Untuk Jurnalisme Bermartabat dan Berkualitas

Bahas tentang kebebasan pers saja lah, mumpung masih hangat dan dekat dengan Hari Pers Nasional (HPN)

Bisa jadi ini menjadi momok untuk kalangan penguasa pemerintahan baik itu pusat maupun tingkat daerah serta cecunguk kroto yang berkaitan dengan jalannya kekuasaan pemerintahan. Tapi bisa juga ini menjadi bumerang untuk "penguasa" lembaga pers itu sendiri.

Kebebasan pers bisa dikatakan hampir mirip jika kita ingin membahas permasalahan hakiki manusia yaitu permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM). Jika kita coba menilik apa saja tolak ukur dan batasan HAM, mungkin agak sulit mengukurnya, karena tolak ukurnya sangat luas. Ini berkaitan dengan eksistensi seorang individu tentunya (mohon koreksi). Tapi jika dikaitkan dengan kebebasan pers, tentunya ada semacam batasan norma, hukum, agama, efek pemecah kehidupan sosial, serta efek terhadap publik, yang harus dijaga agar tidak kebablasan. Hampir mirip memang dengan HAM, kebebasan pers tentunya penting untuk kemajuan dunia jurnalisme. Tapinya ini perlu batasan yang jelas.

Perlu kematangan sikap rasional dan proposional dalam mengungkapkan, mengartikan, memahami, dan mengaplikasikan kebebasan pers ini. Dunia pers Indonesia pada awal reformasi mendapatkan angin surga setelah terkungkung lama mulai dari era kolonialisme sampai dengan orde baru. Dunia pers Indonesia pun semakin berkembang dengan dimulainya era kebebasan pers, tanpa ada batasan karena "euforia" masa bebasnya. Pada awal dimulainya kebebasan pers, pers seakan menggeliat dengan "membongkar" apa saja kebusukan pemerintahan, dan segala intrik-intrik yang ada di negeri ini. Lalu bermunculan para partisipan dadakan yang ingin punya modal ingin membuat media, berkaitan sudah mudahnya menerbitkan sebuah media karena sudah tidak ada SIUPP dan dihapusnya Departemen Penerangan.

Ironisnya kebebasan pers yang tadinya harusnya mempunyai dampak positif, informatif dan konstruktif, tapi makin lama semakin mengarah pada dampak negatif dan destruktif. Seharusnya jurnalisme makin berkembang menuju jurnalisme perspektif dan persepsi untuk ikut serta membangun masyarakat yang lebih beradab, bermartabat dan berkualitas. Bukan semakin menjerumuskan masyarakat pada hal informatif ringan yang menghibur dengan mengungkapkan keseharian seorang tokoh, kehidupan pribadi lalu mengoloknya sebagai bahan hinaan pada obrolan masyarakat. Atau informasi kriminal yang semakin lama tampaknya bangsa ini semakin bengis saja, apapun namanya itu tayangan, tulisan tentang kriminal, semakin lama apabila itu dikonsumsi secara periodik, efek akan tidak baik. Menurut saya akan menciptakan modus baru dalam dunia kriminal dan inspiratif bagi para amatiran. Belum lagi koran-koran kuning, walaupun peredarannya sudah dibatasi dan dikurangi. Tapi masih saja bumbu-bumbu seks itu diselipkan sebagai penaik oplah. Kaidah dan keindahan bahasa pun ditabrak. Kalau begitu mau dibawa kemana para konsumer anda?.

Kebebasan pers pun bisa jadi ini momok bagi para pemilik perusahaan pers, ini bisa jadi sikap dilematis apabila ingin menjalankan kebebasan pers. Apalagi kalau ada jurnalisnya mempunyai tingkat kritis dan kritisi yang "tinggi". Otomatis biasanya perusahaan media adalah pengendali kepentingan beberapa pemilik modal. Kebijakan-kebijakan redaksional pastinya sudah ditentukan itu terpaksa harus ditekankan kepada jurnalisnya yang mempunyai sifat kritis dan kritisi itu demi "keamanan" para koleganya untuk berjalannya kehidupan perusahaan. Dimana independensi media sekarang ini?.

Kehidupan para penggiat pers pun sangat jauh dari kelayakan, tiap hari mewartakan kesengsaraan, kemiskinan, demo-demo, kejahatan, bencana alam. Tapi siapa yang mewartakan kehidupan jurnalis, jarang aspirasi para serikat pekerjanya diwartakan.

Mari wujudkan jurnalisme yang bermartabat dan berkualitas, cerdaskan bangsa!.

Selamat Hari Pers Nasional

Leave a Reply