinta ulam pun tiba. SEMARANG, yup, ternyata ada bis menjuju Semarang. Berarti sudah ada sebagian wilayah jalan raya pos tersebut, yaitu Bandung, Brebes-Tegal, dan kemudian menuju ke Semarang. Tanpa pikir panjang lagi, kami pun menaiki bis itu. Dalam hati setengah was-was, tapi nekat yang penting sampai tujuan ke Jawa Tengah selanjutnya menuju Surabaya. Padahal kami miskin pengetahuan tentang jalur-jalur menuju Malang dengan sistem "loncat-loncat". Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30.
Rasa kantuk dan lelah yang sangat sudah mulai tidak bisa ditolerir, tubuh ini sudah tidak bisa menahannya. Selama Perjalanan kami berdua terus bangun dan tidur, seperti kebiasaan angkutan luar kota dan itu perjalanan menjelang pagi hari tentunya banyak penumpang turun naik membawa sejumlah logistik yang tak tahu aku apa itu. Kami duduk pada bangku bagian belakang yang memanjang. Pada awal perjalanan bangku masih terasa nyaman utnuk kami tempati dan duduki, karena itu pulalah kami dengan cepat dibuai mimpi indah. Tapi lama-kelamaan posisi duduk kami menjadi seperti berada di menara Pisa Italia yang terkenal itu. ALAMAK!!!ternyata bangku kami sudah terisi penuh manusia pagi, dan itu bersender ke samping kanan semua. Aku yang berada paling kanan merasa sesak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku pun meminta pindah posisi dengan Panjul, dan ia pun mengalah. Bukannya berhenti, hal ini terus berlangsung sampai pada daerah yang tak ku ketahui namanya tempatnya. Penderitaan lanjutannya adalah, udara yang dingin menusuk kulit. Angin malam coy! Tentunya menyiksa sekali badan ini ditampar hembusan angin ketika kaca pintu bis dibuka oleh sang kondektur untuk meneriakkan dan mencari penumpang. Pengen negur tuh kondektur tapi nyali lagi nggak besar-besar banget, sudah itu jauh dari markas, bisa buang nyawa.
Hah…akhirnya kerlap-kerlip lampu jalan kota seperti kebiasaan pusat kota Jawa umumnya, sudah didepan pelupuk. Jam menunjukkan pukul 5 pagi, sebentar lagi sampai terminal Semarang. 5.30 WIB tepatnya kami menjejakkan kaki di Semarang. Beli kudapan dan air mineral untuk mengisi perut, dan membakar sebatang tembakau racikan, lalu celingak-celinguk untuk tujuan berikut, Surabaya. Kaki ku melangkah menuju wartel, untuk kontak dengan Denny memberitahukan posisi kami saat ini, sekalian menanyakan berapa lama lagi perjalanan ini tuntas. Kota yang berasal dari sebutan asem dan arang ini, tidak mempunyai kesan apapun pada ku saat itu. Padahal kota ini mempunyai sejarah yang menarik, dan menjadi kota perdagangan yang pesat di Jawa medio 1800 an, melalui pelabuhan besarnya. Dan di Semarang , saat dulu wilayah pemukimannya terkotak-kotak menurut etnis. Dataran muara kali Semarang merupakan pemukiman orang Belanda dan Melayu, Sekitar jalan R.Patah ditempati etnis Cina, sedangkan orang Jawa sepanjang kali Semarang dan cabang-cabangnya. Selain itu yang terbayangkan pada saat menginjakkan kaki pertama di Semarang adalah bayangan kota tua nya yang mengusik sangat pikiran. Ingin sekali melihat bangunan lama karakter khas Eropa tahun 1700-an, serta legenda laksamana Ceng-Ho. Padahal belum ada catatan yang otentik apakah Cheng-Ho pernah singgah di Semarang, ada yang mengatakan pula malah jurumudi Cheng-ho lah yang mendarat. Tapi apa daya roda salah satu moda transportasi darat itu tidak berjalan lurus sesuai pikiran, melintas pun barang sekejap mata tidak dituruti.
Kembali kepada cerita di terminal. Belum lama kami berjalan menuju peron terminal, kami sudah dihampiri para calo. Biasalah, pasang tampang cuek dan garang sedikit. Ternyata itu semua bukan ilmu pasti yang bisa diperkirakan dan berjalan sesuai teori. Mereka (calo), semakin beringas menghadapi kami. Kami pun pasang badan, Irfan yang bertubuh lebih tinggi dari aku yang terkena getahnya. Ia yang terus dipepet para calo, sampai-sampai kami berdiskusi singkat plus bahasa sandi untuk pura-pura menelpon. Ternyata ruang kotak KBU wartel tempat sembunyi dadakan itu tidak mempan menghadang niatan mereka. Pintu kami dijaga dan gerak-gerik tubuh kami diawasi terus, tidak ada jalan keluar kami pun melangkah pasti dengan langkah tegap. Seperti lagu anak-anak…HAP, LALU TERTANGKAP. Ada gula ada semut, gula sibuk diperebutkan semut, bersitegang, pikiran kami terpecah antara waspada dengan barang bawaan dan bimbang menentukan keputusan. Kami di dorong-dorong, sedangkan aku berusaha menengahi dan menarik Irfan. Bingung harus berbuat apa, karena mereka lebih ganas, terpaksa mengalah dalam kondisi pasrah, sial! posisi tak bisa melawan adalah pecundang. Kami harus menerima itu dengan terpaksa dan menaiki bis yang mereka rekomendasikan. Di dalam bis kami menanyakan tarif bis sebenarnya ke penumpang lain yang satu bis dengan kami. Setengah terperanjat kaget mendengar tarif yang sebenarnya, kami pun main salah-salahan. 2 kali lipat dari tarif resmi, kami niatnya ingin menghemat, ternyata harus keluar biaya lebih banyak. Pagi yang sejuk, dan cerah, berganti dengan hari yang panas, penuh amarah dan dendam. Ditambah dengan suasana tepi jalanan yang kami lalui begitu gersang panas membakar. Kami saling membuang pandang dan menyalahkan, lebih parah adalah kami menganggap satu sama yang lain adalah pecundang yang gampang dikalahkan oleh segerombolan orang Jawa..hehehe(bukannya bermaksud SARA), itu dikarenakan tipikal kami adalah orang Sumatra. Tidak ada habis-habisnya saling menggerutu, tapi kadang-kadang sedikit akur dengan komentar mengenai pemandangan wilayah-wilayah yang kami lewati. Pengobatan kala itu adalah pematang sawah yang dihujani oleh embun pagi menggantung dengan bumbu sinar matahari. Petani baru saja mengangkat cangkulnya untuk memulai hari kejemuan dalam peluh bayaran harga ijon, sungguh tragis. Mereka merayapi tepi jalan aspal dan lempur kering tengah sawah. Sederhana tapi kaya arti.
Ditengah gemeretak gesekan gigi yang menahan geram, rupanya naluri lelaki kami bangkit. Hey!…ada mahluk manis, ditengah gempuran Java’s Criminal Cat (para kucing garong Jawa) diselasar tengah ruang bus. Lumayan olah mata buat inspirasi sang birahi selepas tiba di kota tujuan…hahaha. Kami berdua saling melepas gurau, "Njul, kayaknya tuh cewe ngeliatin kita berdua deh", aku sedari tadi mengamati perempuan yang sedang dijaga ketat oleh pria nya. Irfan tidak mau kalah dan mengatakan bahwa ia lah yang sedang diperhatikan oleh perempuan tersebut, sampai kami berdua mencapai kesepakatan untuk terus memperhatikan dua bola mata sang gadis tersebut kemana saja. Lumayan lah pemandangan tidak menjadi kering kerontang seperti tanah daerah Jawa saat musim kemarau. Ketika sedang asyik nya memancing birahi, kembali diusik untuk berganti kendaraan. Kepalang urat kepala ini semakin menegang. Apa-apan ini, seakan merasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Yang tadinya kami asyik memanjakan "butut" harus bergelantungan di bus yang baru. "Kampret!", kutuk ku. Untung nya jarak kami dan sang gadis bertambah dekat. terpaksa dan niat, harus pasang aksi. Merasa sebagai anak kota, tentunya wajah kami umumnya berbeda dengan yang ada didalam bus yang diisi oleh jejaka Jawa. Aku yang terlahir langsung dari darah pempek ini, mengambil sedikit gurat-gurat oriental. Sedangkan Irfan yang peranakan Sumatra dan Sunda (apa bedanya Sunda dengan Jawa?), menolak keras wajahnya mirip dengan para njawi. "Gue maju ah, biar tambah deket yah yan", wah…aku kalah langkah dan sigap dengan keadaan. Sial, Irfan semakin dekat dan memasang muka licik senyum tanda kemenangan atas diriku. Bunyi gesekan roda dan aspal lalu diiringi pegas gas dari pedal rem, dilanjutkan dengan semakin melambatkan laju bus. Ada yang turun mungkin, karena dari tadi kondektur tidak berteriak ada penumpang akan naik. Dengan bahasa Jawa nya, aku menangkap ada yang turun. Ternyata mahluk manis itu yang turun, sedih sekali rasanya hiburan kami menghilang, sekarang hanya sepi menggantung di benak pikiran. Kami saling pandang, "Kenapa enggak lo tanya tadi namanya njul?!", sesal ku membiarkan mahluk manis itu lepas begitu saja. "Gila apa lo, enggak liat ada monyetnya tadi!", kesal rupanya Irfan terhadapku yang hanya bisa memerintah…hehehe.
Perjalanan kta lanjutkan, setelah terpotong oleh seonggok daging yang indah tadi…hahaha. Kali ini untuk kali pertamanya aku melihat Mesjid Demak yang termasyhur itu. Rupanya sudah sampai Demak, aku pun segera menepuk bahu Irfan untuk menyadarkan ia agar tidak terlewati memandang Masjid Demak. Laju bus ini sangat cepat, aku tidak mau meninggalkan pandangan mata ku terhadap Mesjid bersejarah tersebut. Sampai-sampai aku menundukkan kepala untuk melihat potongan Mesjid yang terhalang oleh batasan tingkap bus. Tidak terlalu megah, sangat tradisional dan unik. Entah yah, mungkin karena terlalu singkat aku mengamatinya. Tapi sekali lagi aku tidak mau kehilangan mesjid itu, karena ku pikir kapan lagi aku melewati jalan ini. Dan tidak sedikit pun punya minat dan niat untuk singgah dan mengunjungi daerah ini berikutnya. Kota nya tidak menarik dan kecil. Tak ada kesan sebelum melewati Masjid Demak. Aku saja baru menyadari ini Demak, setelah melihat Masjid itu, yang berada tepat pada kelokan jalan.
Habis lah episode Masjid Demak, aku kembali lagi mengamati tepi jalan, memandang kegiatan pagi. Sepeda ontel khas merayap pinggir jalan, sawah lagi yang aku lewati. Pikir ku tidak jemu mereka dengan keseharian seperti itu, apa hiburan mereka?. Deretan banguna dengan kanopi hijau, ku melihat sedikit keatas bangunan untuk melihat apa tempat ini, rupanya sebuah pabrik rokok kecil atau usaha apa lah itu, yang pasti ada semacam pengantar tembakau dengan sepeda ontelnya masuk ke dalam bangunan tersebut. Wah, jangan-jangan ini kudus, sibuk aku mencari petunjuk. Dan ternyata ini adalah Kudus. Hah, semakin masam saja mulut ini untuk menghisap tembakau murni. Dji Sam Soe yang terbayangkan pada ku saat itu, seslop lah dapat gratis…hihihi. Sama seperti Demak, aku tidak tertarik dengan kota ini.
Sepanjang perjalanan, aku ingin cepat smua ini berakhir. Sangat membosankan dan panjang. Ditambah pagi yang mulai menghangat berganti dengan panas, mata ku selalu memandang marka jalan dan petunjuk sudah sampai mana saja aku berjalan. Sudah tidak terhitung berapa kali aku melihat tulisan Surabaya, tapi kok tidak sampai-sampai…KAMPRET!. Berharap setiap kali melihat tulisan itu, tapi tetap saja tidak sampai-sampai. Perjalanan Jalur utara pulau Jawa ini, kita akan banyak melewati tepian pantai dari laut utara Jawa. Ada yang sangat menarik, yaitu badan jalan berbatasan dengan rel pelintasan kereta api dan langsung laut. Lumayan lah melihat tepian laut.
Akhirnya, perjalanan menyiksa ini berakhir juga. Memakan waktu 5 jam , dan harus menikmati panasnya kota Surabaya. Tidak mau kena dua kali kejadian seperti di Semarang, kami ketika turun dari bus langsung mengambil langkah tegap , sigap, dan cepat mencari bus Malang. Karena masih trauma, segala bentuk penawaran kami acuhkan dan tidak peduli, toh kami masih bisa mencari sendiri. Ada seorang menawarkan bus ke Malang, entah lah ia bermaksud baik, tapi tetap saja kami bila. Enggak Mas!, padahal ujung-ujungnya kami menaiki bus yang ia tawarkan kepada kami. Kami pun menaiki bus yang tepat dengan kegemilangan tanpa sedikit pun berbuat kesalahan…hahaha.
Jalur Pos ini terhenti di Surabaya, kami pun mematahkan jalur itu dengan tujuan berikut ke Malang, tapi kami juga sempat melewati bagian sedikit yang tersisa dari Jalur Pos, Jalan Daendels yaitu, Porong.
"Duduk sini aja dulu Njul, sambil nunggu Denny dateng", ajak ku ketika awal tiba di Terminal Arjosari Malang. Rambut gondrong ini sudah tidak tahu bentuk sisirannya, Baju putih sudah mulai coklat warnanya. Ini mengingatkan ku ketika, aku da Irfan baru turun dari Semeru. Badan baunya sudah tidak karuan, kulit ku menghitam dan pecah-pecah kering, gigi kuning, rambut sudah abu-abu karena debu vulkanik. Maklum saja empat hari berada dalam hutan rimba. Waktu itu pula sempat-sempatnya buat taruhan kalau saja ada perempuan yang mau diajak kenalan maka aku akan memperoleh sebungkus rokok gratis dari kawan. Beruntunglah aku yang tampang ini tidak jelas seperti monyet gunung, ada saja yang mau menanggapinya. Maaf melantur, tapi ku ceritakan sedikit pengalaman konyol ini. Turun dari Semeru kami berhenti di Tumpang, kebiasaan setelah mengembara lima hari tanpa sentuhan wanita, melihat wanita kota seperti kucing dilempari puluhan kepala ikan tenggiri. Melihat gejala ini temanku membuat taruhan, "ayo yan, kalo lo bisa kenalan dapet nomor telpon gw beliin rokok sebungkus", merasa dapat tantangan aku nekat menghampiri dua orang perempuan yang sedang melintas diujung jalan. Jangankan menanyakan nama, hendak didekati dia sudah buang wajah, mempercepat langkah dan menutupi cuping hidungnya. Seketika itu ku dengar teriakan dan ejekan yang memekakkan telingaku dari ujung jalan. Ku hampiri malah tawa mereka semakin keras. Sial, kutuk ku memaki. Tapi ketika kami sedang duduk ditepian trotoar luar terminal Arjosari Malang. Ada Angkutan Kota menurunkan penumpang. Bajunya putih abu-abu dengan tindikan di hidung dan kuping lain dari kebiasaan. "FUCK OF!", betina itu mengoceh tidak karuan dengan logat Jakarta. Kami semua saling pandang, ide gila itu keluar lagi. "Yan sekarang taruhannya di naikin, rokok plus duit 10 ribu". Meluncur ku menanyakan namanya, tanpa basa-basi ia keluarkan kartu nama, dan ia bilang telpon aja ke nomor itu, ku ingat namanya Noni. Jangkrik!, gila bener nih cewe….hahaha. Avontur yang luar biasa, sekarang mau seperti itu tidak bisa lagi. Jiwa terpasung, kawan sejalan pergi untuk hidupnya. Semoga masih bisa seperti itu lagi
Itulah sekilas penyambungan yang entah kemana alurnya…hehehe. Menyangkut dengan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels atau dalam bahasa Belandanya Grote Postweg. Aku bisa membayangkan berapa nyawa anak bangsa itu hilang. Kondisi alam, wilayah, dan kontur yang tidak bisa diperkirakan pada saat itu mungkin yang banyak memakan korban. Rawa, hutan, tebing, dataran tinggi, malaria, serta ancaman pembunuhan yang tiba-tiba dari kompeni harus dilewati para pekerja. Inilah yang harus kembali kita kaji ulang sejarah dan perlu dibuat sebagai bahan pengingat serta acuan tentang sejarah bangsa ini.
nb: Neousis akan mencoba menggalinya, doakan kami kembali demi romantisme.