Memoar untuk sahabat, Achmad "Maink" Ismail, IWP13969703LW (10/10/81-28/10/07)
Tak ada yang bisa menggambarkan perasaan ini ketika kabar yang menyentak itu menjadi kenyataan. Kita (gw, Panjul, dan elo sendiri) sudah tahu, hal itu tinggal menghitung hari. Dasar kepala batu, kau cuek saja, tapi tetap menyimpan mimpi-mimpi yang panjang. Semangat hidup yang sangat spektakuler sahabat.
Berpikir keras aku ketika kau tinggal menghitung hari, bagaimana caranya kita punya kenangan yang istimewa, walhasil hanya banyak ceng-cengan yang menjadi arti pada saatnya kelak. Aku sudah ingin merancang pendakian terakhir untuk mu sobat, tapi waktu dan kesempatan tidak pernah memberi kita keluangan. Ingat betapa kau dengan ringannya memberi tahu aku sebuah tabung kaplet dan tertera untuk penderita penyakit khusus. GILA, ini bukan main-main, aku dan Panjul menyarankan kau untuk terus bersabar dan ini kesempatan untuk mendekatkan kepada-Nya. hebatnya kau bertahan dengan lama sahabat, sungguh perjuangan panjang dari tubuh yang demikian kuat menahan penyakit itu. Kau memang dari dulu punya kemampuan fisik yang luar biasa.
Kami berkenalan secara tidak sengaja dan dengan cara yang konyol, ketika itu di muka gerbang sekolah, bubaran jam sekolah. Riuh rendah suara memanggil dan saling sapa. Tak ku sengaja, aku melihat teman perempuan sewaktu SMP dahulu, teman dekat. Ku panggil ia Made, perempuan Hindu. Tapi disebelahnya ada seorang pria yang terlihat menemaninya. Made ku tepuk pundaknya, dan ia pun menolehnya. Ia pun kaget melihat kita berada satu lingkup sekolah, walaupun ia tidak satu sekolahan. "Hai", ujar made. "Sama siapa lo De?", tanyaku heran padahal baru saja hitungan bulan ia sudah menggaet seorang pria. Sang pria cengar-cengir seperti orang tenar sibuk disapa kana-kiri. Lantas pria itu menyibakkan topi ku, halah…ia ternyata pria cengeng yang menangis pada waktu latihan fisik Inswapala. "Maink!", ia memperkenalkan dirinya. Aku sambil lalu saja dan itulah awal perkenalanku dengannya.
Kami pun sempat double date loh. Lucu sekali pada waktu itu, maink sibuk bergumul mesra, bercanda rayu didalam ruang tamu. Sedangkan aku hanya melongo geleng kepala melihat tingkah laku mereka berdua. Sambil melongokkan setengah kepalanya, Maink menegur dan bertanya, "Ngapain lo berdua diam-diaman?!". Sialan, bocah edan, justru gw yang bingung melhat tingkah polah kalian berdua. Kaya binatang lagi bercanda.
Setelah itu, Maink yang ku kenal sangat jauh. Tak alang kepalang lagi tindak tanduknya serta reputasinya di sekolah. Anak cerdas tapi merupakan (meminjam kata Dicky) partner in crime yang baik. Pergaulan dan lingkungan yang kurang sehat, serta kebodohan ia menyortir semua hal itu. Tapi pandangan ku adalah tetap kesan pertama, segarang apapun ia disekolah, sengoton apapun ia menghadapi masalah, tak takut dengan semua orang, tapi ia merupakan pria yang cengeng…hahaha. Pernah sekali aku memergokinya ketika ia sedang bertiga dengan kawan-kawannya. Ruang kecil di depan sekolah itu mendadak gaduh. Teriakan histeris para perempuan, mencoba menyadarkan para lelaki diambang maut. Bah!!! lagi-lagi tiga orang yang bodoh mencari sensasi, dasar Maink. Sudah keracunan seluruh aliran darahnya, dan badan menolak keras, menggigil sekujur tubuh, muka pucat pasi. Tak mau ambil pusing, aku keluar dari pertunjukan itu. Resiko ketika membuat keputusan!. Terlihat apatis memang, tapi itulah jalan hidup. Tapi ku dengar dari kejauhan, "biarin aja gw mau mati aja kalo begini!", bah!…mau mati saja bilang-bilang, kalau mau jangan merepotkan orang.
Ia merupakan sosok yang sangat kepala batu dan analisis. Masih ku ingat betapa ngotot dan gigihnya ia ingin mengadakan pelantikan IWP di gunung. Ia meneguhkan bahwa ini organisasi pecinta alam, tidak lazimnya mengadakan pelantikan di kota. Kepala Sekolah kami sangat kolot. Beradu argumen lah ia, sampai akhirnya jadilah kami semua berangkat dan mengadakan pelantikan di gunung. Seharusnya berterima kasih kami semua kepadanya. Selain itu daya matematis ia sangat kuat, entah anugerah darimana isi otaknya bisa menjelajah dan mempersempit perhitungan matematis, di luar jangkauan ku. Pada saat "setengah sadar", ia pun dapat menghitung dengan baik, tak berkurang sedikit pun kemampuan berhitungnya, walaupun zat-zat haram menggerogoti isi otaknya. Para guru pun bahkan tidak akan percaya dengan kecerdasaanya, karena tertutupi oleh tingkah liarnya. Penilaian yang sangat subjektif dan picik!.
Kami akrab setelah lulus dari sekolah, awal canda itu berjalan baik. Tapi "kegemaran" Maink terhadap zat itu tidak berhenti. Ia terus mencintai zat itu, walau ku tahu ia berusaha keras menjauhinya. Semeru lah yang memulai semuanya, banyak cerita disini bersama ia. Inilah orang yang sangat tidak memperdulikan dirinya. Bayangkan persiapan ia sangat minim dari standar pendakian. Hanya bawa sweater, celana panjang khas jawa corak batik dan baju, serta logistik. Sebelum berangkat dengan tubuh yang terlihat kuyu, ia membuat pernyataan ingin mati di gunung. Tak habis percaya kami semua (aku, Dicky, Panjul, Rafky). Sepertinya salah bawa orang, tapi Dicky dan Panjul meyakinkan bahwa Maink cukup baik untuk mendaki. Pada saat meniti, melipir punggungan antara Ranu Pane dan Ranu Kumbolo, tak hentinya kami tertawa dan bersahut-sahutan. Nama-nama ayahanda kami lah yang mengisi kekosongan hutan rimba itu. Pada saat aku menyebut nama ayah Dicky, Maink saat itu langsung meninterupsi perkataan ku. "Nama bapaknya siapa tuh yan?", tanya Maink heran. "Lah, itu kan bapaknya Dicky!", seru ku. "Salah bego…nama bapaknya buka itu!". Aku pun langsung melihat wajah Dicky yang mesem-mesem menahan tawa. Sialan! aku dan Panjul selama ini merasa tertipu, seenaknya Dicky menyebut-nyebut nama ayah kami tanpa kami ketahui nama ayahnya.
Ranu Kumbolo, kehebohan dimulai. Mulai dari kompor kami yang meledak, sehingga api menyala-nyala dari slang, dan menjadi pemandangan yang lucu di tengah-tengah para pendaki yang beristirahat. Kami pun berebut dengan anjing saat bungkus nugget, kami di "rampas". Berlarian saling kejar-kejaran dengan anjing liar, segala barang apapun didekat kami, kami timpukkan ke arah anjng keparat itu. Lelah pun menjangkit, angin lembah semakin menusuk tulang belulang. Berhubung tenda minim, kami sepakat mendirikan bivak. Mengukur arah angin agar tidak terlalu parah diterpa angin lembah, maka mulai sibuklah membuat bivak. Aku dan Maink ingin sekali menghindar dari pekerjaan itu, melihat ke arah atas ada tanjakan cinta. Mitos disini, apabila berhasil melewati tanjakan ini tanpa henti maka niscaya pengharapan cintanya akan dikabulkan. Aku menantang Maink, sejurus kemudian kami berdua berjalan menuju tanjakan cinta. Ternyata tidak mudah, langkah kami terhenti karena kelelahan. Sambil melihat ke bawah, tampak kawan-kawan sibuk mendirikan bivak. Aku dan Maink hanya tertawa-tawa melihat mereka bekerja, tapi Maink segera menyadarkan ku dan mengajak untuk membantu kawan-kawan.
Tim kami sangat terkenal heboh, mungkin dimata para pendaki lain, kami adalah galatuping (gabungan lelaki tukang camping). Ketika kompor kami meledak di ranu Kumbolo, teriakan histeris membahana seantero Ranu dan sambil memegang tabung gas serta slangnya yang menyala-nyala. Tapi paling terkenal adalah aku dan Maink. Kami berjuluk Kapten-Kopral dari Bekasi. Setiap berjalan pasti Maink ku panggil Kapten, "Kapten gimana kondisi di depan, Kapten bagaimana keadaan Indonesia today", dan Maink pasti membalasnya "KOPRAL BEGO!"…hahaha.
Sampai di puncak Mahameru, Maink kembali berulah. Berbeda dengan orang kebanyakan ketika menjejakkan kakinya di puncak, ia malah melingkurkan tubuhnya sambil ditutupi selapis selimut. Mana ada yang membawa selimut ke atas puncak selain ia. Merajuk seperti anak kecil, meminta harus ada pengabadian foto ia di atas puncak.
Lain lagi dengan pendakian Sindoro. Kata-kata tim sein kiri keluar disini, maksudnya adalah menyindir Dicky yang pada awalnya jalan paling depan sebagai leader perjalanan, tapi lambat laun seperti kendaraan memberi sein kiri, mempersilahkan kendaraan lai menyusulnya. Disini aku kena dikerjai oleh Maink. Aku yang hanya membawa daypack, dipaksa oleh Dicky dan Maink untuk membawa tenda yang dimuat di dalam tas jinjing ala ibu-ibu kepasar. Bawaan ku pun menjadi limblung dan tidak seimbang beratnya, terasa tersiksa membawa itu!. Kami kena badai hujan dari pukul tiga sore sampai pukul 11 malam. Tenda bocor, air memenuhi isi tenda, angin kencang dan dingin tidak karuan. Di tambah oleh pakaian yang basah, sekali lagi penyiksaan tiada terkira. Sepanjang itu kami terus memanjatkan doa, jangan sampai doa Maink kesampaian disini…IA INGIN MATI DIGUNUNG!. Pagi menjelang, kaki ku keram dan ada sedikit membenjol tepat dilutut, mungkin ini akibat keram semalam. Kami ingin memutuskan berkeliling sesaat, karena di puncak ini kami mendengar banyak sekali orang bercengkrama dan tertawa-tawa. Padahal di puncak ini kami hanya ada tiga tenda dan itu letaknya berjauhan antara lembah yang satu dengan yang lain. Selain itu kami menunggu seorang teman yang menyusul dari Bekasi. Aroma mistis menyengat kami setelah mengetahui di puncak ini sepi, Maink merengek kepada ku tidak ingin ditinggal sendirian dan minta ditemani ke tenda.
Perjalanan menurun tajam dan berliku, memaksa kaki ini untuk menapak lebih kuat, sedangkan kondisi lutut ku semakin tidak baik. Benjolan itu semakin membesar sekepalan tangan. Tak bisa menekuk lutut ku, harus ku istirahatkan sejenak kakiku. Tiba di pos (entah aku lupa pos apa itu) dekat kebun teh, kami bertemu dengan pendaki dari Rawamangun. Bercengkaram dan menanyakan alamat, pembuka pembicaraan. Dari arah atas maink setengah berlari kecil mengejek ku, setengah mengancam aku mengambil batu besar dan mengancam akan menimpuknya. Ia tidak mau berhenti, aku niat hati ingin mengenai carrier nya tapi yang terkena malah mata kakinya. Terpelanting lah ia dengan membawa carrier besar, berdentum bunyi tubuh serta tas besar itu jatuh. Ku kira ia akan marah besar, tetapi ia hanya tertawa kecil sambil meringis setengah kesakitan mengumpat ditengah undakan tanah kebun teh. Di bilanglah kami tim Srimulat oleh pendaki dari Rawamangun.
oiya, Maink sangat menjengkelkan apabila sedang bermain billiar. Dengan segala perhitungannya ia akan dapat memperkirakan bola yang ia lesakkan sudah diperhitungkan dengan masak-masak. Padahal itu bola liar dan lebih kebanyakan faktor keberuntungan. Tapi ia bersikukuh kalau bola itu memang sudah diperhitungkan, kami yang menjadi lawannya terpaksa harus meredam kejengkelan, karena apabila diadu dengan argumen sama saja dengan gilanya Maink.
Sampai pada akhirnya kita sama-sama mengetahui bahwa waktu kita menjadi seorang teman, kawan, sahabat, saudara, dan berkumpul akrab bersama-sama karib tinggal menghitung waktu. Tapi di wajah mu tidak sedikit pun menunjukkan kecemasan akan kehilangan itu. Malah berita kegilaan mu semakin menjadi-jadi, adalah kau menjadi penunggak kartu kredit hingga puluhan juta yang semakin lama semakin menggungung jumlahnya, adalah kau berhenti dari pekerjaan karena berselisihpaham dengan atasan, kau bertemu dengan Tommy datang dengan muka penuh cakaran karena bertengkar dengan kesayangan mu, sepanjang waktu kau gadaikan HP mu serta berganti nomor HP dan hilang beberapa HP. Tak habis heran ku menunggu waktu itu, aku pun terus memantau itu. Malah aku sempat berkonsultasi dengan panjul mengenai mengajak kau untuk mendaki gunung Gede-Pangrango. Panjul pun mengisyaratkan dan mengiyakan mengenai ide ku itu, mungkin ini adalah pendakian ia terakhir yan, itulah kalimat yang terlontar dari bibir Panjul. Panjul pun tidak lupa ku beri laporan mengenai tindak tanduk mu, sama seperti aku, Panjul pun heran bukan main, anak ini tidak menunjukkan tanda-tanda tobat…hahaha. Ia pun ingin menikah, padahal ia tahu itu hal adalah yang tak mungkin. Berkali-kali aku menanyakan apakah ia benar serius dan sadar seratus persen tentang niatannya. Cincin sudah disiapkan, tanggal pun sudah dipersiapkan, bahkan rumah telah tersedia.
Masih banyak cerita tentang salah satu sahabat terbaik ku ini, tak habis diuraikan dengan berjuta-juta kalimat dan pita memori isi otak ku ini, masih banyak kawan ku Maink. Tak sudi aku teteskan air mata ini, malu aku dengan kau menangis di depan tubuh kering berhias kumis dan jenggot tak terurus, serta di pusara mu sekali pun. Kau adalah yang terkuat aku kira, tak pantas kau hanya ditangisi tapi kau akan ku kenang sebagai yang terbaik. Lelaki yang tampan, ceria, cerdas, impulsif, meledak-ledak, analisis, tapi cengeng. Kau bukan yang meracuni aku dengan alam, tapi kau racuni aku dengan bagaimana belajar mengenai semangat hidup tanpa mengeluh, jangan berhenti bermimpi walau waktu itu semakin sempit. Kau adalah Lintang bagiku dalam Laskar Pelangi. Kau tinggal kan mimpi itu kepada kami semua, kawan-kawan yang menganggumi sebagai pribadi yang misterius penuh cerita.
Mungkin masih lama kita akan bertemu, semoga kita tidak sibuk di hari kebangkitan, pada hari penghitungan, meniti jembatan shirotul mustakim, dan semoga ku temui engkau sedang bercumbu mesra bersama para bidadari di surga.
Kawan, sedih ku tinggalkan dan ku hentikan tulisan ini. Terbayang potrait wajah mu dalam monitor ini, menari-nari riang kau di atas kepalaku, ku ingat jelas foto close up mu di meja belajar ku dengan topi rimba. Sekali lagi kawan yang terbaik ku Achmad Ismail, selamat jalan kawan, semoga amal baik mu diterima disisi-Nya. Maafkan kawan mu yang selalu terlupa dengan mu, tersilap tingkah laku yang pongah, atau pun penghinaan itu hanya candaan kawan.
Rinjani sudah ku tuntaskan, ingat impian kita di Semeru. Itu untuk mu, belum pernah gunung cantik itu kupersembahkan. Tapi itu untuk mu kawan. Selanjutnya, doakan semoga ini berhasil…KERINCI SEBLAT!.