Chairil Sang Legenda
Tulisan ini sebenarnya ingin ku buat pada tanggal 28 April 2008 waktu lalu, tapi tenaga dan pikiranku tersita banyak hal. Memang ada apa tanggal 28 April tersebut?.
======================================================

59 tahun sudah Chairil Sang Legenda itu menjadi abu dalam pusara heningnya, ya dia adalah Chairil Anwar. Mungkin jasad sudah hilang, tapi rasa, semangat, dan api perjuangan sastranya terus berkibar di Indonesia. Pelopor angkatan 45 ini, adalah pendobrak sastra modern Indonesia. Lahir di Medan, 26 Juli 1922. Berdarah murni Minangkabau, yang kedua orang tuanya berasal dari Sumatra Barat.
Sumbangsih Chairil pada dunia sastra Indonesia sangat besar, tokoh yang besar setelah meninggal ini. Bukan sekedar pada dunia sastra saja, tapi Chairil membuat perubahan dan sumbangan yang memperkaya bahasa Indonesia,lewat karya sastrawinya yang jernih, spontan, dan modern. Chairil membuka mata dunia sastra Indonesia untuk ke depan. Bandingkan dengan Malaysia, yang pada penggunaan bahasa melayunya dengan kita sangat berbeda dan menempuh jalan masing-masing. Tidak bisa dipungkiri bahasa Indonesia modern saat ini adalah sumbangan kerja sastrawinya Chairil.
Sampai kini siapa yang tidak mengenal tokoh yang terkenal dengan potrait side lightnya yang memegang sebatang rokok ini. Diam-diam pada hari kematiannya, para mahasiswa fakultas sastra memperingatinya sebagai "Hari Sastra Nasional". Dan apapun yang berhubungan dengan hari kematiannya, pasti tercetus pula semangat dari seorang Chairil untuk menjadi sebuah penggalan kalimat sastra pembangkit semangat. Itu pun dipakai untuk momentum seorang tokoh partai di Indonesia. Lalu apa yang menjadikan Chairil dirinya itu seorang legenda, padahal semasa hidupnya Chairil tidak sepopuler setelah ia kematiannya.
Padahal pada saat itu sedang terjadi jaman revolusioner baik di dunia maupun di Indonesia sendiri, dan Chairil pun tumbuh tidak di masa ruang hampa. Tapi mengapa ia menjadi tokoh yang populer, ini tidak terlepas karena jenis sastra yang Chairil pilah. Sastra ada dua bagian, yaitu Sastra Mimbar dan Sastra Kamar (Agus R. Sarjono). Pada Sastra Mimbar, cenderung pada tema zaman dan berisi akupublik (kehadiran tokoh yang cenderung tokoh hero) ke tengah latar yang secara sosiologis mencerminkan secara ekstrem tema-tema zaman tersebut dalam upaya memberikan jawaban atau tanggapan tema-tema bersangkutan.
Sedangkan Sastra Kamar sebaliknya, cenderung mengangkat dan menggarap tema-tema keseharian.Pada Sastra Kamar tokoh yang dihadirkan tidak meng-hero. Tokoh-tokoh yang hadir pun lazim kita temui dalam keseharian. Pada puisi, bukan akupublik, melainkan akulirik. Sementara pesan-pesan pun jika ada tidak merupakan jawaban sosial pada suatu tema zaman.
Sajak-sajaknya yang berjenis Sastra Mimbar seperti "Aku", "Diponegoro", dan tentu saja "Karawang Bekasi" , inilah yang melambungkan nama Chairil Anwar.
"Sekali berarti, sudah itu mati" (Diponegoro).
nukilan ini yang sering diteriakkan, sebagai kata pembangkit semangat sampai sekarang. Kalau saja Chairil bertahan dengan sastra yang berjenis Sastra Kamar, dipastikan namanya tidak akan meraksasa dan melegenda sampai sekarang.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan penguasaan bahasanya Chairil, ia menguasai tiga bahasa, Jerman, Belanda, dan Inggris. Selain itu ia pun sebagai penggila buku yang maniak. Apabila buku itu bisa dicurinya maka Chairil akan melakukannya. Sebagaimana yang dituturkan oleh Asrul Sani, "Kau Perhatikan orang itu, Aku mau mengantungi Nietzsche ini". Chairil pun siap dengan celana yang yang mempunyai saku cukup besar untuk memuat buku tersebut.
Karena kemampuannya itu tersebut mampu menghantarkan Chairil pada karya-karya besar dunia, dan ia pun menerjemahkan dan menyadur karya tersebut kedalam karya-karyanya. Dari hasil karya-karyanya tersebut, cercaan dan kritik banyak dialamatkan kepadanya. Ia pun dituduh sebagai plagiator. Seperti hasil kerja sastranya yang berjudul "Karawang Bekasi", itu merupakan saduran sajak "The Young Dead Soldiers" Archibald MacLeish). Sampai seorang Soe Hoek Gie pun berpendapat Chairil adalah seorang penyadur dari karya-karya Andre Gide.
Keberuntungan Chairil adalah ditemukannya sajak Chairil oleh H.B. Jassin, yang tekun mengikuti proses penciptaan Chairil Anwar. Gaya hidup bohemia Chairil pun jadi salah satu faktor mengapa Chairil yang memilih bertahan pada dunia sastra ini menjadi contoh gambaran mutlak seorang penyair legenda dan tetap konsisten di jalurnya.
Apapun itu cercaan, makian dan tuduhan negatif pada hasil kerja sastranya itu, Chairil tidak bergeming di atas namannya yang terlanjur melegenda. Penyair muda pun seakan tenggelam pasca kematiaannya, belum ada yang mampu melegenda namanya, tertutup oleh kepopulerannya. Walaupun seorang besar W>S Rendra, hadir sebegai penghapus dahaga sastra Indonesia, namun si burung merak ini belum mampu menggantikan kelegendaan Chairil. Padahal Rendra banyak hadir dalam puisi, sajak yang berjenis Sastra Mimbar.
Dibalik dunia kesastraannya, Chairil pun hadir pula dalam dunia-dunia romansanya. Beberapa nama perempuan pun hadir dalam prosa, dan sajak-sajaknya. Ia pun sempat menikahi salah satu hasil kerja sastranya, yaitu Hapsah Wiriaredja. Tetapi pernikahan itu tidak bertahan lama, karena gaya hidup Chairil dan kesulitan ekonomi.
Pernikahan itu menghasilkan buah cinta seorang anak perempuan, Evawani Alissa Chairil Anwar. Eva ditinggalkan Chairil pada usia yang sangat belia, setahun 10 bulan. Dan perceraian orang tuanya terjadi ketika Eva berumur tujuh bulan. Keluarga Eva sangat menjaga perasaan Eva tentang siapa ayahnya. Ketakutan itu terjadi karena Eva mempunyai ayah tiri. Eva mengenal ayahnya ketika duduk di kelas tiga Sekolah Rakyat. Guru kelasnya lah yang menunjukkan buku H.B.Jassin, yang ada foto dirinya dibuku tersebut, setelah ada foto Chairil. Eva pun jauh melenceng dari dunia yang ayahnya geluti, dia seorang notaris.
Chairl pun menyadari dan sudah mempersiapkan kelegendaannya dari dulu, dia pun berpesan pada istrinya kelak kalau umurnya panjang ia akan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi kalau umurnya pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga.
Menjelang kematiaanya ia pun menyiapkan tempat pemakamannya melalui puisinya: di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin.
Dengan mewariskan 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa saduran, yang memang tidak terlalu besar bilangannya pada dunia sastra. Namun sumbangsih Chairil sebagai tokoh pendobrak kesastraan yang berpetatah-petitih pada erannya Sutan Takdir Alisjahbana (STA), sangatlah besar. Orang yang teguh berpendirian, mahluk soliter didunianya. Chairil mampu berpegang teguh pada kesusastraannya, walaupun dirinya menderita dibalik penyakit TBC kronisnya dan kesulitan ekonomi.
"kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian"
1922-1949
