Archive for February, 2008

Demam Chinca Laura

Saturday, February 23rd, 2008

sekarang lagi booming soal Chinca Laura (Cinta Laura), seorang anak remaja Indo yang tumbuh berkembang di Indonesia.

Masih ingat Ida Iashya, Artis tahun 80-90 an yang cantik. Nah ini dia renkarnasi Ida Iashya. Dengan logat baratnya gitchu campur adyuk same language Indonesia, jadi kachau beyat. Enggak tau tuh Chinca  punya ide kayak begitchu, padahal tuh anak lahir dan besar di Indonesia. Dan Infotainment pun kerajingan ngeliput tentang dia, dan dia pun sibuk nyerocos ga jelas dengan ala bibir monyong kayak ikan bawal kebetot tali pancingan.

gw seneng banget tuh waktu ngeliat dia jatuh terduduk di studionya Ahmad Dhani. Biar makin malu dia…hahaha (jahat banget ya gw). Bukannya apa-apa, tuh anak enggak tahu diri banget ya!, tinggal di indonesia berbelas tahun, tapi bahasa Indonesianya so bad begitchu. Apalagi dia kalo tinggal di amrik n Europe gitchu yah…makin faseh aja bahasa Indonesianya, malah bahasa Sunda bisa dikuasain. Gila!!!

Apa yang ada di kepala keluarganya ya melihat dan mendengar dia berbicara seperti itu, terus mantan pacarnya enggak kelimpungan apa ngadepin cumi-cumi kayak gitchu. Biar look smart and pintcher kali yah (eh sama aja kaleee smart ama pinter), ngomong english sambil diulek sama bahasa Indonesia…hebat banget taktiknya, biar makin eksis di dunia artis. Padahal kalo liat sinetronnya, tuh bibir enggak sampe monyong-monyong banget…dasar Chinca!.

Pada waktu lalu trend bahasa Indonesia dipatah-ptahin make bahasa Inggris setengah-setengah, eh si Chinca malah nambahin make logatnya…makin ngejomplang aja tuh perbahasaan di mata publik. Makin turun dah pasaran tuh artis. Dulu pernah gw ngeliat tayangan seorang paranormal yang salah satu adik kandung artis (Sehertian’s Family)…ngomongnya campur aduk tapi satu arti…dia waktu itu ngomong kata, karena because…gila ngga disaring dulu tuh otak tuk milih kata!. Terus ada yang ngomong bahasa inggris terus karena ngga bisa lagi ganti bahasa Indonesia…KEBLINGERRRR!!!. Mendingan gw dah ngaku aja langsung sebagai pengguna bahasa ingris aktif (maksudnya aktif mendengar).

Belum lagi lagu Melly Goeslaw yang feat BBB, ada liriknya yang once upon time…(terusannya ga tau lagi gw, dah kadung enek!). Ada lagi yang judulnya Butterfly, liriknya pas di reff…butterfly fly away so high…emang sih enak tapi ngaco abis!!! malah gw kira ini salah satu jingle salah satu maskapai penerbangan loh.

kachau dech khalauw beghiniy…i jadi so confuse abis!…

MAKAN TUH LONDO SETENGAH JADI!

Untuk Jurnalisme Bermartabat dan Berkualitas

Monday, February 11th, 2008

Bahas tentang kebebasan pers saja lah, mumpung masih hangat dan dekat dengan Hari Pers Nasional (HPN)

Bisa jadi ini menjadi momok untuk kalangan penguasa pemerintahan baik itu pusat maupun tingkat daerah serta cecunguk kroto yang berkaitan dengan jalannya kekuasaan pemerintahan. Tapi bisa juga ini menjadi bumerang untuk "penguasa" lembaga pers itu sendiri.

Kebebasan pers bisa dikatakan hampir mirip jika kita ingin membahas permasalahan hakiki manusia yaitu permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM). Jika kita coba menilik apa saja tolak ukur dan batasan HAM, mungkin agak sulit mengukurnya, karena tolak ukurnya sangat luas. Ini berkaitan dengan eksistensi seorang individu tentunya (mohon koreksi). Tapi jika dikaitkan dengan kebebasan pers, tentunya ada semacam batasan norma, hukum, agama, efek pemecah kehidupan sosial, serta efek terhadap publik, yang harus dijaga agar tidak kebablasan. Hampir mirip memang dengan HAM, kebebasan pers tentunya penting untuk kemajuan dunia jurnalisme. Tapinya ini perlu batasan yang jelas.

Perlu kematangan sikap rasional dan proposional dalam mengungkapkan, mengartikan, memahami, dan mengaplikasikan kebebasan pers ini. Dunia pers Indonesia pada awal reformasi mendapatkan angin surga setelah terkungkung lama mulai dari era kolonialisme sampai dengan orde baru. Dunia pers Indonesia pun semakin berkembang dengan dimulainya era kebebasan pers, tanpa ada batasan karena "euforia" masa bebasnya. Pada awal dimulainya kebebasan pers, pers seakan menggeliat dengan "membongkar" apa saja kebusukan pemerintahan, dan segala intrik-intrik yang ada di negeri ini. Lalu bermunculan para partisipan dadakan yang ingin punya modal ingin membuat media, berkaitan sudah mudahnya menerbitkan sebuah media karena sudah tidak ada SIUPP dan dihapusnya Departemen Penerangan.

Ironisnya kebebasan pers yang tadinya harusnya mempunyai dampak positif, informatif dan konstruktif, tapi makin lama semakin mengarah pada dampak negatif dan destruktif. Seharusnya jurnalisme makin berkembang menuju jurnalisme perspektif dan persepsi untuk ikut serta membangun masyarakat yang lebih beradab, bermartabat dan berkualitas. Bukan semakin menjerumuskan masyarakat pada hal informatif ringan yang menghibur dengan mengungkapkan keseharian seorang tokoh, kehidupan pribadi lalu mengoloknya sebagai bahan hinaan pada obrolan masyarakat. Atau informasi kriminal yang semakin lama tampaknya bangsa ini semakin bengis saja, apapun namanya itu tayangan, tulisan tentang kriminal, semakin lama apabila itu dikonsumsi secara periodik, efek akan tidak baik. Menurut saya akan menciptakan modus baru dalam dunia kriminal dan inspiratif bagi para amatiran. Belum lagi koran-koran kuning, walaupun peredarannya sudah dibatasi dan dikurangi. Tapi masih saja bumbu-bumbu seks itu diselipkan sebagai penaik oplah. Kaidah dan keindahan bahasa pun ditabrak. Kalau begitu mau dibawa kemana para konsumer anda?.

Kebebasan pers pun bisa jadi ini momok bagi para pemilik perusahaan pers, ini bisa jadi sikap dilematis apabila ingin menjalankan kebebasan pers. Apalagi kalau ada jurnalisnya mempunyai tingkat kritis dan kritisi yang "tinggi". Otomatis biasanya perusahaan media adalah pengendali kepentingan beberapa pemilik modal. Kebijakan-kebijakan redaksional pastinya sudah ditentukan itu terpaksa harus ditekankan kepada jurnalisnya yang mempunyai sifat kritis dan kritisi itu demi "keamanan" para koleganya untuk berjalannya kehidupan perusahaan. Dimana independensi media sekarang ini?.

Kehidupan para penggiat pers pun sangat jauh dari kelayakan, tiap hari mewartakan kesengsaraan, kemiskinan, demo-demo, kejahatan, bencana alam. Tapi siapa yang mewartakan kehidupan jurnalis, jarang aspirasi para serikat pekerjanya diwartakan.

Mari wujudkan jurnalisme yang bermartabat dan berkualitas, cerdaskan bangsa!.

Selamat Hari Pers Nasional

Merokok Mengganggu Kesehatan Jiwa

Sunday, February 10th, 2008

Pertama kali dalam bulan ini. Setelah banyak yang terlalui dalam rekaman isi otak yang tak terekam baik dalam tulisanku, ku sesali banyak yang terlalui. Semangat membuncah ketika jauh dari keyboard keparat ini, tapi apa lacur ketika berhadapan dengan keparat ini. Tinggal lelah dan mood yang jauh dari semangat menulis.

Amarah ku memuncak ketika seorang tokoh kontroversi itu mangkat dari bumi yang ia jajah sendiri, tapi tidak bisa ku rekam. Orang berbicara masalah kedelai, ah dasar keparat Republik ini. Rakyatnya sendiri ia buat busung lapar semua, dan sekali lagi ku lewatkan. Setelah itu permasalahan Jurnalisme yang terjadi dalam pemberitaan Suharto yang mulai dilanggar oleh para penentu kebijakan redaksional tiap media massa. Ibaratnya "mereka" yang mengaku-ngaku jurnalis harus menjilat ludah mereka sendiri. Aku gemas dengan menyibukkan meng-counter testimoni para penggemar "pahlawan" yang selama 32 tahun dengan sukses membangun negara ini dengan derita. Aku terlalu sibuk dan berkutak dengan permasalahan ku sendiri. Semuanya menghujam ulu hati, sesak dibuatnya. Stagnasi aku!

Aku terjebak dengan ketergantungan terhadap tempat sekarang ini, setelah ruang imajinasi ku yang dulu ditutup aksesnya, gara-gara maling bedebah (jadi  yang lain kena getahnya). Sekarang ruangan penyendirian ku  dibobol demi perluasan NewsRoom Keparat ini!hah…KAMPRET kuadrat!!!. Tak bebas aku bergerak!

aku menunggu…