“A BETTER FUTURE”
Tawa anak-anak itu pecah, mereka berkumpul dan mereka berebutan jatuh kedalam lumpur, tergulung ombak, mendirikan tenda untuk tempat berteduh, dan berlati olah vokal di taman. Tak takut terik mentari menyengat, hanya keriangan memecah kebuntuan beban hidup kita melihat geliat mereka yang tanpa beban itu.
Beberapa aku melihat liputan tentang kegiatan anak-anak. Sungguh menyenangkan melihat tubuh-tubuh kecil itu loncat keriangan bermain lumpur, berdiri congkak mengendalikan papan seluncur agar stabil diatas ombak, berlari dan melompat masuk ke dalam tenda kemah mereka, dan berlatih olah vokal untuk teater kecil mereka.
Kita tentu mereka-reka akan menjadi manusia seperti apa mereka 10-15 tahun lagi. Mungkin mereka akan melebihi kemampuan dan ilmu kita, atau meratap sedih menjadi pecundang.
Menurutku inilah potret mendatang wajah negeri kita, mereka lah pemilik ranah republik ini sepenuhnya. Jangan halangi mimpi mereka dengan gizi buruk, biaya pendidikan yang selangit, orang tua yang mendadak gila akut kerena memikirkan beban hidup yang berat, sehingga anak-anak ini menjadi korbannya.
Beberapa kali mata ku berkaca bahagia dan haru, mendengar mereka bangga akan profesi sang ayah yang hanya seorang juru parkir, ataupun supir angkutan umum kota (angkot). "Akbar bapaknya kerja apaan?", ibu Leli pemilik TK Pelangi ini mencoba memberi kami (kru liputan Lintas Siang) kemudahan awal pembicaraan dengan salah satu anak murid TK Pelangi. "Supir", jawab akbar singkat saja tapi tidak ada rasa malu. Aku merasa bangga meendengar Akbar yang tanpa rasa malu menjelaskan profesi ayahnya. Ya, kalian tidak boleh malu, karena ayah mu sedang berjuang ‘dik.
Lain pula dengan sekolah akting yang diprakarsai oleh artis senior Yessy Gusman. Anak-anak ini berlatih serius membacakan puisi dan menyanyikan lagi tentang pentingnya membaca. Tak ada sedikitpun niatan mereka ingin menjadi artis, mereka tulus demi sebuah seni dan kecintaan mereka.
Atau menahan rasa malu ketika anak-anak berusia 10 tahun hingga 15 tahun, mempermalukan aku ditengah ganasnya ombak pantai Pelabuan Ratu. Mereka terkekeh-kekeh melihat kami (kru liputan Lintas Pagi Akhir Pekan) berusaha keras berdiri diatas papan seluncur. Selesai meliput mereka berlatih, kami pun ingin mencoba salah satu olahraga ektrim ini. Sepertinya tampak mudah, dan ombaknya tidak menyulitkan. Tidak seperti video-video surfing diluar negeri, yang ombaknya mencapai 7 meter sampai 10 meteran. Kami pun turun menuju mandala perang tersebut. Alamak, kami seperti orang jompo yang tidak mampu berdiri. Alih-alih kami jadi sasaran empuk gelombang yang menggulung. Memang dari bibir pantai sepertinya ombak tidak besar, tapi coba kalau anda masuk dalam area 15 meteran dari bibir pantai. Ombak tersebut menutup pandangan anda ke depan, dan tampak besar.
Hampir saja aku menjadi korban keganasan ombak Pelabuan Ratu yang ke tujuh , karena sehari sebelumnya enam karyawan PT. Suzuki terseret ombak Pelabuan Ratu. Aku masih penasaran karena sudah setengah jam berlalu, tapi masih tidak mampu bertahan lama berdiri di papan seluncur. Mendengar penjelasan dari instrukturnya, penyebab kegagaln kami semua adalah pemilihan papan seluncur. Aku tetap berpegangan teguh dengan panji-panji keyakinanku (halah!..mulai ngaco kalimatnya…hahaha), bahwa aku bisa berdiri. Matahari mulai beringsut hilang dari ujung horizon. Sayup-sayup suara orang mengaji keluar dari pengeras suara masjid, tanda sebentar lagi maghrib. Hal yang sangat dihindari untuk orang melakukan aktivitas pada saat maghrib. Teman-teman tim liputan sudah berjalan menuju pantai dan menyudahi permainannya. Tinggal aku seorang diri, ku lihat gejala tidak normal dari arah ombak. Aliran dan arah ombak semakin berbelok, aku pun bersiap mencari ombak besar. Yup, itu dia ombaknya. Papan ku rebahkan, aku pun meluncur. TAPI!!!, aku tidak bergerak ke depan.
Panik bukan kepalang, aku pun teringat kata-kata instruktur surfing, bahwa diantara ombak ada semacam daerah yang pecah. Fungsinya adalah aliran ombak yang mengarah ke bibir pantai, maka ombak akan berbalik ke belakang dan daerah tersebut relatif tenang riaknya. Itulah yang bisa menyeret benda-benda yang mengapung. Dan seretan aliran tersebut bisa sepanjang 50 meter ke dalam laut. Andalan ku saat itu adalah papan yang ku naiki. Aku berusaha turun dari papan, dan menahan dengan kaki ku. Ku jejakkan kai ku ke dalam pasir sekuat-kuatnya. Bukan semakin mantab menahan seretan ombak. Tapi kaki ku semakin tenggelam ke dalam pasir. Pasir ini mirip lumpur hidup, semakin mencekam saja keadaanku. Tiba-tiba ombak berikutnya datang, dan itulah yang menyelamatkan ku. Aku terlepas dan dapat berjalan kembali menuju bibir pantai.
Salah satu teman kru memanggil dan menyuruhku menyudahi permainan berbahaya ku. Adzan maghrib terlantun damai beserta angin pantai, hati ku mulai tenang pasca tragedi yang disebabkan sikap gegabah ku. Hampir saja kejadian konyol itu terulang lagi. Dulu waktu kecil pun aku hampir tenggelam di Pelabuan Ratu akibat salah pengertian adu berenang di lautan. Untung saja nasib baik masih berpihak, aku terdorong ombak besar yang menuju bibir pantai, dan selamatlah aku.
Aku pun menceritakan kejadian konyol tersebut, teman-teman tertawa mendengar penjelasanku dan sambil menatap heran, bahwa aku masih ada di depan mereka. Sial benar mereka itu.
Yang terakhir adalah ketika melihat kelompok anak-anak sekolah dasar berwisata alam. Kegiatan dimulai dengan menanam padi, dilanjutkan menangkap ikan, memandikan kerbau, melukis camping, terakhir melihat perkebunan dan berkeling melihat taman menggunakan kerete mini.
Anak-anak tampak riang bermain dilumpur, mungkin bau lumpur sawah sudah tidak pernah dicium oleh anak-anak sekarang. Pada waktu kecil, aku sering kali menjumpai persawahan. Maklum saja dulu Bekasi banyak sekali sawahnya, jadi hal yang berbau lumpur baik itu aroma dan tempatnya sudah tidak asing. Tapi bagi mereka ini hal baru. Nikmati saja ‘dik, karena kamu makan dari tempat yang seperti itu. Terus injak lumpur itu sampai dalam, gemburkan. Cacing tidak akan mengotori kakimu.
Yang lucu adalah mereka tidak tahu kotor dan jijik ketika memandikan kerbau, sibuk sendiri dengan sibakan air ke badan kerbau, menyorongkan mukanya ke pancuran air yang hasil dari air kolam kerbau tersebut. Aku hanya menggelengkan kepala dan tertawa renyah melihat tingkah polah mereka. Padahal dari tadi ku lihat si kerbau membuang air seninya terus. Anak-anak itu mungkin meminum sedikit air tersebut…hahaha.
Itulah dunia anak-anak yang polos, menyejukan, masih banyak mimpi yang bisa mereka raih. Hanya tinggal memolesnya, jadilah mereka berlian dan mutiara-mutiara bersinar.
"A Better Future"
The people of Jakarta seeking a BETTER FUTURE
To help them achieve that BETTER FUTURE we have
Established an informal pre-school for children
From poor families.
This school is not profit and relies an donations
From its supporters.
We thank you for your support of this worthwhile
activity
Itu sedikit prakata yang ku ambil dari TK Pelangi…sebuah tempat yang dilandasi oleh ketulusan dan niat baik. Tanpa dipungut bayaran, tapi mampu berdiri mandiri, hanya untuk mereka yang hilang kesempatan memperoleh pendidikan, yang lagi-lagi alasan mendasar…MAHALNYA DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA!
May 11th, 2008 at 1:57 am
Yup bener banget tuch masa pendidikan jadi kaya dibisnisin gini sich!!!!, dasar Indonesia. Tapi yang dasar itu Indonesianya atau pemerintahnya?
Yang kasian bukan soal biaya pendidikan aja siCh, tapi soal gaya pengajaran di setiap sekolah. Harus pake seragam, strukturnya otoriter, kalo keluar masuk ruang harus minta izin dL, ada pintu gerbang, penuh dngn ancaman (mental dan fisik), waktu makan, istirahat, semuanya ditetapin. Apa bedanya dengan penjara. Kita cuma bisa punya 5 tahun buat menjadi seorang anak-anak, padahal kita kan perlu juga yang namanya bermain. Perhatiin dech anak2 yang udah dinyatakan lulus dari sekolah, riangnya bukan maen kaya baru menghirup udara kebebasan.. Kasian… Tawa anak2 itu akan mulai berkurang setelah mereka memasuki sekolah dasar