Seprima

March 12th, 2008 by ardian-pettrucci

Ketika semua indah, ku genggam erat tangan mu…
Ketika semua stagnan, mati rasanya…

tak dijawab, tapi merespon, dan jangan jadikan ini elegi berikutnya. Mungkin saja ini jalan aman, tapi sampai kapan.
==================================

Usang sudah yang lalu, cobalah berbijak hati. Pikirkan langkah itu.
Sudah puaskah, tak mau lagi berpikir sehingga kalut mengambil kata hati.
Negasi lagi yang mengalahkan kata hati. sedih sebagai manusia bebas seutuhnya.

Cantik…

Demam Chinca Laura

February 23rd, 2008 by ardian-pettrucci

sekarang lagi booming soal Chinca Laura (Cinta Laura), seorang anak remaja Indo yang tumbuh berkembang di Indonesia.

Masih ingat Ida Iashya, Artis tahun 80-90 an yang cantik. Nah ini dia renkarnasi Ida Iashya. Dengan logat baratnya gitchu campur adyuk same language Indonesia, jadi kachau beyat. Enggak tau tuh Chinca  punya ide kayak begitchu, padahal tuh anak lahir dan besar di Indonesia. Dan Infotainment pun kerajingan ngeliput tentang dia, dan dia pun sibuk nyerocos ga jelas dengan ala bibir monyong kayak ikan bawal kebetot tali pancingan.

gw seneng banget tuh waktu ngeliat dia jatuh terduduk di studionya Ahmad Dhani. Biar makin malu dia…hahaha (jahat banget ya gw). Bukannya apa-apa, tuh anak enggak tahu diri banget ya!, tinggal di indonesia berbelas tahun, tapi bahasa Indonesianya so bad begitchu. Apalagi dia kalo tinggal di amrik n Europe gitchu yah…makin faseh aja bahasa Indonesianya, malah bahasa Sunda bisa dikuasain. Gila!!!

Apa yang ada di kepala keluarganya ya melihat dan mendengar dia berbicara seperti itu, terus mantan pacarnya enggak kelimpungan apa ngadepin cumi-cumi kayak gitchu. Biar look smart and pintcher kali yah (eh sama aja kaleee smart ama pinter), ngomong english sambil diulek sama bahasa Indonesia…hebat banget taktiknya, biar makin eksis di dunia artis. Padahal kalo liat sinetronnya, tuh bibir enggak sampe monyong-monyong banget…dasar Chinca!.

Pada waktu lalu trend bahasa Indonesia dipatah-ptahin make bahasa Inggris setengah-setengah, eh si Chinca malah nambahin make logatnya…makin ngejomplang aja tuh perbahasaan di mata publik. Makin turun dah pasaran tuh artis. Dulu pernah gw ngeliat tayangan seorang paranormal yang salah satu adik kandung artis (Sehertian’s Family)…ngomongnya campur aduk tapi satu arti…dia waktu itu ngomong kata, karena because…gila ngga disaring dulu tuh otak tuk milih kata!. Terus ada yang ngomong bahasa inggris terus karena ngga bisa lagi ganti bahasa Indonesia…KEBLINGERRRR!!!. Mendingan gw dah ngaku aja langsung sebagai pengguna bahasa ingris aktif (maksudnya aktif mendengar).

Belum lagi lagu Melly Goeslaw yang feat BBB, ada liriknya yang once upon time…(terusannya ga tau lagi gw, dah kadung enek!). Ada lagi yang judulnya Butterfly, liriknya pas di reff…butterfly fly away so high…emang sih enak tapi ngaco abis!!! malah gw kira ini salah satu jingle salah satu maskapai penerbangan loh.

kachau dech khalauw beghiniy…i jadi so confuse abis!…

MAKAN TUH LONDO SETENGAH JADI!

Untuk Jurnalisme Bermartabat dan Berkualitas

February 11th, 2008 by ardian-pettrucci

Bahas tentang kebebasan pers saja lah, mumpung masih hangat dan dekat dengan Hari Pers Nasional (HPN)

Bisa jadi ini menjadi momok untuk kalangan penguasa pemerintahan baik itu pusat maupun tingkat daerah serta cecunguk kroto yang berkaitan dengan jalannya kekuasaan pemerintahan. Tapi bisa juga ini menjadi bumerang untuk "penguasa" lembaga pers itu sendiri.

Kebebasan pers bisa dikatakan hampir mirip jika kita ingin membahas permasalahan hakiki manusia yaitu permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM). Jika kita coba menilik apa saja tolak ukur dan batasan HAM, mungkin agak sulit mengukurnya, karena tolak ukurnya sangat luas. Ini berkaitan dengan eksistensi seorang individu tentunya (mohon koreksi). Tapi jika dikaitkan dengan kebebasan pers, tentunya ada semacam batasan norma, hukum, agama, efek pemecah kehidupan sosial, serta efek terhadap publik, yang harus dijaga agar tidak kebablasan. Hampir mirip memang dengan HAM, kebebasan pers tentunya penting untuk kemajuan dunia jurnalisme. Tapinya ini perlu batasan yang jelas.

Perlu kematangan sikap rasional dan proposional dalam mengungkapkan, mengartikan, memahami, dan mengaplikasikan kebebasan pers ini. Dunia pers Indonesia pada awal reformasi mendapatkan angin surga setelah terkungkung lama mulai dari era kolonialisme sampai dengan orde baru. Dunia pers Indonesia pun semakin berkembang dengan dimulainya era kebebasan pers, tanpa ada batasan karena "euforia" masa bebasnya. Pada awal dimulainya kebebasan pers, pers seakan menggeliat dengan "membongkar" apa saja kebusukan pemerintahan, dan segala intrik-intrik yang ada di negeri ini. Lalu bermunculan para partisipan dadakan yang ingin punya modal ingin membuat media, berkaitan sudah mudahnya menerbitkan sebuah media karena sudah tidak ada SIUPP dan dihapusnya Departemen Penerangan.

Ironisnya kebebasan pers yang tadinya harusnya mempunyai dampak positif, informatif dan konstruktif, tapi makin lama semakin mengarah pada dampak negatif dan destruktif. Seharusnya jurnalisme makin berkembang menuju jurnalisme perspektif dan persepsi untuk ikut serta membangun masyarakat yang lebih beradab, bermartabat dan berkualitas. Bukan semakin menjerumuskan masyarakat pada hal informatif ringan yang menghibur dengan mengungkapkan keseharian seorang tokoh, kehidupan pribadi lalu mengoloknya sebagai bahan hinaan pada obrolan masyarakat. Atau informasi kriminal yang semakin lama tampaknya bangsa ini semakin bengis saja, apapun namanya itu tayangan, tulisan tentang kriminal, semakin lama apabila itu dikonsumsi secara periodik, efek akan tidak baik. Menurut saya akan menciptakan modus baru dalam dunia kriminal dan inspiratif bagi para amatiran. Belum lagi koran-koran kuning, walaupun peredarannya sudah dibatasi dan dikurangi. Tapi masih saja bumbu-bumbu seks itu diselipkan sebagai penaik oplah. Kaidah dan keindahan bahasa pun ditabrak. Kalau begitu mau dibawa kemana para konsumer anda?.

Kebebasan pers pun bisa jadi ini momok bagi para pemilik perusahaan pers, ini bisa jadi sikap dilematis apabila ingin menjalankan kebebasan pers. Apalagi kalau ada jurnalisnya mempunyai tingkat kritis dan kritisi yang "tinggi". Otomatis biasanya perusahaan media adalah pengendali kepentingan beberapa pemilik modal. Kebijakan-kebijakan redaksional pastinya sudah ditentukan itu terpaksa harus ditekankan kepada jurnalisnya yang mempunyai sifat kritis dan kritisi itu demi "keamanan" para koleganya untuk berjalannya kehidupan perusahaan. Dimana independensi media sekarang ini?.

Kehidupan para penggiat pers pun sangat jauh dari kelayakan, tiap hari mewartakan kesengsaraan, kemiskinan, demo-demo, kejahatan, bencana alam. Tapi siapa yang mewartakan kehidupan jurnalis, jarang aspirasi para serikat pekerjanya diwartakan.

Mari wujudkan jurnalisme yang bermartabat dan berkualitas, cerdaskan bangsa!.

Selamat Hari Pers Nasional

Merokok Mengganggu Kesehatan Jiwa

February 10th, 2008 by ardian-pettrucci

Pertama kali dalam bulan ini. Setelah banyak yang terlalui dalam rekaman isi otak yang tak terekam baik dalam tulisanku, ku sesali banyak yang terlalui. Semangat membuncah ketika jauh dari keyboard keparat ini, tapi apa lacur ketika berhadapan dengan keparat ini. Tinggal lelah dan mood yang jauh dari semangat menulis.

Amarah ku memuncak ketika seorang tokoh kontroversi itu mangkat dari bumi yang ia jajah sendiri, tapi tidak bisa ku rekam. Orang berbicara masalah kedelai, ah dasar keparat Republik ini. Rakyatnya sendiri ia buat busung lapar semua, dan sekali lagi ku lewatkan. Setelah itu permasalahan Jurnalisme yang terjadi dalam pemberitaan Suharto yang mulai dilanggar oleh para penentu kebijakan redaksional tiap media massa. Ibaratnya "mereka" yang mengaku-ngaku jurnalis harus menjilat ludah mereka sendiri. Aku gemas dengan menyibukkan meng-counter testimoni para penggemar "pahlawan" yang selama 32 tahun dengan sukses membangun negara ini dengan derita. Aku terlalu sibuk dan berkutak dengan permasalahan ku sendiri. Semuanya menghujam ulu hati, sesak dibuatnya. Stagnasi aku!

Aku terjebak dengan ketergantungan terhadap tempat sekarang ini, setelah ruang imajinasi ku yang dulu ditutup aksesnya, gara-gara maling bedebah (jadi  yang lain kena getahnya). Sekarang ruangan penyendirian ku  dibobol demi perluasan NewsRoom Keparat ini!hah…KAMPRET kuadrat!!!. Tak bebas aku bergerak!

aku menunggu…

2008, apalgi nih!

December 31st, 2007 by ardian-pettrucci

Selamat tahun baru ku ucapkan untuk mu semuanya kawan-kawan

Resolusi apa yang sudah kalian buat untuk menyongsong hari-hari pada tahun yang baru ini?

Bagiku puas sekarang dengan keadaan diluar NewsRoom ini, 1-1 lah kita kawan, aku sibuk menggali pundi kantong ku, sedangkan kalian diluar sana berhujan ria…hahahaha. Tidak terlalu menyesakkan seperti tahun sebelumnya, dimana kami yang hanya segelintir ini menghabiskan malam tahun baru 2007 hanya bersalaman dan ucapkan tantangan sombong untuk tahun 2007, kemudian kembali kepada rutinitas.

Sekarang 2008 kami menghabiskan nya di NewsRoom keparat ini lagi…hah, rutinitas menyesakkan tidak ada kelonggaran diri buat barang sedikit menikmati senyum dan tawa riang semu dari kejemuan. Paling hanya bertambah dengan perayaan potong kue dan Mie Japos, lumayanlah daripada manyun.

Sudahlah jangan hiraukan, jalankan saja. hari ini aku mungkin sudah menyelesaikan satu masalah, tapi datang lagi masalah hanya karena nasi goreng ayam keparat milik Ira. Betapa murkanya ia ketika nasi goreng ayamnya kandas tidak bersisa ku lahap tanpa berdoa dan berdosa. Dosa apa lagi ini yang ku buat…maaf ya ra, seperti biasanya kebiasaan di ruangan ini tidak bisa melihat makanan nganggur. Perut gw jadi mual nih melihat kau murka. Tahu begitu enggak sudi gw makannya. Yah, terserah lah lo sampai kapan murkanya, gw mah tinggal nunggu aja perut gw tambah mules di pagi hari.

Untuk hari dan keberuntungan hidup ku di tahun 2008. Jalanin aja deh, tanpa meminta lagi. Masih sama saja dengan tahun 2007 dan tidak ada perubahan, malah semakin sempit kesempatan hidup. Jalanan semakin ramai menyesakkan dan tidak menyisakan sedikit saja untuk bermanuver di jalan raya. Kota ini pun makin menciut dan tenggelam menahan beban, baik itu hidup, tekanan batin, kayu beton-beton tanda kemajuan pembangunan, dan pengharapan lebih dari penghuni kota. Yakinlah tahun 2008 semakin menyesakkan, tidak sebebas kembang api yang meletus dan mencuat ke udara dari selongsongnya untuk menari-nari di udara.

Kalian yang sedang menikmatinya tahun baru, ingatlah dan sama-sama saling mengingatkan. Euforia kita sebaiknya jangan berlebih, ingat! bahwa saudara kita sebagian sedang menguras isi rumahnya yang tenggelam dan mengeruk tanah merah yang liat serta memecahkan bongkahan batu besar yang menimpa kerabat mereka akibat banjir dan longsor. Pikirkan juga bahwa harga BBM akan naik lagi, tuh pikirin deh, secara gaji kagak melejit-lejit banget kan. Terus untuk kaum Marlboro Man! cukai rokok  yang makin tidak bersahabat dengan isi kantong, dan dipaksa pilah-pilih antara makan siang apa beli rokok dulu.

Selama aku melaju menuju kantor, ku lihat kalian berbondong-bondong menyongsong 2008 sehingga menghambat perjalanan ku saja. Betapa gilanya kalian menyambut 2008!, padahal itu cuma perubahan semu.

Sekali lagi tanpa bermaksud apriori dan skeptis terhadap perubahan, ku ucapkan selamat menikmati tahun 2008 ini kawan.

SELAMATKAN BUMI! dan berdoa semoga kita semua semakin bijak terhadapnya.

Persembahan Untuk Wanita

December 7th, 2007 by ardian-pettrucci

Selama belum bisa mengalir, ini ada beberapa tulisan yang ku baca di blog seorang teman…
Lumayan untuk intermezzo, tapi aku bingung ini ditujukan untuk siapa, atau pembenaran terhadap kami kaum pria…hihihi…Man’s POWER lah…hahaha
sori be dicopy blog lo, abis enak sih buat pembenaran dan penyadaran…hahaha

SELAMAT MENIKMATI!

oleh: Abe
albertwilliancoen.blogs.friendster.com

Persembahanku Untuk Wanita

Pagi ini, 18 Agustus 2007 aku menerima sms dari seorang teman baikku.
Seorang wanita. Sms tersebut menyebutkan bahwa dia menyukai seorang pria
yang wajahnya cukup di kenal di televisi belakangan ini. Kebetulan aku
cukup kenal dengan presenter muda berbakat itu dan kami sesekali sms-an
saling menanyakan kabar masing-masing. Kepada temanku itu aku berkata,
?Sangat manusiawi hehehe? Tetapi dia sudah punya kekasih. Kalaupun belum
kamu mesti bersaing dengan ratusan wanita yang mungkin memiliki rasa yang
sama. Coba aja..?

Sejujurnya, aku sudah sering mendengar teman-teman wanitaku sharing dia
menyukai pria ini, pria itu dan ?entah siapa lagi selanjutnya. Bahkan aku
pernah membaca blog seorang wanita yang aku kenal baik, di dalamnya ia
menulis bagaimana ia suka dengan seorang pria dan sangat berharap dapat
menjadi kekasihnya. Ia merindukan sang arjuna yang belum tentu tahu apa
yang ia rasakan. Bagai pungguk merindukan bulan. Kasihan?

Di usiaku yang sudah menginjak 28 tahun, tentunya aku memiliki banyak
teman, pria dan wanita yang sebaya denganku. Kalaupun di bawah atau di
atas, usianya tidak jauh-jauh dari angka tersebut.

Aku coba untuk merenung, kenapa beberapa?bahkan mungkin banyak?teman
wanitaku atau lebih tepatnya para wanita belum menemukan seorang pria yang
bakal menjadi pasangan hidupnya. Padahal setahuku, bagaimanapun minus-nya
seorang wanita (kalau ia menganggap dirinya demikian), paling tidak pernah
satu kali ?ditembak? pria, dengan kalimat ini, ?Aku menyukaimu? atau
?Bersediakah engkau menjalani hubungan yang lebih serius denganku??. Kenapa
aku bisa begitu yakin? Mari aku ceritakan:

Selama 5 tahun lebih aku bekerja di sebuah rumah produksi yang menayangkan
acara Solusi di salah satu stasiun televisi swasta itu, banyak kisah nyata
mirip Cinderella yang aku temukan. Ini benar-benar nyata! So real!! Bukan
sinetron, bukan film. Sebut saja Maria Beatrix, gadis yang pernah dijuluki
?si buruk rupa? dengan bentuk tangan dan kaki yang sama sekali tidak
sempurna, menggunakan kursi roda, namun menemukan ?pangeran? yang baik hati
berdarah Inggris. Pria ini begitu setia mendampinginya bahkan berhasil
mengajarinya berenang. Hari ini mungkin mereka sudah menikah.

Ada juga Indrawati, manusia terpendek Indonesia yang pernah masuk MURI
karena bisa melahirkan dengan normal. Kalau melihat bentuk fisiknya, sangat
tidak sempurna, namun menemukan seorang suami dari kalangan terhormat dan
sangat mencintainya dengan sepenuh hati. Di Bandung, kami juga memiliki
narasumber si pelukis Patricia Saerang, seorang yang melukis dengan kakinya
atau mulutnya karena tidak memiliki tangan. Namun menemukan pria berdarah
Eropa yang sangat mencintainya. Hari ini mereka sudah menikah dan hidup
bahagia.

Jadi, kalau mau banding-bandingan dengan wanita-wanita yang aku sebutkan
diatas, bagaimana mungkin kalau teman-teman wanita ku itu belum bisa
menemukan ?sang pangeran cinta?? Bulsyetttttt! !!! Kalau mau
banding-bandingan, teman-teman wanitaku itu tergolong wanita yang cantik,
dengan fisik yang nyaris sempurna dan memiliki pekerjaan yang bagus.

Setelah aku analisa, inilah inti permasalahannya:

Ternyata banyak wanita tidak tahu kuncinya. Untuk membuka baut ukuran 12,
kita harus menggunakan kunci ring atau kunci pas dengan ukuran yang sama,
12. Sebut saja hal apa lagi yang lain sebagai perumpamaan. Dari zaman Adam
dan Hawa sampai sekarang, wanita memang didesain untuk tidak memulai
terlebih dahulu dalam hal cinta. Ekstrimnya, wanita dilarang jatuh cinta
terlebih dahulu dan mengejar-ngejar pria. Karena wanita memang tidak di
desain untuk itu. Perihal ada budaya di daerah tertentu dimana pria di
lamar oleh wanita, aku sangat tidak berminat membahasnya. Dan sampai hari
aku masih menganggapnya sebuah keanehan. Aneh!!!! Namun aku menghormatinya.

Aku suka kata-kata ini: Cowok menang milih, cewek menang nolak!!!

Kedengarannya win-win solution. Ya? bisa begitu. Cowok memang bisa memilih
wanita mana saja yang dia suka. Cowok bisa saja jatuh cinta dengan wanita
mana saja yang hatinya memang ?jatuh?. Toh, sampai hari ini jumlah cewek di
dunia ini jauhhhhhhhhhhhhhhh lebih banyak dari cowok. Di Batam, para wanita
bahkan sering bertengkar memperebutkan pria, karena komposisi antara wanita
dan pria di kota ini memang sangat tidak seimbang. Jumlah wanitanya
jauhhhhhhhhhhhhhhhh lebih banyak dari pria.

Cowok kalau nembak cewek ditolak, respon selanjutnya ada dua, pertama:
mencoba lagi untuk kedua, ketiga, keempat, atau kesekian kalinya atau kedua
, tidak melanjutkan dan berkelana mencari yang lain lagi. Toh, jumlah
wanita jauhhhhhhhhhhhh lebih banyak dari pria. Dan harga diri seorang pria
tidak akan turun dan tercabik-cabik hanya karena cintanya ditolak. Karena
pria seorang pejuang sejati, dia pasti akan mencoba dan mencoba lagi.
Sampai dapat! ?Emang cewek elo doang??? . Pikiran seperti itu ada kadang di
sana .

Tetapi kalau wanita begitu agresif terhadap pria, lalu kemudian ditolak
hehhee? Jawab sendiri kata yang tepat untuk itu.

Pria dan wanita sama-sama didesain untuk menjadi pemenang. Menang! Cowok
menang milih, cewek menang nolak. Masalahnya sekarang banyak wanita yang
mencoba untuk merubahnya menjadi: Cewek menang milih. Jadi kalau cewek
menang milih?maka berarti cowok menang nolak!

Bagi para cowok, kalau ditolak adalah hal yang biasa. Memang sedih untuk
sesaat. Tapi tidak untuk meratapinya. Lagipula cowok didesain lebih banyak
?bermain? pikiran, daripada perasaan. Masalahnya, apakah para cewek siap
kalau ditolak cowok setelah ?menang? milih cowok yang mana aja???

Untuk menjawab pertanyaan ini, aku mau membagikan hal ini kepada para
wanita, khususnya.

Paling tidak ada dua wanita yang paling dekat denganku, yang aku ketahui
sangat bahagia. Pertama adalah ibuku sendiri. Ya, mama. Ibuku melepaskan
masa gadisnya ketika usianya 23 tahun, dilamar ayahku, seorang pria tampan
berumur 32 tahun dengan tubuh proposional. Ketika pertama kali bertemu
ibuku, ayahku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Padahal saat itu, seorang
wanita sedang tergila-gila kepadanya dan menjadi begitu agresif. Ia ingin
memiliki ayahku. Tetapi sebenarnya pria tidak bisa berdusta, dan jarang
berpura-pura. Ayahku tidak mencintainya. Namun wanita itu memaksanya.
Ayahku pria sejati yang harus selalu memulai dan tidak bisa didahului
seperti itu. Kepada ibukulah, ayahku jatuh cinta. Mereka menikah pada tahun
1978. Ayahku berkali-kali jatuh cinta dengan wanita yang sama, yaitu ibuku.
Usia pernikahan mereka sudah 29 tahun dan perkawinan mereka bertambah kuat
dari hari ke hari. Aku pikir, ibuku adalah wanita yang paling bahagia di
bumi ini karena dia tahu kuncinya. Dia dicintai dan diperlakukan bak ratu.

Kemudian yang kedua, saudaraku satu-satunya. Adik perempuanku yang manis
itu. Di usianya yang 26 tahun seorang pria yang sangat mencintainya dan
telah setia menunggunya selama 6 tahun, menyatakan keinginannya untuk
menghabiskan waktunya nanti bersamanya. Meskipun enam tahun yang lalu,
adikku tidak meresponinya, namun akhirnya ia luluh juga. Kali ini adikku
tahu kuncinya: bahwa wanita didesain untuk DICINTAI dan bukan memulai untuk
mencintai. Sebelumnya, aku tahu adikku berharap dapat menjalani hubungan
dengan seorang pria gagah dari angkatan laut. Namun pria itu ternyata tidak
sepenuh hati mencintainya. Ia sadar, bahwa ia harus melupakan pria itu dan
memberi kesempatan untuk yang lain. Hari ini adikku, diperlakukan bak ratu
oleh kekasihnya. Begitu dicintai, dilindungi, diperhatikan dan hubungan
mereka semakin menunjukkan kualitas yang semakin baik, hari ke hari. Aku
pikir, adikku wanita yang paling bahagia saat ini. Karena seorang pria
datang kepadanya dan mencintainya dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa.

Sebaliknya, aku menemukan ada wanita yang memulai terlebih dahulu, begitu
agresif dan sangat mencintai seorang pria dan akhirnya memang
mendapatkannya dan bahkan menikah dengannya. Namun sayang, sesungguhnya dia
tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya. Karena suaminya punya cinta
yang lain. Dan wanita itu harus membayar harganya. Sangat mahal. Ia harus
berkorban selama perkawinannya berlangsung. Ia harus berkorban materi yang
terus-menerus dan yang paling menyedihkan selalu korban perasaan. Padahal
bukankah seharusnya suaminya yang memenuhi kebutuhan materinya? Muka mereka
menjadi begitu kusut dan tubuh mereka menjadi begitu kering. Karena tidak
?disirami? cinta suaminya. Karena sekali lagi, suaminya punya cinta yang
lain.

Para wanita, daripada engkau mencintai pria yang tidak mencintaimu, atau
hanya sekedar berpura-pura mencintaimu, mengapa engkau tidak belajar
mencintai pria yang sangat mencintaimu dan memperlakukanmu dengan begitu
berharga? Mungkin awalnya engkau tidak begitu menyukainya. Namun jika
mengingat bahwa ia begitu mencintaimu, mengapa wanita tidak mencoba untuk
BELAJAR mencintainya dan memberinya kesempatan.

Percayalah bahwa dalam kamus pria tidak ada istilah BELAJAR mencintai. Mau
wanita yang ditujunya seperti apa, mau gemuk, mau pendek, mau rada tulalit
atau sebut saja kekurangan lainnya, percayalah bahwa pria adalah makhluk
yang jatuh cinta, bukan belajar untuk mencintai. Tetapi, wanita bisa
BELAJAR mencintai. Tatkala melihat kegigihan seorang pria yang tidak pernah
berhenti menakhlukkan hatinya, tatkala melihat pengorbanan, perhatian dan
kasih sayang yang diberikan, aku mendengar banyak kesaksian akhirnya wanita
menyerah.

Berdasarkan apa yang aku lihat, bahkan aku mengadakan riset untuk hal ini,
wanita yang bijak adalah wanita yang jatuh cinta dengan pria yang terlebih
dahulu jatuh cinta kepadanya. Bukan jatuh cinta dengan pria yang pura-pura
jatuh cintanya kepadanya.

Bagi pria, Anda dilarang untuk berpura-pura jatuh cinta. Karena setelah
engkau menjalaninya, lama-lama pura-pura itu akan hilang dan engkau pasti
akan berkelana mencari cinta yang lain. Bukan yang pura-pura. Karena
bagaimanapun engkau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.

Kalau aku mencoba untuk pura-pura mencintai wanita yang pernah sangat
mencintaiku, mungkin hari ini aku sudah memiliki anak dengannya dan sudah
menjadi orang kaya secara materi. Tetapi aku pasti membuatnya menderita
karena kepura-puraan itu. Aku akan berkelana mencari cinta yang lain. Dan
itu sangat menyakitkan. Karena hubungan itu sudah sampai kepada pernikahan,
mau tidak mau kita harus tetap meneruskannya, kalau tidak mau anak-anak
yang menjadi korban perceraian. Namun harganya terlalu mahal untuk dibayar.
Para pria tidak dibenarkan untuk menjadi begitu brengsek dan memanfaatkan
wanita yang jatuh cinta kepadanya, sementara itu sendiri punya cinta yang
lain. Para pria tidak dibenarkan menjadi begitu bejat untuk memanfaatkan
uang, fasilitas dan materi yang diberikan oleh wanita yang mencintainya,
dengan harapan bisa mendapatkan cinta sang pria. Itu pria yang licik dan
pengecut.

Untuk para wanita, mungkin kalian gelisah di usia yang hampir menginjak
kepala tiga belum menemukan pasangan sejati. Mungkin ia sudah datang,
tetapi Anda menolaknya. Karena memang anda didesain untuk ?menang nolak?.
Tetapi mungkin saja anda lupa kuncinya. Kuncinya adalah anda sebaiknya
jangan memulai terlebih dahulu dan kalau sulit menjangkaunya, anda menjadi
begitu agresif. Anda harus tahu kuncinya bahwa anda didesain untuk dicintai
dan diperlakukan bak ratu. Bukan menjadi seorang yang mengejar-ngejar pria.

Berulang kali kukatakan kepada teman-teman wanitaku. ?Kalau ada seorang
pria yang datang kepada kalian dan menyatakan cintanya, berpikirlah dua
kali untuk menolaknya.? Jangan sampai anda menyesal di kemudian hari.

Aku tidak menyarankan kalian untuk terburu-buru menjawab, ?Ya?. Aku hanya
mengatakan, ?Berpikir dua kali terlebih dahulu untuk menolaknya.? Siapa
tahu, ini cinta sejatimu?

Wanita, anda begitu berharga. Ciptaan terindah. Anda ditentukan untuk
begitu dicintai, dikagumi, dilindungi, dikasihi, diperhatikan, diayomi dan
aku tidak tahu harus menyebutnya apa lagi? Kalian ditentukan untuk
diperlakukan bak ratu setiap hari.

Karena manusia ditentukan untuk hidup berpasang-pasangan, hai para wanita,
bersiap-siaplah seorang pangeran cinta datang kepadamu, menyatakan betapa
ia ingin menghabiskan waktunya bersamamu, dan memberikan seluruh cintanya
kepadamu. Namun, ketika pangeran cinta itu datang, apakah engkau akan
langsung menolaknya? atau ?berpikirlah dua kali untuk berkata ?tidak??,
karena siapa tahu ini orang yang akan memperlakukanmu bak ratu. Tidak
peduli bentuk fisikmu, tidak peduli tingkat pendidikanmu bahkan tidak
peduli masa lalumu. Ia akan datang dengan kata-kata ini, ?Aku mencintaimu
walaupun?..?

Tulisan ini aku dedikasikan untuk para wanita ? Ciptaan Terindah -
By Kendrick Sumolang

Selangkah untuk Kematian

November 25th, 2007 by ardian-pettrucci

Terima kasih Tuhan…
Satu pinta ku, jagalah aku
Mungkin alpa besar kesalahan menjadi pemakluman untuk diri.
Banyak sudah ku lalui jalan hidup ini, banyak sudah perdu-perdu menemani langkah ku di hutan beton dan rimba pelintasanku
Tak satu pun sanggup membersihkan diri ini mencari pemaknaan. Sampai kapan ku bertahan dalam kesucian?
Semakin lama ini jadi sebuah tantangan sebagai manusia sesungguhnya.
===========
Tuhan, bosan tidakkah kau dengan aku?, jangan lah ya Tuhan karena kepada siapa lagi aku bergantung doa dan harapan.
Itu saja testimoni ku kepada-Mu ya rabb.
Terima aku untuk bertahun lamanya lagi ya Alloh, aku ingin menjelajah!

27

Memoar untuk Sahabat Terbaik

October 31st, 2007 by ardian-pettrucci

Memoar untuk sahabat, Achmad "Maink" Ismail, IWP13969703LW (10/10/81-28/10/07)

Tak ada yang bisa menggambarkan perasaan ini ketika kabar yang menyentak itu menjadi kenyataan. Kita (gw, Panjul, dan elo sendiri) sudah tahu, hal itu tinggal menghitung hari. Dasar kepala batu, kau cuek saja, tapi tetap menyimpan mimpi-mimpi yang panjang. Semangat hidup yang sangat spektakuler sahabat.

Berpikir keras aku ketika kau tinggal menghitung hari, bagaimana caranya kita punya kenangan yang istimewa, walhasil hanya banyak ceng-cengan yang menjadi arti pada saatnya kelak. Aku sudah ingin merancang pendakian terakhir untuk mu sobat, tapi waktu dan kesempatan tidak pernah memberi kita keluangan. Ingat betapa kau dengan ringannya memberi tahu aku sebuah tabung kaplet dan tertera untuk penderita penyakit khusus. GILA, ini bukan main-main, aku dan Panjul menyarankan kau untuk terus bersabar dan ini kesempatan untuk mendekatkan kepada-Nya. hebatnya kau bertahan dengan lama sahabat, sungguh perjuangan panjang dari tubuh yang demikian kuat menahan penyakit itu. Kau memang dari dulu punya kemampuan fisik yang luar biasa.

Kami berkenalan secara tidak sengaja dan dengan cara yang konyol, ketika itu di muka gerbang sekolah, bubaran jam sekolah. Riuh rendah suara memanggil dan saling sapa. Tak ku sengaja, aku melihat teman perempuan sewaktu SMP dahulu, teman dekat. Ku panggil ia Made, perempuan Hindu. Tapi disebelahnya ada seorang pria yang terlihat menemaninya. Made ku tepuk pundaknya, dan ia pun menolehnya. Ia pun kaget melihat kita berada satu lingkup sekolah, walaupun ia tidak satu sekolahan.  "Hai", ujar made. "Sama siapa lo De?", tanyaku heran padahal baru saja hitungan bulan ia sudah menggaet seorang pria. Sang pria cengar-cengir seperti orang tenar sibuk disapa kana-kiri. Lantas pria itu menyibakkan topi ku, halah…ia ternyata pria cengeng yang menangis pada waktu latihan fisik Inswapala. "Maink!", ia memperkenalkan dirinya. Aku sambil lalu saja dan itulah awal perkenalanku dengannya.

Kami pun sempat double date loh. Lucu sekali pada waktu itu, maink sibuk bergumul mesra, bercanda rayu didalam ruang tamu. Sedangkan aku hanya melongo geleng kepala melihat tingkah laku mereka berdua. Sambil melongokkan setengah kepalanya, Maink menegur dan bertanya, "Ngapain lo berdua diam-diaman?!". Sialan, bocah edan, justru gw yang bingung melhat tingkah polah kalian berdua. Kaya binatang lagi bercanda.

Setelah itu, Maink yang ku kenal sangat jauh. Tak alang kepalang lagi tindak tanduknya serta reputasinya di sekolah. Anak cerdas tapi merupakan (meminjam kata Dicky) partner in crime yang baik. Pergaulan dan lingkungan yang kurang sehat, serta kebodohan ia menyortir semua hal itu. Tapi pandangan ku adalah tetap kesan pertama, segarang apapun ia disekolah, sengoton apapun ia menghadapi masalah, tak takut dengan semua orang, tapi ia merupakan pria yang cengeng…hahaha. Pernah sekali aku memergokinya ketika ia sedang bertiga dengan kawan-kawannya. Ruang kecil di depan sekolah itu mendadak gaduh. Teriakan histeris para perempuan, mencoba menyadarkan para lelaki diambang maut. Bah!!! lagi-lagi tiga orang yang bodoh mencari sensasi, dasar Maink. Sudah keracunan seluruh aliran darahnya, dan badan menolak keras, menggigil sekujur tubuh, muka pucat pasi. Tak mau ambil pusing, aku keluar dari pertunjukan itu. Resiko ketika membuat keputusan!. Terlihat apatis memang, tapi itulah jalan hidup. Tapi ku dengar dari kejauhan, "biarin aja gw mau mati aja kalo begini!", bah!…mau mati saja bilang-bilang, kalau mau jangan merepotkan orang.

Ia merupakan sosok yang sangat kepala batu dan analisis. Masih ku ingat betapa ngotot dan gigihnya ia ingin mengadakan pelantikan IWP di gunung. Ia meneguhkan bahwa ini organisasi pecinta alam, tidak lazimnya mengadakan pelantikan di kota. Kepala Sekolah kami sangat kolot. Beradu argumen lah ia, sampai akhirnya jadilah kami semua berangkat dan mengadakan pelantikan di gunung. Seharusnya berterima kasih kami semua kepadanya. Selain itu daya matematis ia sangat kuat, entah anugerah darimana isi otaknya bisa menjelajah dan mempersempit perhitungan matematis, di luar jangkauan ku. Pada saat "setengah sadar", ia pun dapat menghitung dengan baik, tak berkurang sedikit pun kemampuan berhitungnya, walaupun zat-zat haram menggerogoti isi otaknya. Para guru pun bahkan tidak akan percaya dengan kecerdasaanya, karena tertutupi oleh tingkah liarnya. Penilaian yang sangat subjektif dan picik!.

Kami akrab setelah lulus dari sekolah, awal canda itu berjalan baik. Tapi "kegemaran" Maink terhadap zat itu tidak berhenti. Ia terus mencintai zat itu, walau ku tahu ia berusaha keras menjauhinya. Semeru lah yang memulai semuanya, banyak cerita disini bersama ia. Inilah orang yang sangat tidak memperdulikan dirinya. Bayangkan persiapan ia sangat minim dari standar pendakian. Hanya bawa sweater, celana panjang khas jawa corak batik dan baju, serta logistik. Sebelum berangkat dengan tubuh yang terlihat kuyu, ia membuat pernyataan ingin mati di gunung. Tak habis percaya kami semua (aku, Dicky, Panjul, Rafky). Sepertinya salah bawa orang, tapi Dicky dan Panjul meyakinkan bahwa Maink cukup baik untuk mendaki. Pada saat meniti, melipir punggungan antara Ranu Pane dan Ranu Kumbolo, tak hentinya kami tertawa dan bersahut-sahutan. Nama-nama ayahanda kami lah yang mengisi kekosongan hutan rimba itu. Pada saat aku menyebut nama ayah Dicky, Maink saat itu langsung meninterupsi perkataan ku. "Nama bapaknya siapa tuh yan?", tanya Maink heran. "Lah, itu kan bapaknya Dicky!", seru ku. "Salah bego…nama bapaknya buka itu!". Aku pun langsung melihat wajah Dicky yang mesem-mesem menahan tawa. Sialan! aku dan Panjul selama ini merasa tertipu, seenaknya Dicky menyebut-nyebut nama ayah kami tanpa kami ketahui nama ayahnya.

Ranu Kumbolo, kehebohan dimulai. Mulai dari kompor kami yang meledak, sehingga api menyala-nyala dari slang, dan menjadi pemandangan yang lucu di tengah-tengah para pendaki yang beristirahat. Kami pun berebut dengan anjing saat bungkus nugget, kami di "rampas". Berlarian saling kejar-kejaran dengan anjing liar, segala barang apapun didekat kami, kami timpukkan ke arah anjng keparat itu. Lelah pun menjangkit, angin lembah semakin menusuk tulang belulang. Berhubung tenda minim, kami sepakat mendirikan bivak. Mengukur arah angin agar tidak terlalu parah diterpa angin lembah, maka mulai sibuklah membuat bivak. Aku dan Maink ingin sekali menghindar dari pekerjaan itu, melihat ke arah atas ada tanjakan cinta. Mitos disini, apabila berhasil melewati tanjakan ini tanpa henti maka niscaya pengharapan cintanya akan dikabulkan. Aku menantang Maink, sejurus kemudian kami berdua berjalan menuju tanjakan cinta. Ternyata tidak mudah, langkah kami terhenti karena kelelahan. Sambil melihat ke bawah, tampak kawan-kawan sibuk mendirikan bivak. Aku dan Maink hanya tertawa-tawa melihat mereka bekerja, tapi Maink segera menyadarkan ku dan mengajak untuk membantu kawan-kawan.

Tim kami sangat terkenal heboh, mungkin dimata para pendaki lain, kami adalah galatuping (gabungan lelaki tukang camping). Ketika kompor kami meledak di ranu Kumbolo, teriakan histeris membahana seantero Ranu dan sambil memegang tabung gas serta slangnya yang menyala-nyala. Tapi paling terkenal adalah aku dan Maink. Kami berjuluk Kapten-Kopral dari Bekasi. Setiap berjalan pasti Maink ku panggil Kapten, "Kapten gimana kondisi di depan, Kapten bagaimana keadaan Indonesia today", dan Maink pasti membalasnya "KOPRAL BEGO!"…hahaha.

Sampai di puncak Mahameru, Maink kembali berulah. Berbeda dengan orang kebanyakan ketika menjejakkan kakinya di puncak, ia malah melingkurkan tubuhnya sambil ditutupi selapis selimut. Mana ada yang membawa selimut ke atas puncak selain ia. Merajuk seperti anak kecil, meminta harus ada pengabadian foto ia di atas puncak.

Lain lagi dengan pendakian Sindoro. Kata-kata tim sein kiri keluar disini, maksudnya adalah menyindir Dicky yang pada awalnya jalan paling depan sebagai leader perjalanan, tapi lambat laun seperti kendaraan memberi sein kiri, mempersilahkan kendaraan lai menyusulnya. Disini aku kena dikerjai oleh Maink. Aku yang hanya membawa daypack, dipaksa oleh Dicky dan Maink untuk membawa tenda yang dimuat di dalam tas jinjing ala ibu-ibu kepasar. Bawaan ku pun menjadi limblung dan tidak seimbang beratnya, terasa tersiksa membawa itu!. Kami  kena badai hujan dari pukul tiga sore sampai pukul 11 malam. Tenda bocor, air memenuhi isi tenda, angin kencang dan dingin tidak karuan. Di tambah oleh pakaian yang basah, sekali lagi penyiksaan tiada terkira. Sepanjang itu kami terus memanjatkan doa, jangan sampai doa Maink kesampaian disini…IA INGIN MATI DIGUNUNG!. Pagi menjelang, kaki ku keram dan ada sedikit membenjol tepat dilutut, mungkin ini akibat keram semalam. Kami ingin memutuskan berkeliling sesaat, karena di puncak ini kami mendengar banyak sekali orang bercengkrama dan tertawa-tawa. Padahal di puncak ini kami hanya ada tiga tenda dan itu letaknya berjauhan antara lembah yang satu dengan yang lain. Selain itu kami menunggu seorang teman yang menyusul dari Bekasi. Aroma mistis menyengat kami setelah mengetahui di puncak ini sepi, Maink merengek kepada ku tidak ingin ditinggal sendirian dan minta ditemani ke tenda.

Perjalanan menurun tajam dan berliku, memaksa kaki ini untuk menapak lebih kuat, sedangkan kondisi lutut ku semakin tidak baik. Benjolan itu semakin membesar sekepalan tangan. Tak bisa menekuk lutut ku, harus ku istirahatkan sejenak kakiku. Tiba di pos (entah aku lupa pos apa itu) dekat kebun teh, kami bertemu dengan pendaki dari Rawamangun. Bercengkaram dan menanyakan alamat, pembuka pembicaraan. Dari arah atas maink setengah berlari kecil mengejek ku, setengah mengancam aku mengambil batu besar dan mengancam akan menimpuknya. Ia tidak mau berhenti, aku niat hati ingin mengenai carrier nya tapi yang terkena malah mata kakinya. Terpelanting lah ia dengan membawa carrier besar, berdentum bunyi tubuh serta tas besar itu jatuh. Ku kira ia akan marah besar, tetapi ia hanya tertawa kecil sambil meringis setengah kesakitan mengumpat ditengah undakan tanah kebun teh. Di bilanglah kami tim Srimulat oleh pendaki dari Rawamangun.

oiya, Maink sangat menjengkelkan apabila sedang bermain billiar. Dengan segala perhitungannya ia akan dapat memperkirakan bola yang ia lesakkan sudah diperhitungkan dengan masak-masak. Padahal itu bola liar dan lebih kebanyakan faktor keberuntungan. Tapi ia bersikukuh kalau bola itu memang sudah diperhitungkan, kami yang menjadi lawannya terpaksa harus meredam kejengkelan, karena apabila diadu dengan argumen sama saja dengan gilanya Maink.

Sampai pada akhirnya kita sama-sama mengetahui bahwa waktu kita menjadi seorang teman, kawan, sahabat, saudara, dan berkumpul akrab bersama-sama karib tinggal menghitung waktu. Tapi di wajah mu tidak sedikit pun menunjukkan kecemasan akan kehilangan itu. Malah berita kegilaan mu semakin menjadi-jadi, adalah kau menjadi penunggak kartu kredit hingga puluhan juta yang semakin lama semakin menggungung jumlahnya, adalah kau berhenti dari pekerjaan karena berselisihpaham dengan atasan, kau bertemu dengan Tommy datang dengan muka penuh cakaran karena bertengkar dengan kesayangan mu, sepanjang waktu kau gadaikan HP mu serta berganti nomor HP dan hilang beberapa HP. Tak habis heran ku menunggu waktu itu, aku pun terus memantau itu. Malah aku sempat berkonsultasi dengan panjul mengenai mengajak kau untuk mendaki gunung Gede-Pangrango. Panjul pun mengisyaratkan dan mengiyakan mengenai ide ku itu, mungkin ini adalah pendakian ia terakhir yan, itulah kalimat yang terlontar dari bibir Panjul. Panjul pun tidak lupa ku beri laporan mengenai tindak tanduk mu, sama seperti aku, Panjul pun heran bukan main, anak ini tidak menunjukkan tanda-tanda tobat…hahaha. Ia pun ingin menikah, padahal ia tahu itu hal adalah yang tak mungkin. Berkali-kali aku menanyakan apakah ia benar serius dan sadar seratus persen tentang niatannya. Cincin sudah disiapkan, tanggal pun sudah dipersiapkan, bahkan rumah telah tersedia.

Masih banyak cerita tentang salah satu sahabat terbaik ku ini, tak habis diuraikan dengan berjuta-juta kalimat dan pita memori isi otak ku ini, masih banyak kawan ku Maink. Tak sudi aku teteskan air mata ini, malu aku dengan kau menangis di depan tubuh kering berhias kumis dan jenggot tak terurus, serta di pusara mu sekali pun. Kau adalah yang terkuat aku kira, tak pantas kau hanya ditangisi tapi kau akan ku kenang sebagai yang terbaik. Lelaki yang tampan, ceria, cerdas, impulsif, meledak-ledak, analisis, tapi cengeng. Kau bukan yang meracuni aku dengan alam, tapi kau racuni aku dengan bagaimana belajar mengenai semangat hidup tanpa mengeluh, jangan berhenti bermimpi walau waktu itu semakin sempit. Kau adalah Lintang bagiku dalam Laskar Pelangi. Kau tinggal kan mimpi itu kepada kami semua, kawan-kawan yang menganggumi sebagai pribadi yang misterius penuh cerita.

Mungkin masih lama kita akan bertemu, semoga kita tidak sibuk di hari kebangkitan, pada hari penghitungan, meniti jembatan shirotul mustakim, dan semoga ku temui engkau sedang bercumbu mesra bersama para bidadari di surga.

Kawan, sedih ku tinggalkan dan ku hentikan tulisan ini. Terbayang potrait wajah mu dalam monitor ini, menari-nari riang kau di atas kepalaku, ku ingat jelas foto close up mu di meja belajar ku dengan topi rimba. Sekali lagi kawan yang terbaik ku  Achmad Ismail, selamat jalan kawan, semoga amal baik mu diterima disisi-Nya. Maafkan kawan mu yang selalu terlupa dengan mu, tersilap tingkah laku yang pongah, atau pun penghinaan itu hanya candaan kawan.

Rinjani sudah ku tuntaskan, ingat impian kita di Semeru. Itu untuk mu, belum pernah gunung cantik itu kupersembahkan. Tapi itu untuk mu kawan. Selanjutnya, doakan semoga ini berhasil…KERINCI SEBLAT!.

Paradoks kronik

October 26th, 2007 by ardian-pettrucci

Siapa yang sedang jatuh cinta?…
Beruntunglah anak manusia itu yang mendapat anugerah indah dari tuhan. Kita tidak akan bisa menolak perasaan yang datang itu, semua orang akan jatuh cinta kelaknya. Bila jatuh cinta segalanya menjadi mudah, semuanya indah lancar sentosa, semuanya tampak bodoh, rasio orang lain tidak mampu menjangkaunya, tersenyum tiada henti tampak seperti orang gila, berkaca-kaca nongkrongin cermin seperti menonton layar bioskop kelas wahid film box office.
Bila jatuh cinta kalian akan sedikit menjadi ofensif, posesif, menggilai dan gila, tiap hari merindu, kala melihat bulan akan tampak bisa menyampaikan perasaan kita, bintang menjadi penghatar surat cinta, matahari penjemput cinta kita, terlindungi dan melindungi. Indahnya secara teoritis dan diatas kertas. Nikmatilah selagi bisa kawan.

Namanya saja jatuh cinta, maka siap-siaplah jatuh tersuruk-suruk, terbanting menjadi remah-remah kecil, atau gila secara akal…hahaha. Dan jatuh cinta pun bisa menjadikan kita buta sesaat, hilang akal lagi, pembelaan yang berlebihan dan merasa benar, segala aral tidak dapat menghalangi cinta itu bersemi.

Aku pun demikian, begitu buta hingga membabi buta tidak kepalang tanggung menjadi monster yang menakutkan. Tidak ada intropeksi terhadap diri, merasa benar, ketakutan berlebihan, sehingga ia tersakiti. Lirih aku menyadari tapi telat, tidak ada pengampunan. Ditinggalkannya, aku hilang kesadaran, meratap kehilangan. Obat dan antidot itu datang lagi. Kali ini datang sebagai pria dewasa dan matang secara pemikiran, tapi pemikiran seorang pengembara yang bukan seorang bohemian. Walaupun aku secara strata berada dalam strata sosial yang termanjakan. Lamunan malam pemilik pelangi Jonggol dan Kuta Lombok yang mengobati itu, memang dari dulu ia ku amati dan memang ku cari. Dasar penyesalan tidak berada di depan, kalau saja berada di depan pasti sempat lah mengelak…hehehe. Dan ia mungkin tidak percaya…hahaha. Setiap hari aku mengalami paradoks akut yang lama-lama akan timbul kronik pada kehidupanku.

Sudahlah lupakan itu, tidak berguna lagi sekarang. Cuma jadi ajang kutukan tak bertuan saja, mengawang-ngawang sampai akhirat pun tidak akan diijabah sama sang ilahi. Sekarang kita membahas saja tentang jatuh cinta. Ketika ku membaca cerita tentang Arai pada karya tetralogi Andrea Hirata, betapa gigihnya simpai keramat itu berjuang mendapatkan cintanya, sampai-sampai dari belitong ke prancis ia menyatakan syair cinta itu ditengah kelimunan orang lain bangsa dan bahasa pada hari kematian Jim Morrison dekat pusaranya. Kasihan, cinta bertepuk sebelah tangan.                                                                                                                  End of The Night  :                                                                                                                              Realms of bliss
                             Realms of light
                     Some are born to sweet delight
                     Some are born to sweet delight
                     Some are born to the endless night

I Looked At You :

                                I looked at you
                                You looked at me
                                I smiled at you
                                You smiled at me

                            And we’re on our way
                            No, we can’t turn back
                            Yeah, we’re on our way
                            And we can’t turn back
                               ‘Cause it’s too late
                                Too late, too late
                                Too late, too late

                                I walked with you
                                You walked with me
                                I talked to you
                                You talked to me

Lebih gila lagi adalah cintanya A Kiong, ia tidak akan pernah menjadi pria sejati, karena hanya memendam perasaan tanpa berani ambil resiko apapun. Terlalu malu dan takut. Selamanya akan menjadi pesakitan cinta dan memendam rasa sebagai pecundang!, atau menjadi Scaramouch (pecundang yang banyak omong).

Lain lagi dengan kisah cerpen dari Seno Gumira Ajidarma, yang mengisahkan tentang dua pasang kekasih yang cinta buta dan buta karena cinta. Ketika dua pasangan itu ingin berpisah salah satunya berkata, bahwa ia akan kembali untuk cintanya. Tapi apa dinyana, cinta itu tak kunjung memihak dan sesuai dengan janji. Berdiri mematung, hingga berlumut hijau dekil, menetap seperti batu patung penjaga rumah agar terkesan angker. Bodoh tak terkira jadinya orang itu, tidak realis, malah jadi absurd.

Cinta yang paling epik perjuangannya adalah cinta Ali Topan terhadap Anna Karenina. Tokoh, idola, pahlawan antikemapanan akhir 70-an ini, begitu dahsyat menerjang aral melintang untuk mendapatkan cinta Anna Karenina dan ia coba menisbatkan syair cintanya pada sebuah lagu milik The Beatles - Anna (Go to Him):

                       Anna
                        You come and ask me, girl
                            To set you free, girl
                        You say he loves you more than me
                            So I will set you free
                                Go with him
                                Go with him

                                    Anna
                        Girl, before you go now
                        I want you to know, now
                        That I still love you so
                        But if he loves you more
                                Go with him

                                All of my life
                       I’ve been searching for a girl
                           To love me like I love you
                    Oh, now, but every girl I’ve ever had
                       Breaks my heart and leaves my sad
                       What am I, what am I supposed to do

Yang lucu dua novel Teguh Esha ini mampu mendoktrin teman-temanku ingin mendapatkan cinta seperti itu dan berusaha menjadi Ali Topan sebenarnya. Salah dalam menggilai buku sehingga meracuni nalar sehat. Cari jaket Levi’s belel, rambut gondrong terurai acak-acakan, tidak takut apapun, bercita-cita menjadi wartawan dan semuanya mulai belajar menulis, hanya saja tidak mampu melengkapi motor trail nya saja. Ali Topan mampu memikat Anna Karenina dengan menjadi dirinya sendiri, hebatnya Anna mampu melepaskan diri dari pengaruh dan ia mengerti kebutuhan untuk dirinya. Jatuh cinta yang sangat Rock ‘n Roll, siap menerima tantangan menjadi manusia dalam artian sebenarnya, walaupun orang bilang itu GILA!!!.

Berbicara mengenai cinta sama saja mengurai suatu yang muskil untuk diteliti, menurut Alm. Asmuni itu hil yang mustahal. Beragam teori psikologi sudah banyak yang menisbatkannya, tapi itu menjadi sebuah teori diatas kertas, tidak ada yang tahu misteri yang bakal dialami setiap pelakunya. Hanya suatu kebetulan dan kemiripan yang akan diiyakan oleh pelakunya lalu merefleksi ulang.

Aku sendiri merasa kapok dan tertipu oleh apa yang dinamakan cinta, penuh dengan ketidakwarasan. Kalimat si Kuta Lombok keluarkan ketika amarah begitu menohok ku, terpojok, sehingga merasa begitu hina. Tapi aku benar-benar jadi tidak waras, ia impian dari cita-cita mulia. Tak mengapa itu jalan tuhan (penyejuk dibalik umpatan). Aku coba berusaha merepresentatifkan lirik ini untuknya…hehehe, masih saja coba menggoda, tapi inilah salah satu bentuk pengejawantahan perasaanku terhadap mu Kuta Lombok :

Hard to Handle

Baby here I am
Im the man on the scene
I can give you what you want
But you gotta come home with me

I have got some good old lovin
And I got some more in store
When I get through throwin it on you
You gotta come back for more

(chorus)

Boys and things that come by the dozen
That aint nothin but drugstore lovin
Hey little thing let me light your candle
cause mama Im sure hard to handle, now,
Gets around

Action speaks louder than words
And Im a man of great experience
I know youve got another man
But I can love you better than him

Take my hand dont be afraid
Im gonna prove every word I say
Im advertising love for free
So you can place your ad with me

Menurut Dr. Berbie Siegel, cinta tanpa pamrih (unconditional love) adalah merupakan cinta yang mengandung energi penyembuhan yang kuat dalam segi kesehatan. Cinta yang tulus, bukan cinta yang harus tampak realis dan matrealis sesuai dengan kebutuhan hidup mengikuti tuntutan jaman edan ini.

Memang saja membicarakan cinta tidak ada habisnya seperti akan menaikin tangga berundak pada proses hidup, maka setiap step nafas kita akan semakin panjang untuk bersabar dan melihat keatas langkah seperti apa yang akan kita ambil berikutnya.

KAMPRET!!!…lagi-lagi cinta…kapan habisnya?, habis tenaga dan tidak berguna. Tapi jadi pemantik api kreatifitas juga kadang-kadang.

nb:kalo ada nafas lagi gw bakalan tambahin. sementara seperti ini dulu yah

 

Pelangi Toh Pasti Kembali 2

October 18th, 2007 by ardian-pettrucci

Ku tanya sama kalian semua!, kapan terakhir melihat pelangi?.
pertanyaan yang mengusik pikiran kita, yah…kapan terakhir melihat pelangi. Aku menanyakan seperti ini, karena membaca lagi tentang Laskar Pelangi. Baru ku sadari aku sudah lama tidak melihat pelangi yang begitu tajam di pelupuk mata, berkesan dalam hati, tak lekang dimakan waktu.

Pelagi ketika usia ku belum memasuki belasan tahunan mungkin sering ku nikmati, tetapi selepas dari masa sekolah memasuki kuliah, aku sudah kehilangan pelangi. Aku pada saat itu tidak tahu lagi kapan terakhir melihat pelangi, merindukannya hadir di mata ku. Selalu terbayang para bidadari melintasi pelangi dan mereka berhujung dimana, apakah mereka sedang bermandian di sebuah pancuran bambu buatan jelata untuk pengairan sawah, atau air terjun deras. Beruntung yang menemukan para bidadari dalam kepolosan itu. Selalu ingin mengejar pangkal dan ujung pelangi, tapi tidak tahu ia hadir dan berakhir dimana.

Aku pun sempat bertanya mengapa pelangi itu punya warna, darimana warna-warna itu. Perlu penjelasan ilmiah, sekali lagi sayang aku tidak bisa menjelasakannya karena aku bukan penikmat fisika dan fisikawan. Tapi aku mencoba menjelaskannya : Warna-warna lazim diindentifikasi dari panjang gelombang, kumpulan warna-warna yang dinyatakan dalama panjang gelombang ini disebut spektrum warna. Nah dala spektrum wana itu ada komponen warna putih. Warna putih ini bisa diuraikan dengan alat prisma kaca. Sedangkan pada alam, bukan hanya prisma kaca yang bisamenguraikan warna putih tersebut. Tetesan air pun bisa menguraikan warna putih menjadi berwarna-warna sehingga terciptalah pelangi. Dan ada yang perlu diketahui pula bahwa bentuk pelangi itu ternyata lingkaran, bukan setengah lingkaran seperti yang biasa kita lihat loh.

Jadi pelangi baru tampak ketika ada butiran-butiran air yang mengenai cahaya, biasanya pelangi akan tampak setelah hujan, gerimis, dan tepian air terjun. Sekarang aku sudah jarang sekali melihat pelangi. Dimana pelangi? Pelangi terakhir yang sangat indah ku lihat di daerah Jonggol. Daerah itu merupakan pemukiman yang belum rampung. Tanahnya menurun dan masih banyak tanah lapang, jadi masih sangat luas daerahnya. Kondisi pada saat itu sehabis hujan turun, dan langit pun langsung cerah ditambah suasan petang. Langit bermandikan warna kuning memerah, awan melembut seperti kapas sisa awan hitam pekat setelah menumpahkan hajatnya. Aku bersama kawan-kawan aktivis kampus ingin menjenguk seorang kawan seperjuangan yang terkena musibah, rumahnya dirusak oleh orang-orang tidak dikenal. Kini aku berdiri ditanah lapang, memandang takzim kepada ilahi menengadahkan kepala ku, mengagumi pemandangan. Tanahnya basah rapuh terkena air, tanah merah itu menempel di sandalku sehingga menyulitkan aku berjalan. Tinggal rintik yang ia sisakan untuk yang terakhir membasahi bumi ini. Aku susuri jalan menurun berundak, sesekali aku memayungi kepalaku dengan tangan, kadang berlari kecil mempercepat langkah, memasuki gang kecil dari perumahan tersebut sebelum jalan ini ditutup aksesnya. Perdu-perdu basah layu, mengeluarkan aura ada kehidupan baru.

Seorang aktivis muda terluka batinnya, ingin menegakkan kebenaran di tanah lahirnya. Sisa pecahan kaca dipan rumah berarakan di lantai, dan menyisakan tingkapan yang melompong, foto-foto orang berjenggot memakai sorban sebagai saksi kekejaman gerombolan muka hitam tak pernah kena wudhu yang murka diusik kegiatan maksiatnya. Kami hanya mampu berucap semoga kau sabar kawan, konsekuensi orang menebarkan kebajikan ditanah jahiliyah. Tanah licin ini semakin menyulitkan kami berjalan, bekas tanah merah yang kami bawa membekas dilantai dari semen yang mulai mengelupas kulitnya. Semakin lama orang berdatangan, ruang untuk kami juga semakin menciut. Ada semacam pertemuan untuk membahas kronologis kejadian. Orang-saling bertatap curiga terhadap orang baru antisipasi ada mata-mata. Alis mereka naik, mata tajam seperti elang mengawasi setiap gerak-gerik. Termasuk ketika kami datang, tapi semua berubah jadi senyum solidaritas ketika kami menyapa sang kawan aktivis muda tersebut.

Pertemuan dimulai dengan duduk bersila membuat lingkaran, diujung pembicara dengan bersorban khas, pangkat sebuah ormas agama yang terkenal dengan cara "eksekusi"nya . Teh manis penyejuk tenggorokan mulai berkeliling, perkenalkan identitas satu-persatu. Kami mahasiswa muda pendobrak reformasi, bangga sebagai penyemat aktivis akademika, ditengah kaum marginal, naik kelas lah strata kami dimata mereka. Lagi-lagi mata para tetua yang tak ku kenal namanya dalam bingkai mengawasi cermat tiap bola mata yang mengamati, Orang berjenggot memakai sorban dalam bingkai. Mereka mulai merancang strategi jika malam ini ada serangan dadakan, berbekal senjata ala pendekar kampung, otot mereka andalkan. Gila ini, aku terjebak dalam mandala peperangan!. Apa yang mesti ku raih pertama kali ketika perang "salib" ini terjadi, palingan jurus lari tunggang langgang. Padahal aku tidak kenal dengan si aktivis muda ini, aku tergerak pun karena ajakan seorang teman, dan itu pun menghindari mata kuliah sekaligus piknik gratis…hahaha. Stres aku memikirkanya, aku pun ingin mencari udara segar keluar dari rancangan tersebut. Masam sudah mulut ini, kelu lidah tidak terkena tembakau. Kembali melintasi jalanan licin, perdu-perdu itu tidak tampak cemas dengan dan akan terjadi kalau-kalau peristiwa ini benar terjadi peperangan yang kedua. Tak takut ia terinjak kaki-kaki kuat para penerjang.

Walaupun langit mulai cerah, tapi rintik-rintik hujan belum reda. Sampai diujung gang kami mulai mencari warung rokok. Bakar dulu lah sembari otak ini merespon dengan baik zat nikotin. Tak ku sangka begitu membalikkan tubuh ke arah barat. Ku lihat horizon cakrawala memerah dihiasi selendang pelangi. Pelangi terbaik yang pernah ku lihat, begitu nyata, tajam dan bernas warnanya. Merah, kuning, hijau dilangit yang kuning memerah. Aku tertegun, langkahku terhenti, badanku kaku, tangan ini tidak sadar memegang cigarette. Subhanallah…baru saja hati ini berkata sudah berapa lama aku tidak melihat pelangi. Ia menampakkan wujudnya dengan cantik dan indah, laksana surai kuda yang menjuntai menggapai tanah. Pelangi itu mencari pijakan, jembatan dari nirwana menghantarkan para bidadari yang ingin mandi. Pikiran ku mulai ngeres dimana pelangi berujung, ingin mengintip bidadari dengan polos mencibak air terjun ke tubuh mereka yang putih bersih, pasti sangat seksi…hehehe. Ku hentikan langkahku, lutut serentak kompak dengan otak rehat sejenak menekuk dipinggir trotoar jalan. Langit begitu bersih, efek blair dari matahari menambah tajam sinar yang dihasilkan dari prisma kaca alam yaitu tetesan air. "KAMERA…KAMERA", aku memekik panik tidak ingin ketinggalan momen. Sial, barang lawas pemberian ayahku yang sering ku bawa-bawa kali ini tertinggal. Begitu pula dengan temanku. Ah, pemandangan indah lewat begitu saja tersimpan dalam memori saja. Ingat kala itu, aku ingat kembali dengan gadis lamunan malam pengusik tidur dibuai mimpi indah. Di mata ku ia cantik seperti pelangi Jonggol dan Kuta Lombok, beruntung kau punya wajah yang diidamkan setiap lelaki, perangai keras tapi lembut menyentuh. Matahari mulai merendah, sebagai penutup perjumpaan kami dengan pelangi. Kini aku meninggalkan pelangi, kembali ke tempat semula berharap cemas dan berdoa semoga tidak benar-benar nekat para penerjang untuk melakukan serangan kedua.

Sekarang dimana kta bisa menemukan pelangi lagi, semua berganti dengan pohon besi dan beton menjulang, tetesan air sebagai salah satu media tidak bisa berfungsi diganti dengan embun polusi. Sudah jarang sekali kita pasti melihat pelangi, salah satu fenomena alam yang sering dibuat orang dalam kandungan syair syahdu penghantar cinta sang pujangga. Tapi ku yakin kawan…Pelangi Toh Pasti Kembali!