Pelangi Toh Pasti Kembali 2
Ku tanya sama kalian semua!, kapan terakhir melihat pelangi?.
pertanyaan yang mengusik pikiran kita, yah…kapan terakhir melihat pelangi. Aku menanyakan seperti ini, karena membaca lagi tentang Laskar Pelangi. Baru ku sadari aku sudah lama tidak melihat pelangi yang begitu tajam di pelupuk mata, berkesan dalam hati, tak lekang dimakan waktu.
Pelagi ketika usia ku belum memasuki belasan tahunan mungkin sering ku nikmati, tetapi selepas dari masa sekolah memasuki kuliah, aku sudah kehilangan pelangi. Aku pada saat itu tidak tahu lagi kapan terakhir melihat pelangi, merindukannya hadir di mata ku. Selalu terbayang para bidadari melintasi pelangi dan mereka berhujung dimana, apakah mereka sedang bermandian di sebuah pancuran bambu buatan jelata untuk pengairan sawah, atau air terjun deras. Beruntung yang menemukan para bidadari dalam kepolosan itu. Selalu ingin mengejar pangkal dan ujung pelangi, tapi tidak tahu ia hadir dan berakhir dimana.
Aku pun sempat bertanya mengapa pelangi itu punya warna, darimana warna-warna itu. Perlu penjelasan ilmiah, sekali lagi sayang aku tidak bisa menjelasakannya karena aku bukan penikmat fisika dan fisikawan. Tapi aku mencoba menjelaskannya : Warna-warna lazim diindentifikasi dari panjang gelombang, kumpulan warna-warna yang dinyatakan dalama panjang gelombang ini disebut spektrum warna. Nah dala spektrum wana itu ada komponen warna putih. Warna putih ini bisa diuraikan dengan alat prisma kaca. Sedangkan pada alam, bukan hanya prisma kaca yang bisamenguraikan warna putih tersebut. Tetesan air pun bisa menguraikan warna putih menjadi berwarna-warna sehingga terciptalah pelangi. Dan ada yang perlu diketahui pula bahwa bentuk pelangi itu ternyata lingkaran, bukan setengah lingkaran seperti yang biasa kita lihat loh.
Jadi pelangi baru tampak ketika ada butiran-butiran air yang mengenai cahaya, biasanya pelangi akan tampak setelah hujan, gerimis, dan tepian air terjun. Sekarang aku sudah jarang sekali melihat pelangi. Dimana pelangi? Pelangi terakhir yang sangat indah ku lihat di daerah Jonggol. Daerah itu merupakan pemukiman yang belum rampung. Tanahnya menurun dan masih banyak tanah lapang, jadi masih sangat luas daerahnya. Kondisi pada saat itu sehabis hujan turun, dan langit pun langsung cerah ditambah suasan petang. Langit bermandikan warna kuning memerah, awan melembut seperti kapas sisa awan hitam pekat setelah menumpahkan hajatnya. Aku bersama kawan-kawan aktivis kampus ingin menjenguk seorang kawan seperjuangan yang terkena musibah, rumahnya dirusak oleh orang-orang tidak dikenal. Kini aku berdiri ditanah lapang, memandang takzim kepada ilahi menengadahkan kepala ku, mengagumi pemandangan. Tanahnya basah rapuh terkena air, tanah merah itu menempel di sandalku sehingga menyulitkan aku berjalan. Tinggal rintik yang ia sisakan untuk yang terakhir membasahi bumi ini. Aku susuri jalan menurun berundak, sesekali aku memayungi kepalaku dengan tangan, kadang berlari kecil mempercepat langkah, memasuki gang kecil dari perumahan tersebut sebelum jalan ini ditutup aksesnya. Perdu-perdu basah layu, mengeluarkan aura ada kehidupan baru.
Seorang aktivis muda terluka batinnya, ingin menegakkan kebenaran di tanah lahirnya. Sisa pecahan kaca dipan rumah berarakan di lantai, dan menyisakan tingkapan yang melompong, foto-foto orang berjenggot memakai sorban sebagai saksi kekejaman gerombolan muka hitam tak pernah kena wudhu yang murka diusik kegiatan maksiatnya. Kami hanya mampu berucap semoga kau sabar kawan, konsekuensi orang menebarkan kebajikan ditanah jahiliyah. Tanah licin ini semakin menyulitkan kami berjalan, bekas tanah merah yang kami bawa membekas dilantai dari semen yang mulai mengelupas kulitnya. Semakin lama orang berdatangan, ruang untuk kami juga semakin menciut. Ada semacam pertemuan untuk membahas kronologis kejadian. Orang-saling bertatap curiga terhadap orang baru antisipasi ada mata-mata. Alis mereka naik, mata tajam seperti elang mengawasi setiap gerak-gerik. Termasuk ketika kami datang, tapi semua berubah jadi senyum solidaritas ketika kami menyapa sang kawan aktivis muda tersebut.
Pertemuan dimulai dengan duduk bersila membuat lingkaran, diujung pembicara dengan bersorban khas, pangkat sebuah ormas agama yang terkenal dengan cara "eksekusi"nya . Teh manis penyejuk tenggorokan mulai berkeliling, perkenalkan identitas satu-persatu. Kami mahasiswa muda pendobrak reformasi, bangga sebagai penyemat aktivis akademika, ditengah kaum marginal, naik kelas lah strata kami dimata mereka. Lagi-lagi mata para tetua yang tak ku kenal namanya dalam bingkai mengawasi cermat tiap bola mata yang mengamati, Orang berjenggot memakai sorban dalam bingkai. Mereka mulai merancang strategi jika malam ini ada serangan dadakan, berbekal senjata ala pendekar kampung, otot mereka andalkan. Gila ini, aku terjebak dalam mandala peperangan!. Apa yang mesti ku raih pertama kali ketika perang "salib" ini terjadi, palingan jurus lari tunggang langgang. Padahal aku tidak kenal dengan si aktivis muda ini, aku tergerak pun karena ajakan seorang teman, dan itu pun menghindari mata kuliah sekaligus piknik gratis…hahaha. Stres aku memikirkanya, aku pun ingin mencari udara segar keluar dari rancangan tersebut. Masam sudah mulut ini, kelu lidah tidak terkena tembakau. Kembali melintasi jalanan licin, perdu-perdu itu tidak tampak cemas dengan dan akan terjadi kalau-kalau peristiwa ini benar terjadi peperangan yang kedua. Tak takut ia terinjak kaki-kaki kuat para penerjang.
Walaupun langit mulai cerah, tapi rintik-rintik hujan belum reda. Sampai diujung gang kami mulai mencari warung rokok. Bakar dulu lah sembari otak ini merespon dengan baik zat nikotin. Tak ku sangka begitu membalikkan tubuh ke arah barat. Ku lihat horizon cakrawala memerah dihiasi selendang pelangi. Pelangi terbaik yang pernah ku lihat, begitu nyata, tajam dan bernas warnanya. Merah, kuning, hijau dilangit yang kuning memerah. Aku tertegun, langkahku terhenti, badanku kaku, tangan ini tidak sadar memegang cigarette. Subhanallah…baru saja hati ini berkata sudah berapa lama aku tidak melihat pelangi. Ia menampakkan wujudnya dengan cantik dan indah, laksana surai kuda yang menjuntai menggapai tanah. Pelangi itu mencari pijakan, jembatan dari nirwana menghantarkan para bidadari yang ingin mandi. Pikiran ku mulai ngeres dimana pelangi berujung, ingin mengintip bidadari dengan polos mencibak air terjun ke tubuh mereka yang putih bersih, pasti sangat seksi…hehehe. Ku hentikan langkahku, lutut serentak kompak dengan otak rehat sejenak menekuk dipinggir trotoar jalan. Langit begitu bersih, efek blair dari matahari menambah tajam sinar yang dihasilkan dari prisma kaca alam yaitu tetesan air. "KAMERA…KAMERA", aku memekik panik tidak ingin ketinggalan momen. Sial, barang lawas pemberian ayahku yang sering ku bawa-bawa kali ini tertinggal. Begitu pula dengan temanku. Ah, pemandangan indah lewat begitu saja tersimpan dalam memori saja. Ingat kala itu, aku ingat kembali dengan gadis lamunan malam pengusik tidur dibuai mimpi indah. Di mata ku ia cantik seperti pelangi Jonggol dan Kuta Lombok, beruntung kau punya wajah yang diidamkan setiap lelaki, perangai keras tapi lembut menyentuh. Matahari mulai merendah, sebagai penutup perjumpaan kami dengan pelangi. Kini aku meninggalkan pelangi, kembali ke tempat semula berharap cemas dan berdoa semoga tidak benar-benar nekat para penerjang untuk melakukan serangan kedua.
Sekarang dimana kta bisa menemukan pelangi lagi, semua berganti dengan pohon besi dan beton menjulang, tetesan air sebagai salah satu media tidak bisa berfungsi diganti dengan embun polusi. Sudah jarang sekali kita pasti melihat pelangi, salah satu fenomena alam yang sering dibuat orang dalam kandungan syair syahdu penghantar cinta sang pujangga. Tapi ku yakin kawan…Pelangi Toh Pasti Kembali!
October 22nd, 2007 at 1:18 am
Iya, kau jadi mengingatkanku akan pelangi. Hm..benar..dah berapa lama yaa aq tidak lihat pelangi?yang kulihat cuma pelangi dimatamu, halaahhh:-P. Klo dulu, aq bersama teman2 kecilku pernah mengkhayalkan klo suatu saat jika kita besar nanti kita akan naek perahu, pergi ketengah lautan untuk menjemput pelangi, menaiki lintasan pelangi yang menyentuh bumi di lautan. Hi..hi..khayalan anak2. Tapi tentang buku laskar pelangi, kamu dah baca juga?
Pelangi memang salah satu karya Tuhan yang menakjubkan. Wonderful!