Dilarang sakit yang miskin!

Ini cerita yang tertunda…

=====================================

Dilarang sakit yang miskin!

Potret sedih bila menjadi orang miskin di Indonesia, serba dilematis dalam mempertahankan hidup ditengah kurangnya gizi dan makanan yang sehat. Apabila sudah sakit, maka sebuah kesulitan akan datang lagi. Apa itu?, ya masalah itu adalah uang untuk pendaftaran dan menebus obat.

Berapa orang yang kekurangan itu harus kembali kerumah dan menahan rasa sakit yang mendera tubuh karena ditolak oleh pihak rumah sakit yang disebabkan kurang biaya untuk pendaftaran. jadi orang susah saja sulit, apalagi jadi orang kaya. DASAR REPUBLIK LAKNAT!, semuanya sudah uang yang berbicara, tidak ada sedikit pun rasa manusiawinya.

Tak habis pikir sudah ku melihat kejadian, laporan, dan fenomena susahnya jadi orang miskin yang sakit di republik ini. Pemerintah berusaha elok dalam membuat peraturan, kebijakan, dan perundangan agar baik di mata rakyat. Tapi tidak sampai semuanya berjalan sesuai pelaksanaan dilapangan. Yang tak punya uang dipaksa sehat selalu dan senyum selalu menantang hari demi hari.

Ini semua berkaitan dengan kejadian yang baru aku alami hari ini. Tak tahan dengan iritasi oleh jamur keparat itu, segera saja aku untuk konsultasi ke dokter kulit dan minta resep paling mujarab buat si jamur keparat. Bukan main harga yang perlu ku tebus, 400 ribuan. WOW! hanya untuk si jamur aku harus sisihkan uang sebanyak itu. Dulu aku terbiasa dengan layanan gratis yang ku peroleh dari kantor ayah ku, maklum saja ayah salah satu pegawai BUMN. Aku pun berpikir, untung saja ayah aku beruntung bekerja di tempat yang memperdulikan kesejahteraan karyawannya, kalau tidak aku beserta 2 saudara kandungku sudah merepotkan kedua orang tuaku terutama ayah ku sang kepala keluarga.

Dan sekarang aku harus membiayai semua yang berkaitan dengan hajat ku sendiri. Masih saja berbicara untung, aku berpikir pastinya aku masih beruntung mempunyai pekerjaan. Kalau tidak aku pasti merepotkan orang tua ku, karena jatah gratis dari kantor ayahku sudah tidak bisa dipergunakan lagi.

Sudah banyak cerita miris dari REPUBLIK LAKNAT ini, mengenai penderitaan rakyat kecil, terutama yang berpenghasilan minim. Tentunya ini akan menjadi beban hidup tambahan lagi, apabila ia atau ada keluarganya yang sakit. Apalagi ditambah dengan rawat inap. Tidak heran apabila kita melihat potret dan potrait muka-muka lusuh, pucat tanpa harapan menahan sakit yang teramat mendera tubuh, karena tidak kuat menahan derita sakit di tubuhnya.

Aku punya cerita ketika mengantarkan pasien ibu ku yang mengalami pendarahan hebat ketika ingin melahirkan. Laju kendaraan ku percepat agar sang ibu dan putra harapan mereka baik-baik, tidak mengalami kejadian tragis. Mobil ku terhambat oleh padatnya lalulintas perlintasan kereta api. Aku pun terbawa suasana kalut mendengar sang ibu meraung-raung menahan sakitnya pendarahan. Sebentar-sebentar sang ibu pingsan, kami berusaha untuk selalu membuat sadar sang ibu. Sampai lah aku di rumah sakit, segeralah pihak keluarga mengurus administrasi, tapi pihak keluarga segera membatalkan pengurusan admistrasi rumah sakit. "Biayanya 14 juta bu, jadi harus dibayar dimuka 7 juta dulu", jawab Suster. Alamak, keburu mati kering jasad ibu muda tersebut, segera saja mengambil gerakan super sebat, pihak keluarga mencari rumah sakit yang lebih ramah.

Aku pun terpaksa harus kembali ke jalan yang ramai, memotong jalur tanpa lihat kanan-kiri lagi, demi sebuah harapan keluarga kecil bahagia. Perjuangan sang ibu tidak sia-sia, ada juga rumah sakit yang berharga manusiawi. Sampai kapan cerita ini harus terulang, atau ini proses genosida massal yang dilakukan oleh penampuk kekuasaan, demi memperingan beban sosial negeri ini.

Mungkin orang yang berlimpah tidak perlu sulit lagi menentukan mau di opname di kelas satu atau kelas kambing yang toiletnya berbau anyir campur-aduk beragam penyakit di dalamnya. Sedangkan yang tidak berkecukupan, harus berpikir untuk melupakan sakit mereka demi mencari uang demi hidup untuk hari ini saja sudah cukup.

Lagi-lagi aku masih di pihak yang beruntung…

Leave a Reply