Jalan Grote Postweg, dalam Montase Jurnalku

October 8th, 2007 by ardian-pettrucci

Membaca salah satu karya Pramoedya yang bertajuk Jalan Raya Pos, Jalan Daendles. Membuat isi kepala ku berputar dan seperti tertarik kebelakang pada tahun 1809. Membayangkan bagaimana proses pembuatan jalan itu, yang banyak memakan korban pribumi. Seiring itu aku pun berusaha menyambung montase cerita itu dengan empiris ku pada sekitar tahun 2002 an. Aku tidak berusaha membahas mengenai potongan sejarah genosida tersebut. Hanya sekedar menceritakan dan membayangkan betapa jauhnya jarak tersebut, dan itu juga karena secara tidak sengaja melewati beberapa bagian wilayah jalan raya pos, jalan Deandles. Selain itu banyak kejadian yang lucu dan mengesalkan selama perjalanan itu. Pada bagian wilayah jalan raya pos ini, aku potong kompas langsung ke Bandung, ini memotong jalur Anyer-Cilegon-Banten-Serang-Tangerang-Batavia-Jatinegara/Meester Cornelis-Depok-Bogor/Buitenzorg-Priangan-Cianjur-Cimahi.

Pada cerita ini kemungkinan, aku tidak  akan secara detil terhadap penamaan tempat dan wilayah daerah tersebut, karena aku pada perjalanan itu sambil lalu, baik itu karena bersendau gurau, tertidur, mengeluh, atau beradu pendapat dengan kawan seperjalanan .

Anyer-Panarukan, sejarah mencatat ini menjadi jalan terpanjang pada masa itu menyamakan dengan jalan antara Amsterdam-Paris. Bisa dibayangkan berapa banyak rakyat kita mati dan tidak terkuburkan pada proses pembuatan jalan tersebut. Sekarang kita seakan lupa dengan ribuan liter darah yang "menyuburkan" jalan tersebut, kita tidak mencatat sejarah itu sebagai alat banding untuk protes terhadap kekejaman kolonial. Menyedihkan sekali bagaimana bangsa kita ini diperbudak kompeni.

Sudah lupa kan tentang itu, kembalikan memori tersebut dengan empiris ku saja yah..hihihi. Sekitar tahun 2002-an, setelah aku ingat-ingat lagi pas membaca karya Pramoedya, aku sempat melewati beberapa bagian Jalan Raya Pos. Itu pun tidak secara sengaja. Bagaimana itu bisa terjadi, lain tidak karena kebodohan dan keegoisan kawan sekaligus sahabat kental ku Irfan Hendrian (Panjul). Dan bodohnya lagi aku pun menyanggupi petualangan tersebut. Awal ceritanya adalah memenuhi undangan seorang teman Denny di timur Jawa, tepatnya Malang. Ia berhajat ingin melepas lajang, tapi Irfan tidak memberitahu ku secara gamblang tujuan sebenarnya untuk ke Malang. Irfan menanyakan keluangan waktu ku untuk bersoan ke Malang dan keisengan ia melontarkan wacana mengisi liburan. Yah, pada saat itu aku tidak mempunyai rencana bepergian, langsung menyanggupi ajakan ia.

Petualangan dimulai dari Bekasi-Bandung, Irfan pada saat itu ingin membeli sepatu tracking yang sedang in dan sekalian bisa dibuat untuk acara formal. Sial, padahal perjalanan ke Malang bisa langsung menggunakan kereta api, ini harus loncat dari satu bis-ke bis yang lain, duh…melelahkan sekaligus memboroskan baik itu biaya maupun tenaga. Dalam hati aku bergumam, "bakalan dekil gw". Dasar otak dan jiwa kelewat liar, semua hal itu dikesampingkan dulu, lihat saja nanti bagaiman cerita itu bergulir…hihihi. Tujuannya adalah toko outdoor sport Eiger di kawasan cihampelas (kalu tidak salah yah, karena gw kurang menguasai jalur Bandung). Tuntas lah hajat Irfan mempunyai sepatu track itu, tentukan tujuan berikut menuju terminal Leuwipanjang. Karena hanya itulah yang kami ketahui terminal satu-satunya di Bandung. Sialnya, ternyata terminal itu hanya untuk trek pendek saja, tidak ada untuk angkutan luar kota antar provinsi. Seperti anak ayam kehilangan induk, kami bertanya-tanya dalam hati, menenangkan diri karena kehilangan orientasi. Ternyata kita harus menuju Cicaheum (aku lupa apa namanya, karena menderita gejala akut lupa yang menahun) . Lanjut terus, merelakan ongkos dan waktu yang terbuang. Karena kami sudah mengetahui untuk menuju Jawa Tengah ada jam khusus untuk angkutan yang menuju kesana. Dugaan kami tidak meleset, telat sudah dan makin merana. Tujuan Jogjakarta sudah tidak ada, dan untuk Jawa Tengah pun sudah tidak ada pula menyisakan tujuan Purwokerto. Aku dan Irfan sibuk mengukur waktu perjalanan.Bodohnya kami menggunakan waktu tempuh dari Bekasi-Purwokerto dengan perhitungan antara 9-10 jam. Dan ini kali pertamanya aku menaiki AKAP PATAS (Angkutan Luar Kota Antar Provinsi Cepat Terbatas) yang benar-benar PATAS. Bayangkan dalam kendaraan itu kami hanya bertujuh, dan itu dengan bangku 2 seat. Wihh…bebas lancar dan sentosa, tinggal pilih dan seenak hati duduknya. Aku dan Irfan memilih untuk sendiri-sendiri, dengan bangku yang kami lipat depan belakang, kaki selonjoran biar leluasa merebahkan tubuh yang mulai dihinggapi rasa lelah.

"Njul, kemungkinan kita sampe di Purwokerto setengah empat pagi, jadi pasti ada bis yang ke jogja jam segitu", ujar ku. Omongan sambil lalu itu menyelengi sendau gurau kita dan membahas mengenai sepatu serta kartu diskon Eiger yang waktu tenggatnya tinggal beberapa bulan saja. Kami berdua pun saling membuang pandangan menyaksikan jalan antara Cicaheumi-Purwokerto. Irfan sibuk menceritakan tentang Cadas Pangeran dan berliuknya kondisi jalan disana setelah melewati Sumedang kelahiran ibundanya, dan aku sambil merebahkan tubuh serta membuka baju ku agar tidak kotor, agak mengangkat kepalaku lalu ku serongkan ke kanan muka, agar dapat menyimak cerita ia. Entah kami melewati Cadas Pangeran atau tidak karena pada saat itu sudah malam hari, kami hanya bisa melihat temaram lampu diluar pandangan kaca gelap bis. Sial, inilah tidak nikmatnya perjalanan malam hari. Padahal aku ingin mengetahui sekali bagaimana rawannya daerah tersebut. Dan disinilah peristiwa yang tak lazim terjadi antara Gubernur Jendral Daendels dan Pangeran Kornel Wirakusumah. Ya, peristiwa salaman tangan kiri yang dilakukan Pangeran Kornel Wirakusumah terhadap Daendels. Di tangan kanan sang Pangeran sudah siap keris yang terhunus, ini merupakan tabiat yang tak lazim dilakukan oleh bangsa Asia. Ini merupakan bentuk protes sang Pangeran terhadap politik dari Daendels yang terkenal kejam. Pikiran ku pun melayang kembali, bagaimana proses pembuatan jalan itu memotong tebing curam, pasti banyak memakan korban. Karena pada saat itu belum mengenal proses pembuka lahan dengan dinamit. Bayangkan saja pada saat itu keadaannya seperti apa jalur itu. Membuka jalur yang tak lazim.

Jam pun sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 WIB, dan betapa terkejutnya aku  ketika melihat SPBU dengan tanda jalan, Jalan raya Purwokerto (kalau tidak salah). Aku pun melonjak dari kursi duduk dan mengambil baju ku yang ku tanggalkan agar tidak kotor. "Njul kita sampe di Purwokerto, gimana nih, masak mau nginep lagi di purwokerto", kami saling pandang dan bingung bukan main. Kami tidak mau peristiwa menginap di Terminal terulang lagi karena kemalaman. Terpaksa kami sibuk merapatkan barisan dan me reschedule ulang, sekali lagi menenangkan diri. Karena hanya itu lah yang kami bisa.

Tiba di Terminal Purwokerto yang sudah akrab dengan kami, kami pun sedikit melonggarkan urat kemaluan yang menegang menahan gejolak kandung kemih yang sudah mulai penuh dengan urine. Diskusi antara kami tidak jauh adalah mencari tujuan mana saja menuju Jawa Tengah atau terpaksa menjemput pagi di terminal ini. Pucuk di cinta ulam pun tiba. SEMARANG, yup, ternyata ada bis menjuju Semarang. Berarti sudah ada sebagian wilayah jalan raya pos tersebut, yaitu Bandung, Brebes-Tegal, dan kemudian menuju ke Semarang. Tanpa pikir panjang lagi, kami pun menaiki bis itu. Dalam hati setengah was-was, tapi nekat yang penting sampai tujuan ke Jawa Tengah selanjutnya menuju Surabaya. Padahal kami miskin pengetahuan tentang jalur-jalur menuju Malang dengan sistem "loncat-loncat". Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30.

Rasa kantuk dan lelah yang sangat sudah mulai tidak bisa ditolerir, tubuh ini sudah tidak bisa menahannya. Selama Perjalanan kami berdua terus bangun dan tidur, seperti kebiasaan angkutan luar kota dan itu perjalanan menjelang pagi hari tentunya banyak penumpang turun naik membawa sejumlah logistik yang tak tahu aku apa itu. Kami duduk pada bangku bagian belakang yang memanjang. Pada awal perjalanan bangku masih terasa nyaman utnuk kami tempati dan duduki, karena itu pulalah kami dengan cepat dibuai mimpi indah. Tapi lama-kelamaan posisi duduk kami menjadi seperti berada di menara Pisa Italia yang terkenal itu. ALAMAK!!!ternyata bangku kami sudah terisi penuh manusia pagi, dan itu bersender ke samping kanan semua. Aku yang berada  paling kanan merasa sesak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku pun meminta pindah posisi dengan Panjul, dan ia pun mengalah. Bukannya berhenti, hal ini terus berlangsung sampai pada daerah yang tak ku ketahui namanya tempatnya. Penderitaan lanjutannya adalah, udara yang dingin menusuk kulit. Angin malam coy! Tentunya menyiksa sekali badan ini ditampar hembusan angin ketika kaca pintu bis dibuka oleh sang kondektur untuk meneriakkan dan mencari penumpang. Pengen negur tuh kondektur tapi nyali lagi nggak besar-besar banget, sudah itu jauh dari markas, bisa buang nyawa.

Hah…akhirnya kerlap-kerlip lampu jalan kota seperti kebiasaan pusat kota Jawa umumnya, sudah didepan pelupuk. Jam menunjukkan pukul 5 pagi, sebentar lagi sampai terminal Semarang. 5.30 WIB tepatnya kami menjejakkan kaki di Semarang. Beli kudapan dan air mineral untuk mengisi perut, dan membakar sebatang tembakau racikan, lalu celingak-celinguk untuk tujuan berikut, Surabaya. Kaki ku melangkah menuju wartel, untuk kontak dengan Denny memberitahukan posisi kami saat ini, sekalian menanyakan berapa lama lagi perjalanan ini tuntas. Kota yang berasal dari sebutan asem dan arang ini, tidak mempunyai kesan apapun pada ku saat itu. Padahal kota ini mempunyai sejarah yang menarik, dan menjadi kota perdagangan yang pesat di Jawa medio 1800 an, melalui pelabuhan besarnya. Dan di Semarang , saat dulu wilayah pemukimannya terkotak-kotak menurut etnis. Dataran muara kali Semarang merupakan pemukiman orang Belanda dan Melayu, Sekitar jalan R.Patah ditempati etnis Cina, sedangkan orang Jawa sepanjang kali Semarang dan cabang-cabangnya. Selain itu yang terbayangkan pada saat menginjakkan kaki pertama di Semarang adalah bayangan kota tua nya yang mengusik sangat pikiran. Ingin sekali melihat bangunan lama karakter khas Eropa  tahun 1700-an, serta legenda laksamana Ceng-Ho. Padahal belum ada catatan yang otentik apakah Cheng-Ho pernah singgah di Semarang, ada yang mengatakan pula malah jurumudi Cheng-ho lah yang mendarat. Tapi apa daya roda salah satu moda transportasi darat itu tidak berjalan lurus sesuai pikiran, melintas pun barang sekejap mata tidak dituruti.

Kembali kepada cerita di terminal. Belum lama kami berjalan menuju peron terminal, kami sudah dihampiri para calo. Biasalah, pasang tampang cuek dan garang sedikit. Ternyata itu semua bukan ilmu pasti yang bisa diperkirakan dan berjalan sesuai teori. Mereka (calo), semakin beringas menghadapi kami. Kami pun pasang badan, Irfan yang bertubuh lebih tinggi dari aku yang terkena getahnya. Ia yang terus dipepet para calo, sampai-sampai kami berdiskusi singkat plus bahasa sandi untuk pura-pura menelpon. Ternyata ruang kotak KBU wartel tempat sembunyi dadakan itu tidak mempan menghadang niatan mereka. Pintu kami dijaga dan gerak-gerik tubuh kami diawasi terus, tidak ada jalan keluar kami pun melangkah pasti dengan langkah tegap. Seperti lagu anak-anak…HAP, LALU TERTANGKAP. Ada gula ada semut, gula sibuk diperebutkan semut, bersitegang, pikiran kami terpecah antara waspada dengan barang bawaan dan bimbang menentukan keputusan. Kami di dorong-dorong, sedangkan aku berusaha menengahi dan menarik Irfan. Bingung harus berbuat apa, karena mereka lebih ganas, terpaksa mengalah dalam kondisi pasrah, sial! posisi tak bisa melawan adalah pecundang. Kami harus menerima itu dengan terpaksa dan menaiki bis yang mereka rekomendasikan. Di dalam bis kami menanyakan tarif bis sebenarnya ke penumpang lain yang satu bis dengan kami. Setengah terperanjat kaget mendengar tarif yang sebenarnya, kami pun main salah-salahan. 2 kali lipat dari tarif resmi, kami niatnya ingin menghemat, ternyata harus keluar biaya lebih banyak. Pagi yang sejuk, dan cerah, berganti dengan hari yang panas, penuh amarah dan dendam. Ditambah dengan suasana tepi jalanan yang kami lalui begitu gersang panas membakar. Kami saling membuang pandang dan menyalahkan, lebih parah adalah kami menganggap satu sama yang lain adalah pecundang yang gampang dikalahkan oleh segerombolan orang Jawa..hehehe(bukannya bermaksud SARA), itu dikarenakan tipikal kami adalah orang Sumatra. Tidak ada habis-habisnya saling menggerutu, tapi kadang-kadang sedikit akur dengan komentar mengenai pemandangan wilayah-wilayah yang kami lewati. Pengobatan kala itu adalah pematang sawah yang dihujani oleh embun pagi menggantung dengan bumbu sinar matahari. Petani baru saja mengangkat cangkulnya untuk memulai hari kejemuan dalam peluh bayaran harga ijon, sungguh tragis. Mereka merayapi tepi jalan aspal dan lempur kering tengah sawah. Sederhana tapi kaya arti.

Ditengah gemeretak gesekan gigi yang menahan geram, rupanya naluri lelaki kami bangkit. Hey!…ada mahluk manis, ditengah gempuran Java’s Criminal Cat (para kucing garong Jawa) diselasar tengah ruang bus. Lumayan olah mata buat inspirasi sang birahi selepas tiba di kota tujuan…hahaha. Kami berdua saling melepas gurau, "Njul, kayaknya tuh cewe ngeliatin kita berdua deh", aku sedari tadi mengamati perempuan yang sedang dijaga ketat oleh pria nya. Irfan tidak mau kalah dan mengatakan bahwa ia lah yang sedang diperhatikan oleh perempuan tersebut, sampai kami berdua mencapai kesepakatan untuk terus memperhatikan dua bola mata sang gadis tersebut kemana saja. Lumayan lah pemandangan tidak menjadi kering kerontang seperti tanah daerah Jawa saat musim kemarau. Ketika sedang asyik nya memancing birahi, kembali diusik untuk berganti kendaraan. Kepalang urat kepala ini semakin menegang. Apa-apan ini, seakan merasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Yang tadinya kami asyik memanjakan "butut" harus bergelantungan di bus yang baru. "Kampret!", kutuk ku. Untung nya jarak kami dan sang gadis bertambah dekat. terpaksa dan niat, harus pasang aksi. Merasa sebagai anak kota, tentunya wajah kami umumnya berbeda dengan yang ada didalam bus yang diisi oleh jejaka Jawa. Aku yang terlahir langsung dari darah pempek ini, mengambil sedikit gurat-gurat oriental. Sedangkan Irfan yang peranakan Sumatra dan Sunda (apa bedanya Sunda dengan Jawa?), menolak keras wajahnya mirip dengan para njawi. "Gue maju ah, biar tambah deket yah yan", wah…aku kalah langkah dan sigap dengan keadaan. Sial, Irfan semakin dekat dan memasang muka licik senyum tanda kemenangan atas diriku. Bunyi gesekan roda dan aspal lalu diiringi pegas gas dari pedal rem, dilanjutkan dengan semakin melambatkan laju bus. Ada yang turun mungkin, karena dari tadi kondektur tidak berteriak ada penumpang akan naik. Dengan bahasa Jawa nya, aku menangkap ada yang turun. Ternyata mahluk manis itu yang turun, sedih sekali rasanya hiburan kami menghilang, sekarang hanya sepi menggantung di benak pikiran. Kami saling pandang, "Kenapa enggak lo tanya tadi namanya njul?!", sesal ku membiarkan mahluk manis itu lepas begitu saja. "Gila apa lo, enggak liat ada monyetnya tadi!", kesal rupanya Irfan terhadapku yang hanya bisa memerintah…hehehe.

Perjalanan kta lanjutkan, setelah terpotong oleh seonggok daging yang indah tadi…hahaha. Kali ini untuk kali pertamanya aku melihat Mesjid Demak yang termasyhur itu. Rupanya sudah sampai Demak, aku pun segera menepuk bahu Irfan untuk menyadarkan ia agar tidak terlewati memandang Masjid Demak. Laju bus ini sangat cepat, aku tidak mau meninggalkan pandangan mata ku terhadap Mesjid bersejarah tersebut. Sampai-sampai aku menundukkan kepala untuk melihat potongan Mesjid yang terhalang oleh batasan tingkap bus. Tidak terlalu megah, sangat tradisional dan unik. Entah yah, mungkin karena terlalu singkat aku mengamatinya. Tapi sekali lagi aku tidak mau kehilangan mesjid itu, karena ku pikir kapan lagi aku melewati jalan ini. Dan tidak sedikit pun punya minat dan niat untuk singgah dan mengunjungi daerah ini berikutnya. Kota nya tidak menarik dan kecil. Tak ada kesan sebelum melewati Masjid Demak. Aku saja baru menyadari ini Demak, setelah melihat Masjid itu, yang berada tepat pada kelokan jalan.

Habis lah episode Masjid Demak, aku kembali lagi mengamati tepi jalan, memandang kegiatan pagi. Sepeda ontel khas merayap pinggir jalan, sawah lagi yang aku lewati. Pikir ku tidak jemu mereka dengan keseharian seperti itu, apa hiburan mereka?. Deretan banguna dengan kanopi hijau, ku melihat sedikit keatas bangunan untuk melihat apa tempat ini, rupanya sebuah pabrik rokok kecil atau usaha apa lah itu, yang pasti ada semacam pengantar tembakau dengan sepeda ontelnya masuk ke dalam bangunan tersebut. Wah, jangan-jangan ini kudus, sibuk aku mencari petunjuk. Dan ternyata ini adalah Kudus. Hah, semakin masam saja mulut ini untuk menghisap tembakau murni. Dji Sam Soe yang terbayangkan pada ku saat itu, seslop lah dapat gratis…hihihi. Sama seperti Demak, aku tidak tertarik dengan kota ini.

Sepanjang perjalanan, aku ingin cepat smua ini berakhir. Sangat membosankan dan panjang. Ditambah pagi yang mulai menghangat berganti dengan panas, mata ku selalu memandang marka jalan dan petunjuk sudah sampai mana saja aku berjalan. Sudah tidak terhitung berapa kali aku melihat tulisan Surabaya, tapi kok tidak sampai-sampai…KAMPRET!. Berharap setiap kali melihat tulisan itu, tapi tetap saja tidak sampai-sampai. Perjalanan Jalur utara pulau Jawa ini, kita akan banyak melewati tepian pantai dari laut utara Jawa. Ada yang sangat menarik, yaitu badan jalan berbatasan dengan rel pelintasan kereta api dan langsung laut. Lumayan lah melihat tepian laut.

Akhirnya, perjalanan menyiksa ini berakhir juga.  Memakan waktu 5 jam , dan harus menikmati panasnya kota Surabaya. Tidak mau kena dua kali kejadian seperti di Semarang, kami ketika turun dari bus langsung mengambil langkah tegap , sigap, dan cepat mencari bus Malang. Karena masih trauma, segala bentuk penawaran kami acuhkan dan tidak peduli, toh kami masih bisa mencari sendiri. Ada seorang menawarkan bus ke Malang, entah lah ia bermaksud baik, tapi tetap saja kami bila. Enggak Mas!, padahal ujung-ujungnya kami menaiki bus yang ia tawarkan kepada kami. Kami pun menaiki bus yang tepat dengan kegemilangan tanpa sedikit pun berbuat kesalahan…hahaha.

Jalur Pos ini terhenti di Surabaya, kami pun mematahkan jalur itu dengan tujuan berikut ke Malang, tapi kami juga sempat melewati bagian sedikit yang tersisa dari Jalur Pos, Jalan Daendels yaitu, Porong.

"Duduk sini aja dulu Njul, sambil nunggu Denny dateng", ajak ku ketika awal tiba di Terminal Arjosari Malang. Rambut gondrong ini sudah tidak tahu bentuk sisirannya, Baju putih sudah mulai coklat warnanya. Ini mengingatkan ku ketika, aku da Irfan baru turun dari Semeru. Badan baunya sudah tidak karuan, kulit ku menghitam dan pecah-pecah kering, gigi kuning, rambut sudah abu-abu karena debu vulkanik. Maklum saja empat hari berada dalam hutan rimba. Waktu itu pula sempat-sempatnya buat taruhan kalau saja ada perempuan yang mau diajak kenalan maka aku akan memperoleh sebungkus rokok gratis dari kawan. Beruntunglah aku yang tampang ini tidak jelas seperti monyet gunung, ada saja yang mau menanggapinya. Maaf melantur, tapi ku ceritakan sedikit pengalaman konyol ini. Turun dari Semeru kami berhenti di Tumpang, kebiasaan setelah mengembara lima hari tanpa sentuhan wanita, melihat wanita kota seperti kucing dilempari puluhan kepala ikan tenggiri. Melihat gejala ini temanku membuat taruhan, "ayo yan, kalo lo bisa kenalan dapet nomor telpon gw beliin rokok sebungkus", merasa dapat tantangan aku nekat menghampiri dua orang perempuan yang sedang melintas diujung jalan. Jangankan menanyakan nama, hendak didekati dia sudah buang wajah, mempercepat langkah dan menutupi cuping hidungnya. Seketika itu ku dengar teriakan dan ejekan yang memekakkan telingaku dari ujung jalan. Ku hampiri malah tawa mereka semakin keras. Sial, kutuk ku memaki. Tapi ketika kami sedang duduk ditepian trotoar luar terminal Arjosari Malang. Ada Angkutan Kota menurunkan penumpang. Bajunya putih abu-abu dengan tindikan di hidung dan kuping lain dari kebiasaan. "FUCK OF!", betina itu mengoceh tidak karuan dengan logat Jakarta. Kami semua saling pandang, ide gila itu keluar lagi. "Yan sekarang taruhannya di naikin, rokok plus duit 10 ribu". Meluncur ku menanyakan namanya, tanpa basa-basi ia keluarkan kartu nama, dan ia bilang telpon aja ke nomor itu, ku ingat namanya Noni. Jangkrik!, gila bener nih cewe….hahaha. Avontur yang luar biasa, sekarang mau seperti itu tidak bisa lagi. Jiwa terpasung, kawan sejalan pergi untuk hidupnya. Semoga masih bisa seperti itu lagi

Itulah sekilas penyambungan yang entah kemana alurnya…hehehe. Menyangkut dengan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels atau dalam bahasa Belandanya Grote Postweg. Aku bisa membayangkan berapa nyawa anak bangsa itu hilang. Kondisi alam, wilayah, dan kontur yang tidak bisa diperkirakan pada saat itu mungkin yang banyak memakan korban. Rawa, hutan, tebing, dataran tinggi, malaria, serta ancaman pembunuhan yang tiba-tiba dari kompeni harus dilewati para pekerja. Inilah yang harus kembali kita kaji ulang sejarah dan perlu dibuat sebagai bahan pengingat serta acuan tentang sejarah bangsa ini.

nb: Neousis akan mencoba menggalinya, doakan kami kembali demi romantisme.

Selancar di Sungai

September 9th, 2007 by ardian-pettrucci

"yang tadi kan selancar beneran nih, dit…", kalimat lead in dari Krisna Mukti ketika ingin meyampaikan materi Riverboarding pada tayangan Lintas Pagi Akhir Pekan (LPAP), edisi 09 September 2007. "Nah, pernah mendengar berselancar di sungai?", sambung Krisna Mukti kepada Ditti. "Memang bisa, selancar di sungai?’ timpal Ditti merasa heran dengan Kalimat Lead In Krisna. "Ga Percaya yah!, kalau begitu kita saksikan tayangannya. Kira-kira seperti itu lah  kalimat pembuka materi tentang Riverboarding.

Mungkin belum terlalu banyak orang yang mengenal jenis olahraga apa Riverboarding itu, saya pun masih asing dengan olahraga ini. Saya baru mengetahui Riverboarding setelah mengikuti liputan mengenai River Boarding. Ya, seperti kalimat pembuka pada tulisan di atas, yaitu berselancar. Berselancar selama ini pandangan orang pada umumnya dilakukan di laut. Tapi jangan salah, kini kita dapat berselancar di sungai.

Apa itu Riverboarding?, Olah raga ini termasuk dalam kategori olahraga hydrospeed. Olahraga yang bersangkut paut dengan kecepatan, dan ini dilakukan di air dengan kekuatan arus. Kegiatan ini sama dengan berselancar, jadi ada yang menggambarkan bahwasan Riverboarding ini seperti kegiatan downhill pada sepeda tanpa rem. Bisa dibayangkan dengan sebilah papan, kita bergumul dengan jeram secara langsung tanpa dihalangi apapun, dan kita pun akan merasakanya seperti bermain surfing. Berbeda dengan surfing, kalau surfing mengandalkan gelombang, angin sebagai medianya, tetapi pada Riverboarding kita turun langsung menghadapi jeram, dan lebih menantang lagi kalau kontur pada sungai itu menurun.

Riverboarding lahir pada tahun 1970an. Adalah sekelompok pemandu rafting dari Perancis yang menemukan ide "berenang di sungai", dan berawal dari kebosanan mereka di rafting dan ingin menemukan cara yang menarik dan menantang di sungai.  Mereka yang sudah sangat mengenal karakter sungai, mengikat beberapa jaket pelampung menjadi satu, dan terjun langsung ke sungai. Dan itulah cikal bakal riverboarding.

Riverboarding ini dikenal dengan kegiatan hydrospeed, karena pada bagian arus yang sangat deras, kecepatan peselancar bisa melebihi 30 km per jam.Riverboarding4
Apalagi jika kita sudah sangat mengenal karakter jeram, tambah mengasyikan dan adrenalin akan mengalir cepat. Tantangan lainnya adalah, di air sungai yang bergejolak, terkadang papan yang terbuat dari karet busa berketebalan 8-12 cm itu tidak berarti apa-apa. Dengan perahu karet atau kayak, kita seringkali ditelan jeram. Dengan riverboard hampir sepanjang pengarungan kita akan sejajar dengan permukaan air. Dan selanjutnya kita akan terbenam, terlempar ke udara ketika menghadapi hole, wall, dan standing wave.

Semula yang dari peralatan sederhana, maka mulai dikembangkan mencapai bentuk papan selancar sungai. Ripboard3_1
Dan kini riverboard sudah menyebar luas di Eropa, Amerika, dan Australia serta Selandia Baru. Sekarang, kenapa riverboard terlambat masuk ke Indonesia. Ini dikarenakan kurangnya arus informasi mengenai riverboard. sekarang dengan adanya informasi melalui internet maka sangat memungkinkan akan semakin banyak informasi tentang riverboard untuk berkembang di Indonesia yang pada saat ini masih populer dengan arung jeram saja. Padahal di Indonesia ini sungai-sungainya memiliki banyak potensi yang sangat baik untuk kegiatan hydrospeed seperti ini.

Tidak ada yang tahu pasti kapan riverboard masuk ke Indonesia, tetapi yang mempopulerkannya adalah Rahim A.B.S. Rahim juga sekaligus pembuat papan riverboard. Rahim, menceritakan pengalaman pertamanya  ketika mencoba peralatan buatannya, "ketika pertama masuk sungai, saya takut karena saya belum pernah mencobanya. Namun, nekat saja karena saya yakin dengan alat pelindung saya akan selamat", kata Rahim, yang mengalami luka di betis dari pengalamanya mencoba riverboarding.

Dikatakan lebih lanjut oleh Rahim, selama pemain riverboard melakukannya sesuai prosedur maka tingkat kesalahan akan bisa diminimalisir. Alat keselamatan utama yang harus dikenakan adalah, rompi pelampung, helm, dan body protector. Namun untuk jeram grade satu dan flat, hanya diperlukan pelampung dan helm. Selain beberapa alat keselamatan itu, juga jangan dilupakan fin (sepatu katak)
.

Sepatu_katakFin ini gunanya untuk mengayuh dan kontrol, karena dengan menggunakan fin ini kita akan berselancar dengan cepat untuk masuk kedalam jeram.

Pada proses pelaksanaan kegiatan ini, seperti pada umumnya kegiatan adventure lainnya. Perlunya latihan mendalam terhadap olahraga seperti ini. Adanya tahapan yang harus dikembangkan dalam diri. Harus sehat fisik dan kuat mental, karena riverboarding sifatnya personal, pengandalan pada tingkat pengendalian diri sendiri menghadapi jeram.  Keterampilan renang, yang berguna untuk membantu bermanuver dan meminimalkan bahaya atau resiko subyektif.
Riverboarding3

Dan yang penting adalah mampu membaca karakter sungai, karena kita dapat tahu dimana spot atau titik jeram yang terbaik dan memfasihkan teknik di jeram grade III dan IV. Jangan lupa pula untuk scouting sungai.

Riverboard sama seperti kegiatan yang menyangkut kecepatan, dituntut untuk mengambil keputusan yang sangat cepat. Seperti yang dikatakan oleh seorang kawan saya, kalau sudah masuk jeram ataupun gelombang, maka tidak ada kata mundur dan dayung kuat. Sekali lagi, semakin kuat tantangan, maka itu yang menyebabkan kita ketagihan dan akan mencoba terus, atau kembali lagi.

"It’s just between you and the river"


Buletin-Eiger Adventure News (Edisi# 47 /Juli- Agustus 2007)                                                                             Pikiran Rakyat (Edisi Cetak - Rabu, 3 Juni 2007) 
                                                                                    

 

 

Independensi Redaksi Televisi, Sudahkah Terwujud

August 28th, 2007 by ardian-pettrucci

Televisi sebagai salah satu media periodik masuk pada ketegori media elektronik mempunyai pengaruh besar pada pandangan, konsep hidup publik/masyarakat dan bersifat konstruktif dan destruktif. Konsumsi publik sekarang lebih banyak memperoleh informasi dari televisi, mengapa demikian? karena dalam penyajian, keaktualitasan, dan kecepatan, televisi mampu menjangkau ketiganya. Ditambah dengan bebasnya televisi dapat masuk ke ruang privat pemirsanya, dan lagi pemirsa/publik juga dapat meperoleh sebebas-bebasnya informasi dan hiburan dari televisi karena dukungan teknologi sekarang ini.

Pada saat ini jumlah stasiun televisi nasional berjumlah sebelas, belum lagi ditambah dengan televisi lokal, kabel, dan setelit. Maka pemirsa dapat mengakses informasi dan tayangan sesuai dengan selera mereka sendiri. Mungkin ruang ini saya akan persempit kepada permasalahan fenomena penyeragaman yang terjadi pada sejumlah televisi nasional. Pada saat ini pemirsa mempunyai hak atas penerimaan informasi yang cerdas, bebas, dan dinamis. Sedangkan tren televisi mengarah pada proses pengakuisisian beberapa televisi guna "menyambung" hidupnya. Jadi proses jurnalisme dan penyajian program bersifat mendidik akan terpengaruh bagaimana menghasilkan rating dan share yang tinggi untuk menggaet iklan dan sponsor.

Tren dan era televisi sekarang ini lah yang agak sedikit mengaburkan makna mendidik, menghibur, dan mengawasi. Malah akan menjadi semacam penyeragaman pada setiap program televisi, bukan keragaman. Mestinya pemirsa akan mempunyai banyak pilihan dari kuantitas televisi di Indonesia ini. Pada kasus yang jelas adalah bagaimana TransCorp meng take over TV-7 dari kelompok Kompas Gramedia yang dilebur menjadi Trans-7. Menurut saya ini merupakan pembunuhan karakter dari media yang sedang berkembang, serta menghilangkan kesan dari para karyawan TV-7 tersebut. Dengan komposisi kepemilikan 51:49, TransCorp mengubah TV-7 menjadi Trans-7. Belum lagi dengan masuknya Star TV di dunia pertelevisian indonesia, Perusahaan milik raksasa media, Rupert Murdoch, itu membeli saham 20 persen milik Anteve. Pada awal produksi era "pembaharuan" Antv, Antv banyak merubah programnya. Antv pun memperbaiki citra yang bersifat keras dan mistis dengan  elegan dan ekslusif. Mereka pun menarik  punggawa jurnalis SCTV, Karni Ilyas untuk merombak citra pemberitaan Antv. Sedangkan MNC, yang agak diperjelas dengan membuat segmen pada martirnya, terkadang juga tidak konsisten dengan segmen mereka sendiri. Sekali  lagi para group ini, memandang rating dan share adalah "mahkota" yang harus didapatkan guna mencapai mahligai kebahagiaan industri.

Adanya penyeragaman baik itu di bagian program produksi dan redaksi, lama-kelamaan akan menjadi semacam plagiarisme dalam penyampaiannya. Sekali lagi saya membuat ruang sempit pada pembahasan ini. Redaksi lah yang saya sorot, setiap jurnalisme akan mengenal lima prinsip jurnalisme, yaitu, akurat, fair, objektif, seimbang, tidak memihak. Lima prinsip ini akan berjalan dengan baik pada produksi dan pasca produksinya apabila jurnalis bekerja dengan independen, tidak tergantung pada pihak manapun, dan angle pemberitaan akan kaya dalam content materi berita tersebut. Dengan  banyaknya para group yang menguasai pertelevisian nasional, apalagi dengan masuknya salah satu raksasa media luar negeri, maka kepentingan dari luar akan mempengaruhi pemberitaan nasional, dan ini menyebabkan berita akan berat sebelah. Selain itu setiap kebijakan redaksional juga terpengaruh untuk mengejar rating dan share, kemungkinan pada setiap rapat redaksi rating hal itu akan selalu menjadi pembahasan utama, dan penempatan materi agar pemirsa tetap" terjaga matanya".

Independensi pertelevisian berkaitan dengan era industrialisme media, kemungkinan masih dalam harapan daripada kenyataan. Seperti yang diungkapkan oleh Didik Supriyanto, "Lima belas stasiun televisi nasional, seharusnya memungkinkan adanya variasi dalam pemberitaan televisi. Namun yang terjadi keseragaman". dari perspektif Didik, maka diharapkan televisi seharusnya mampu merubah perspektif tersebut dan dapat menggali sisi luar/lain dari peristiwa agar terlepas dari dominasi peristiwa yang muncul dipermukaan dan layar televisi swasta nasional.

Keseragaman tersebut terjadi karena kepentingan pemilik media yang sudah "bertaruh" untuk uangnya. Memang media elektronik ini lebih banyak menguntungkan dibanding media cetak, sehingga industri ini banyak peminatnya. Dari hal di atas, ada implikasi menyebutkan bahwa ada yang hanya mengejar rating. Jadi tidak aneh, beberapa program yang berkaitan dengan kekerasan menjadi alat jual yang baik, saya pun sempat bingung ada apa di benak masyarakat Indonesia yang menggemari tayangan dan program kekerasan. Padahal menurut saya dengan keseragaman pemberitaan kekerasan di televisi nasional, akan menciptakan modus-modus baru dalam dunia kriminal, masyarakat akan terus berpikir akan melakukan alternatif lain untuk "menghilangkan jejak" yang baik dalam dunia kriminal. Sampai kah para pemegang kebijakan redaksional berpikir sampai kesana?. Padahal yang sifatnya pengulangan itu mempunyai dampak memori yang panjang di otak. Bayangkan tayangan tersebut disajikan pada jam-jam potensial pemirsa untuk menontonnya. Apalagi ada istilah berita "titipan", yang terkait dengan pemilik modal atau jajaran media tersebut, guna ajang publikasi dan mediasi dengan pemirsanya atau publik. maka prinsip pers bebas dan independen akan luntur. Lama kelamaan ini akan menjadi preseden buruk.

Kemana fungsi media sebagai sarana pendidikan, memberikan informasi yang baik, dan hiburan. Padahal jelas dalam pasal 36 UU no 32 ayat 1 tahun 2002 tentang penyiaran jelas disebutkan. Selain isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, dan hiburan. Isi siaran harus bermanfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak dan moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.

Yang terjadi justru semua agak melenceng dari pendalaman pasal tersebut. Kini semua beralih pada seni plagiarisme (keseragaman) untuk kepentingan kapital dan penyambungan hidup. Masyarakat berhak atas intelektualitas, kehidupan, dan pemikiran yang cerdas. bagaimana mungkin media menjadi salah satu mediasi masyarakat atas haknya itu mengaburkan semuanya.

Akankah juga bisa terwujud gambaran Independensi media yang bebas, mandiri, dan akrif. PR yang masih panjang dalam perjalanan kebebasan pers media Indonesia pada saat ini. Dan terus mendulang dalam alam mimpi.

Ke Mana Arah Pertelevisian Kita?  (Suara Pembaruan, 26 Agustus 2007)

NB: Saya adalah salah satu awak media televisis swasta nasional…ironi…koreksi bila salah…mohon pencerahan                                                                           

HIMAPALAM BERPESTA

August 26th, 2007 by ardian-pettrucci

HIMAPALAM berpesta!
Kami komunitas, kemarin kami tuntaskan hajat seiring menyambut kemerdekaan republik ini, maka kami turut merdeka dari segala bentuk kaitan kapital.

Dari bawah pohon angsana, mimpi-mimpi itu seiring berkembang manjadi nyata. Ide dan mimpi terwujud dengan kerja keras. Ingin pendakian ekspedisi, tinggal bikin program keja (proker) tulis di white board. Outbound, outing, family gathering, tinggal sebar pamflet sederhana, atawa tawarkan kepada perusahaan, ada yang tertarik tinggal buat perencanaan, strategi games dan materi acara yang baik, langsung diselenggarakan secara sesingkat-singkatnya sampai tuntas. Perlombaan mancing, lari aja ke papan tulis, besok langsung ngerancang strategi. Rafting, sekali lagi, mimpi itu tinggal buahkan melalui tulisan di white board ajaib, esoknya kita berangkat mengikuti alur jeram. Latihan fisik, pancing saja dengan tindakan nyata, massa pun akan bertambah meramaikan suasana. Sekarang mimpi kami ekspedisi dua tim, tim Rinjani dan Kerinci Seblat. Dan Kemarin kami mempunyai ide gila berpesta , games untuk masyarakat sekitar dan kami.
awal perencanaan adalah menentukan games menarik, setelah itu perencanaan biaya dan logistik apa yang diperlukan, setelah itu UGD (urusan gali dana) dengan urunan sukarela, kumpul uang beli alat-alat untuk hari H.

Hari H
Kebiasanaan orang indo pasti ngaret dari waktu yang ditentukan. Acara pertama suguhan untuk masyarakat sekitar. permainan berjalan dibambu panjang, memecahkan balon di air, dan mengejar bebek yang dilepas ke tengah empang. Setelah acara untuk masyarakat sekitar, maka giliran kami yang berpesta. Dua tim, tim merah dan putih. Permainan sedikit kami ubah untuk menarik dan meriah penuh canda tawa. Berjalan di atas bambu, dayung ban karet, gebuk bantal di atas ban, giring bola dengan arus, dan kejar bebek. Tim Merah, sesuai namanya badan lebih kekar dan perkasa (gw ada disana loh..hehehe). Tim putih, standar lemah…hahaha. Pesertanya pun ditidak mengenal umur, tua muda tidak ada batasan. Permainan dimulai dengan melintas bambu dengan bumbu lumpur, jadi tambah licin. Tim Merah kandas dengan skor 4-7, merasa dikalahkan, kami niat balas dendam dipermainan berikut, yaitu dayung ban karet secara estafet. Kami pun menang dengan jarak yang signifikan dari tim putih. Lanjut terus gebuk bantal di atas ban, anehnya kami semua mulai kehilangan orientasi untuk mencari kemenangan. Jadi dipermainan ini tidak diketahui siapa pemenangnya. Lalu diteruskan dengan menggiring bola dengan arus, secara permainan kami menang, tapi disini mulai keceriaan yang muncul. dan permainan ditutup dengan mengejar bebek.

Hari itu tidak ada yang tak mandi lumpur, semua mandi dan makan lumpur. wajah tertutup lumpur, rambut mengeras, kulit ini hitam legam terbakar matahari ditambah lumpur pekat. Badan yang sudah kotor terpaksa harus mengering menunggu giliran membersihkan mandi, seperti kuli harian, kami menunggu giliran sambil duduk melepas lelah, kopi, rokok, serta kudapan. Persis kuli, canda pun mengalir membahas permainan dan menunjuk korban untuk diejek. Kelakar hari itu, melupakan duka kami semua, seperti lumpur yang menempel ditubuh, terkena air maka bersihlah tubuh.

Acara pun ditutup dengan membakar satu kompi ikan yang mabok, muncul ke permukaan air, dan ayam sajian super market. Sekapur sirih dari Ketua Pelaksana (Ketuplak) mengenai suksesnya acara, dan ketuplak menginginkan acara rutinan (gile bos males bilasnya). Pada awal permainan padahal ada semacam sistem kompetisi, tapi kemenangan milik bersama, yang penting berkumpul dan silaturahmi membakar dan menghapus konflik yang ada. Itulah cinta kami, kami semua seperti keluarga yang menyimpan konflik tersendiri. Haram berdendam tapi harus berargumen, tawa adalah penawar, sedih adalah pengingat, haru merupakan doa.

Esok kita berbuat apa kawan?…

Selamat Merdeka!

August 16th, 2007 by ardian-pettrucci

MERDEKA!!!

Kata ini akan bergema tepat tanggal 17 Agustus, pukul 8.00 WIB. Mungkin sebelumnya kata ini sering disebutkan tiap ada kesempatan yang bertajuk tentang kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme. Apalagi jargon-jargon politik mengatasnamakan kerakyatan, pastinya ada misi memerdekakan sesuatu yang terkungkung atas hak yang berhak diperoleh oleh rakyat.

Berkaitan dengan kata merdeka dengan penekanan "Merdeka!", pada pagelaran tahunan bertepatan dengan 62 tahun Indonesia merdeka. Sudah merdeka kah kita?. Apa arti dari kemerdekaan untuk rakyat Indonesia itu sendiri?, "pesta" tahunan ini pasti berakhir dalam satu harian dengan berbagai macam hiburan ala rakyat jelata, atau paling pantas adalah pentas pasar rakyat. Hiburan ala binatang, harus berela kotor memanjat batang pohon mati dengan dilumuri pelumas untuk hadiah hiburan, tangan seperti diikat untuk memakan kerupuk yang hanya beharga Rp. 500, bermain bola dengan dandanan seperti "waria". Tepatnya ini pembodohan, tidak layak disebuat merdeka! dipaksa seperti binatang, tidak ada lagi pemaknaan heroik didalamnya.

Sedangkan bagi rakyat kecil, arti merdeka adalah yang bersifat konkret dan riil, hidup nyaman, dapat pendidikan, rumah sederhana, tanpa sibuk mencari susu pengganti yang harus diganti dengan air tajin campur gula merah, tanpa antri beras murah yang dengan protein tambahan didalamnya karena banyak kutu, atau memusingkan konversi minyak tanah ke kayu bakar. Dari semua itu bisa kah mereka mendapatkan hak kemerdekaan yang telah direbut kembali oleh buyut atau kakek-kakek mereka?!. Ironis apa yang mereka alami, justru para kapital berwajah melayu dan oriental berhati tikus yang menikmatinya. Padahal pada perayaan pentas pasar rakyat itu, justru mereka yang kecil inilah tertawa renyah menyambutnya dengan didandani seperti binatang dan jadi bahan tertawaan. Tapi yang penting bagi rakyat kecil, lantang mereka adalah MERDEKA!, untuk kesenangan hati mereka sendiri, mengusir rasa bosan tertindas.

Arti kata merdeka menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah, bebas dari penghambaan, penjajahan, dan lain sebagainya. Nah, dari penggambaran dari arti kata merdeka, kita bisa melihat banyak potrait-potrait muka buram dari rakyat Indonesia?. Tonton sajalah media pada sekarang ini, itu akan secara gamblang bagaimana rakyat jelata yang miskin dan bodoh jadi alat jualan dari media untuk disampaikan kepada publik betapa bobroknya negeri ini.
Sedangkan arti kemerdekaan itu sendiri yang saya dapatkan dari Enda Nasution ketika ia membaca artikel NY Times(pada saat itu ia pun lupa mendapatkan artikelnya darimana), Merdeka atau freedom mempunyai definisi yang berbeda dibagi atas strata sosial.

  1. Pada tingkat pendidikan tinggi (college degree, thus middle class, middle income), mereka mengasosiasikan kemerdekaan adalah, kemerdekaan sebagai bentuk ekspresi diri dan mencapai potensi diri.
  2. Survei pada tingat pendidikan rendah (no college degree, thus low income),freedom adalah bebas dari penindasan, merdeka dari rasa takut akan masa depan, kelaparan, takut akan teror, tekanan sosial, ekonomi, dll.

Sekali lagi arti kemerdekaan yang dikaitkan pada sub kategori ini, bagi sebagian daerah sub ordinat seperti Papua, mungkin akan mengalami suatu trauma khusus. Seperti dikatakan Tom Beanal, tokoh Papua dari suku Amungme yang menggantikan Theys Hiyo Eluay sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Adat periode 2002-2007. Ia memaparkan, "kami didik oleh orang Indonesia yang tak punya hati", dan ia melanjutkan keinginan masyarakat Papua untuk merdeka. Kemerdekaan yang diterima oleh masyarakat Papua dari RI, justru bentuk penindasan baru dengan adanya perampasan sumber daya alam Papua.

Jadi apa arti dari kemerdekaan yang bisa kita terima dan kita maknai, karena kita sedang mengadakan hajatan besar tiap tanggal 17 Agustus. Sebaiknya saya kembalikan kepada anda semua, karena itu tergantung pendefinisian dan pendeskripsian tiap individu.

bagi saya MERDEKA! dengan penekanan adalah, bebas dalam berpikir tanpa kungkungan dunia, tahu bertindak dan bertanggung jawab, mampu berbuat sesuatu dan berapresiasi tanpa tekanan pihak lain. Mungkin tertalu sempit, sedikitnya itulah cara pandang saya. Esok mungkin ada penambahan.

Selamat Bermerdeka secara berjemaah, kemudian mulai memerdekakan, dan MERDEKA!…Terus berjuang…Salam.

nb: ini sedikit mengartikan ditengah keadaan yang sedang ingin merdeka dari kerinduan, kecemasan, kegelisahan, kedengkian, kecembuaruan…

Bisa tahu kah DUNIA?

July 11th, 2007 by ardian-pettrucci

Mengertikah kalian?…

Ku rasa tidak, kalian hanya tahu yang terbaik dari ku. Tapi apa tahu kalian? Ku rasa tidak.
Apa Kata Dunia…penggalan kalimat dari sebuah karya sineas. Tapi apa peduli dunia dengan ku, Ku rasa tidak.
Jalanan semakin liar, waktu memburu, perasaan berkecamuk buat ku berontak cari tempat bersembunyi…hutan rimba yang ku rindu.
Ya…ia yang dapat memahami ku, hanya diam membisu, angkuh menohok angkasa.
tidak seperti kalian, yang hanya bisa menuduh, melihat ku tersungkur, dan mengasihi aku setelah ku lepas lelah darinya.

Jengah rasanya disini…aku muak dengan kalian semua. Malu rasanya dikasihani, aku mampu berdiri di atas KEKASIH ku, ia yang buat ku seperti lelaki. Tapi apa kalian bisa buat ku seperti itu? Ku rasa tidak.

Asal kalian tahu? Ku rasa tidak…aku manusia yang punya waktu, tubuh, mata dan perasaan untuk menilai dan menentukan sesuatu yang terbaik…tidak seperti kalian yang hanya berpangku pada kalimat…APA KATA DUNIA!, tapi cobalah ubah  DUNIA bisa berkata apa tentang kita…NGEHE!

nb: hahaha…becanda yah, tapi kan kau manusia biasa yang bisa mengeluh. Lelah rasanya ketika hati ini sedih tidak ada yang tahu, dan mereka hanya menuntut dan ingin mendengar kelucuan kita saja.
bayangkan saja, perasaan itu terus membunuh karya indah di kepala. sayang jika tidak dituangkan…maka muntah dan menggila lah dalam kesenewenan.

Anti Klimaks Rinjani

June 24th, 2007 by ardian-pettrucci

Lanjutan Rinjani…ini merupakan catatan kesialan gw selama menjelang keberangkatan dari Jakarta sampai pulang ke Jakarta lagi, serta selama pendakian…

1. Bimbang menentukan tujuan wilayah mana yang mesti dijajah nih…akhirnya Lombok lah jadi ladang kesialan itu. Cari angkutan yang paling muktahir dan canggih biar cepat sampai tujuan, pilihan jatuh kepada Pesawat Terbang…tapi alamak, tiket satu juta lebih. Busyet…udah dipaksa nelen ludah!…BONEK!…tetap mantap berangkat.

2. Mengingat kondisi badan yang kurang fit, pesawat tiba pukul 10.55 WITA. Mengingat esoknya mendaki, tapi dipaksa begadang dulu…tapi ga apa-apa, hitung-hitung menghilangkan jet lag.

3. Karena persiapan minim dan kali ini team kebanyakan pemula, ditambah tiga perempuan otomatis ga bisa bawa banyak pikulan dong! lagipula ‘ga tega, nanti dikira Jin Kura-Kura…terpaksa depan belakang semok penuh gemblokan carrier dan daypack.

4. Dasar setelan wisatawan tanpa olahraga, harus terima urat pada kuenceng mendadak. Itu sih ‘ga masalah, yang paling fatal adalah paru-paru gw…tau sendiri sebagai kaum Marlboro, bisanya cuma nunggang kuda kan, kalo suruh jalan mah pada nyaho. Carrier pun harus pintar-pintar nyetingnya biar enak menunggangi punggung gw. Salah sedikit, bisa ngebetot urat bahu…kacau nih!

5. Soal safety prosedur, gila ini mah udah kaya mau naik gunung Gede. Masalah lighting, aje gila selon banget. seumur-umur belum pernah gw naik make lampu senter korek yang dijual dalam bis, udah gitu gambarnya pemain bola. Gw cuma bisa geleng-geleng kepala aja. Untungnya semua keterbatasan itu bisa ditanggulangi dengan baik, kalo ‘ga bisa ngamuk-ngamuk ga jelas gw sama yang ngeluarin ide kaya gitu…hehehe.

6. Si napas kuda…yoi gw banget ga tuh, naik dah kaya napas kuda…jangan salah mengartikan yah, maksud gw bukannya kuat kaya napas kuda, tapi yang ini bunyi napas gw udah kaya kuda narik napas. Untuk naik Rinjani ga ada persiapan olahraga sama sekali, langsung tancap blehhh…kendor pas tempur dilapangan. Walaupun begitu, sampai puncak cing!, gw aja sampe terheran-heran ga ada persiapan apa-apaan, cuma modal gaya aja.

7. Tantangan di alam adalah cuaca. Kena badai itu paling ‘ga menyenangkan, udah udara dingin ditambah angin kencang sama embel-embel kabut…makin jadi-jadi aja. aga sedikit mencekam suasana tapi masih bisa ngontrol, tapi gw kehilangan cover bag kesayangan gw.

8. Pemandangan indah dan momen tentunya harus diabadikan dong, nah disini hal yang udah gw perkirain akhirnya kejadian juga…kamera gw abis baterei, dan bodohnya gw mengandalkan beterei yang ada di Tas gw pas ade gw wisuda. Jadi pas di puncak gw tukar beterei make baterei yang udah lama gw eremin. Sudah terpasang, kok kamera ga aktif, selidik punya selidik ternyata batereinya jamuran…ANJRITTTT!!! terpaksa make kamera HP…sial!

9. Jalur turun pasir berbatu dan tanah kering itu yang paling gw benci…pasti gw meleset dari jalur deh. Ngeliat si Topan lari ngacir, gw sih ‘ga ngiri. malah gw maklumin aja, orang dia sering banget naik Rinjani. lah gw anak kota, meleset langsung beset. Udah turun hati-hati dari puncak menuju Plawangan Rinjani, akhirnya kena juga pas menuju Plawangan Sembalun. Gaya Superman terbang tengkurep, telapak tangan korban. Turun ngambil air, pas naiknya bahu kehantem akar…lumayan bonus lagi. Menuju Segara Anak Jalur bebatuan, sepatu tracking model boot pastinya nyiksa banget disini. salah injak batu, kaki masuk sela-sela batu hilang keseimbangan, mendarat mulus muka duluan nyium tanah…SIAL!. Di segara Anak, melihat Dwi mancing dapet ikan, gw exited banget cepat-cepat ambil kamera. nyari angle yang bagus biar ambil seluruh badan, tahu-tahunya batunya licin…kejadian lagi gw jatuh ke bebatuan ngebelain kamera, tangan gw yang mulai kering lukanya tambah nganga plus luka baru di kelingking dan kaki sebelah kanan pas tulang kering. Turun Plawangan Senaru tambah lagi luka dibagian kaki seblah kiri…lengkap sudah makian ku sampe selangkangan kesebut…NGEHE!!!

10. Sweaper sejati patut disematkan di dada gw tuh. ga seperti biasanya gw selalu jaga gawang dibelakang terus. Karena kondisi dan melihat keadaan teman perjalanan ga tega rasanya main tinggal begitu aja. takut ada apa-apa sama yang belakang. Jadi sweaper itu mesti double mentalnya, karena ngeliat yang diatas pasti jauh, belum lagi tantangan jalur yang mesti dilewatin..ah, sengsara lah.

11. Setelah puas berpetualang di gunung hutan rimba, saatnya nikmatin peradaban yang seminggu lebih gw tinggalin. Alih-alih mengejar penyebrangan jam 3 agar sampai Malang pagi untuk transit agak lamaan, sekalian mengusir rasa kangen dengan teman dan Malang. Cari lah bus yang sudah mau nyebrang. Setelah dapat tiket dan bus, melesatlah dari Terminal Mandalika menuju pelabuhan Lembar menggunakan ojek. Bayangkan dengan carrier dibelakang kecepatan tinggi agar tidak telat menyusul penyebrangan, sungguh menyiksa. Dasar Indonesia, tetap aja baru nyebrang 4.30…sial kalo kaya gitu ngapain ngebut dari Mataram ke Lembar di Lombok Timur!. Sampai Padang Bai, ternyata ada pemeriksaan KTP…aduh menghambat perjalanan banget. Pemeriksaan ini guna menjaring TKI ilegal, yang terjaring rata-rata tujuan Kalimantan via Surabaya. Dan memang rata-rata TKI dari Lombok terutama dari Lombok Timur itu banyak banget. Hampir separuh mobil itu ternyata TKI…busyet berapa lama lagi nih!, berangkat sama pulang bareng rombongan TKI mulu. Sampai di Ubung ternyata bus mengalami kerusakan dinamo…bangsat, mobil tua sesuai namanya Wisata Komodo. Udah jalanannya lamban kaya Komodo, udah gitu pas banget usia nya sama Komodo yang binatang prasejarah…NGEHE!!!. Kelar dibenerin, sempet-sempetnya untuk makan malam…DAH ‘GA NAPSU…jam menunjukan pukul 02.30 WITA dan itu belum masuk Gilimanuk. Hati gw geram bukan kepalang melihat si supir ketawa-ketiwi bareng keneknya sambil ngopi dan ngerokok. Gw tarik salah satu keneknya dan gw suruh cepetan biar ga telat masuk Malang. menjelang perempatan antara Malang dan Surabaya, gw papasan dengan bus dari Mataram jurusan Malang yang bagus, sengaja gw ga naik itu buat ngejar penyebrangan jam 3…eh, taunya bus nya bareng…SOMPRET!. udah gitu gw diturunin cuma dikasih duit, tanpa di stopin mobil yang ke Malang. dia malah main ngacir aja…WOYYY

nb: tapi dibalik semua itu, perjalanan ini sangat menyenangkan. Di atas semua ini hanyalah bumbu cerita perjalanan ini. Akan terbayar tuntas semua penderitaan dengan sajian pemandangan alam Lombok dan ditemani oleh teman-teman baru yang menyenangkan, lumayanlah untuk melupakan sesak hiruk pikuk kota Metropolis Laknat itu.

Welcome to My Paradise

June 23rd, 2007 by ardian-pettrucci

hahaha…akhirnya lepas dari penat selama sepuluh hari, mau tahu ceritanya…

bekerja selama setahun lebih tanpa hiburan berarti, terus dipaksa dengan rutinitas menjemukan tanpa sesuatu yang berarti, memaksa otak gw cari cara nyari tantangan yang hilang selama empat tahun…berpetualang kembali, menguji untuk berada di titik nol kemampuan diri.

bekerja dengan waktu shift pastinya kita punya waktu libur yang terbatas dan tak tentu. untuk menikmati sabtu-minggu itu hanya sebulan sekali. gw cari cara gimana caranya dapet cuti sabtu-minggu tambah  enam hari biar jadi sepuluh hari. Pas banget bulan Juni ini gw dapet libur Sabtu-Minggu,9-10 juni. gw ‘ga mau kehilangan momen buru-buru minta cuti dari hari Senin-Senin, 11-18 Juni…mantab…alasan ke Batam ada urusan keluarga.

Setelah tayangan Lintas Pagi Akhir Pekan Sabtu kelar siaran, dimulailah kebimbangan menentukan pilihan…mau kemana yah gw ini. SMS dari teman masuk memberikan jurnal ia mengenai petualangannya. Kebetulan ia berada di Lombok baru turun dari Tambora. Semula hati ini memantapkan tujuan menuju Batam, sibuk konfirmasi dengan sahabat ku disana, kalau saja jadi ke Batam mau kemana dan ngapain aja. Dikarenakan ia hari biasa bekerja. Gw iseng aja balas SMS teman di timur Indonesia itu, "lo enak plesiran mulu, gw bingung nih cuti ga ada tujuan"…SMS DITERIMA…SMS DIBALAS…"kesini aja, hari Senin jam 9 gw naik Rinjani". ah, ‘ga penting menurut gw. rencana hati ingin bertemu dengan kesayangan, buat lepas penat. tapi ia sibuk dengan urusannya. lagipula siapa gw?!biarlah gw pake hari ini buat istirahat menenangkan pikiran dan mikir seribu kali mau kemana liburan. Sunday morning, gw pengen denger ah suara pagi…niat mengembalikan bukunya, agar niat tersirat untuk melihat parasnya yang jelita terobati menjelang liburan panjang. Tapi ia punya rencana ingin beshoping ria, yah sudah lah…iseng-iseng menelpon teman di timur Indonesia…seperti kebo dicucuk lobang hidungnya, provokasi populer itu membius ku…

Putar haluan dari ranah Andalas menuju timur Indonesia, Mataram-Lombok. Sesegera mungkin mencari tiket pesawat untuk ngejar Rinjani, Senin pukul 09.00 WITA. Muka gw pucat setelah mengetahui tiket Minggu, 19.00 WIB, penerbangan terakhir Jakarta-Mataram diberi harga 1 jt. Gila gimana nih, masa kesempatan yang tertunda selama empat tahun hilang begitu aja gara-gara tiket pesawat…masa bodo, pesen aja urusan susah belakangan. Tinggal transfer dari Jakarta…hihihi (nodong emak). Urusan tiket kelar pukul 13.00, siap-siap packing peralatan tempur untuk mendaki puncak ketiga tertinggi di Indonesia, MT. RINJANI…berhubung rencana mendadak, sibuklah gw tilpan-tilpun dengan sang provokator Wahyu, untuk nyiapin carrier,senter,logistik, dll. Gw cuma bisa bawa daypack hijau, lipat baju sampe sekecil-kecilnya enam stel, underwear biar ga gatel, jaket 2 pasang, celana Jeans 2 merek, celana panjang, celana pendek 2 pasang, peralatan make up buat modal cantik dikota, kamera pocket digital, sendal Boogie…semuanya tumplek dalam satu packging yang sempurna demi kenyamanan perjalanan. Pesawat Take off dari Jakarta…

Selama dalam penerbangan, gw ‘ga bisa tenang…banyak berdoa, sebagai orang berlatar belakang broadcasting, pastinya gw banyak dapat input yang menyeramkan dari semaraknya penerbangan Indonesia. Bayangkan saja ketika pesawat menembus awan pasti lampu dari luar kedap-kedip kan, hati gw langsung dag-dig-dug. belum lagi guncangan yang ga jelas. gila ini mah nyerahin nyawa 50-50. Akhirnya tiba dengan selamat di Bandara Mataram pukul 21.55 WIB, tapi lebihkan satu jam untuk daerah WITA. Belum selesai jet lag gw, mau keluar dari bandara itu udah serasa artis. orang-orang diluar berkerumun ratusan menunggu dipintu keluar, WAW…fenomena apaan ini yah, serasa paling ganteng aja gw jadi pusat perhatian. Gw pun bertanya sama Wahyu yang menjemput gw di Bandara…"itu pada jemput TKI yan, disini kan daerahnya TKI"…oiya setelah mendengar penjelasan singkat dari Wahyu gw pun mengerti. Putar-puter sibuk cari logistik dengan teman-teman baru Mataram ku, Kudri, Yeyen, Udi. Ternyata perut gw ga bisa kompromi lagi, dia lupa gw isi dari siang..hehehe. Kali ini langsung makanan khas Lombok jadi korban keganasan perut gw, Ayam Kaliwang…Gila Jack, pedesnya bukan main, mulut gw udah kaya ikan mas kena pancing.

Santap malam selesai, langsung tancap gas menuju Praya Lombok Tengah…disana kita pun berbasa-basi dulu menjelang keberangkatan esok pagi ke Rinjani. Ibaratnya orang mau mendaki gunung es, tentunya ada proses aklimitasi (penyesuaian suhu). gw nikmatin dulu hawa lombok dong, karena masih ‘ga percaya bisa ke Lombok hanya dalam hitungan Jam untuk buat keputusan dan putar haluan. Anggur merah gw seruput buat menghormati dan tanda perkenalan tuan rumah, dalam hati gw pikir ini hal gila…bayangkan kalau aja gw "lewat" di Rinjani bisa berabe nih. cepet-cepet gw berdoa mohon pemakluman…hihihi. waktu semakin malam, gw ijin diri untuk rehat sejenak biar fresh pagi harinya. Mentari pagi bersinar ramah, gw ‘ga menyia-nyiakan kesempatan untuk mengotori udara bersih dengan kepulan tembakau gw…hehehe. Selesai bakar paru-paru, Topan (guide) mengajak kami untuk berkeliling sambil melihat Rinjani dari kejauhan dan sedikit mengintip jalur yang akan di daki. hitung-hitung ngelonggarin urat kaki sama paru-paru, kami jalan santai mengelilingi beberapa blok. Gw coba ngereka-reka jalur, ini jalur bakalan parah nih. Pukul 08.00 WITA siap-siap packing, kurang lebih pukul 09.00 WITA langsung cabut. ‘ga pernah terpikir bakal bawa carrier sama daypack akhirnya kejadian juga gw bawa beban dua sekaligus…sial! mana napas senin-kamis.

Selama perjalanan menuju sembalun dari Aikmel, lo akan dibuat kagum oleh lanskap sekitar…ini yang bisa sedikit nyaingin jalur ini adalah Lawang-Ranu Pane…standby terus yah kamera, karena kendaraan disini supir-supirnya sekelas F1, ga ngertiin banget…beda sama di Semeru, kita bisa minta supir untuk berhenti dijalan untuk motret.

tiba di Sembalun Lawang pukul 02.00 WITA, dimulailah petualangan kami…peralatan tempur modal celana pendek kaos oblong sedikit olahraga kecil, biar ‘ga kaget di mandala peperangan. Awal perjalanan carrier gw ‘ga bisa kompromi, doi narik urat bahu gw. salah packing nih!…penderitaan itu berakhir di pos II. Besok pagilah packing ulang. Urat gw semua mendadak kenceng. Packing ulang ah, dan ternyata semua beras sama gw. logistik penuh di gw, air, nasting, kompor, tabung gas, full…sial!. gw coba perbaikin packingan temen gw, eh ngehe carrier doi isinya cuma sleeping bag, tenda, ma baju…pantesan doi ngebut. Ternyata logistik dan beras dilimpah tugaskan di gw, kurang ngajar. gw oper aja langsung beras sama logistik sebagian, biar rata!.

Perjalanan terasa lebih enakkan setelah packing, nah ini baru bener setelannya…disini ada dua opsi jalur yang menyesatkan, ada bukit penyiksaan dan ada bukit penyesalan…dua jalur ini beda dua jam, gw saranin pilih jalur bukit penyiksaan lebih cepat walaupun tracking abissss!. Akhirnya tiba juga di Plawangan Sembalun. Lanskap disini keren abis jack!…mana disini banyak bule nge camp…ada yang buka baju cewenya, ada yang tos make bir, trus foto-foto make lensa tele padahal jaraknya buka setengah meter, bego tuh bule…sampe lebaran haji juga ‘ga bakalan fokus…hahaha. Sunset cing!…langsung gw setel Black Crowes (Hard to Handle), biar sedikit Rock ‘N Roll suasana, dan berdisco ria dengan Blair (Have Fun Go mad). terus ditutup dengan Reggea Party Steve&Coconut (Welcome to My Paradise)…goyang semua tuh seisi Plawangan Sembalun…hahaha.

Pukul 02.00 WITA, kami ngacir ke puncak. Dasar nasib sweaper, terpaksa makan debu sama pasir dari merosot dan seretan kaki teman-teman. Menuju puncak dari Plawangan Rinjani disini perbandingannya 1:1 1/2 langkah, karena medannya pasir batu. Tenang aja masih sulitan Semeru tracknya. Adu balap sama lampu dibawah, gw pikir nih porter yang ngejar, tahu-tahunya bule jack!…waduh ini tanah pribumi, jadi harus pribumi dulu yang nginjak tuh puncak! semangat gw pun membuncah, segera menyadarkan teman-teman dari rasa lelah.

Sejam menuju puncak, beberapa teman sudah mulai tertidur dan merebahkan tubuh dibalik batu, menghindar dari dingin dan angin. Berhubung saya sweaper yang setia semenjak dari awal perjalanan, rasa egois akan puncak pun mulai mendominasi…gw ‘ga mau kehilangan sunrise dan kalau berhenti akan dingin, saatnya gw didepan tanpa harus stres dibelakang. dan saat itu gw pikir jalur toh sudah jelas. gw tinggalkan teman-teman, betapa terkejutnya gw ternyata Dwi (Badak Perempuan) ngikutin gw…hebat!. Cuaca tidak bersahabat, badai…gila lo,muka sebelah kiri gw beku. Tapi Dwi anteng aja melenggang kangkung menahan dingin. Topan pun berlari menyusul…"Pan anak-anak kemana", tanya ku. "ga tahu pada tidur", jawabnya singkat. ah pikir, kami bertiga mereka akan menyusul mungkin. Angin pun semakin kencang, dibelakang daypack gw ada bunyi ‘ga beres nih, gw was-was cover bag mental nih. Napas mulai tersengal-sengal kehabisan oksigen…baru pertama kali nih gw naik abis napas bener-bener.

Dwi dan Topan berada 100 meter didepan gw, gw memanggil Dwi untuk break karena cuaca semakin tidak bersahabat…teringat pesan dari sahabat, "Remember bro, puncak itu cita-ita tertinggi. TUJUAN UTAMAnya adalah kembali ke rumah dengan selamat", itu pesan singkat dari sahabatku Irfan Hendrian menjelang keberangkatan gw pas di bandara. Tapi dasar bareng guide muda usia, dibabatlah suasana mencekam ini. gw dah bener-bener kehabisan napas…ada batu besar dipersimpangan, gw lihat Dwi sama Topan salaman…INI PUNCAK…ngumpulin tenaga, start jongkok..GO…sampe juga gw…"Pan mana puncak", tanya ku penuh penasaran…"masih 5-10 menit lagi", jawab Topan ringan…"lah tadi kenapa pada salaman", tanya gw lanjut…"orang kita ada bisnis", sambung Dwi sambil terkekeh-kekeh melihat ekspresi gw yang keheranan. Sial ketipu gw…rehat sebentar menunggu teman-teman dan cuaca kami mengobrol ringan berlindung dibalik bebatuan. Akhirnya cuaca mulai membaik, tanpa buang waktu jalan lagi. Hore puncak idaman ketiga sampai juga. Disini penyakit narsis gw kambuh dan semakin akut…buka baju ah, ajak Opan…wih boleh juga tuh, siapa takut. sedikit selebrasi ala Fruit Tea yang sengaja ku siapkan dari bawah, sedikit potongan coklat menghangatkan suasana kami bertiga. Puas dari puncak kami kembali ke leter S batu besar. "kayaknya anak-anak ga nyusul nih, kita turun aja deh", ajak gw biar ‘ga terlalu berlama-lama di puncak, karena matahari mulai naik.

Gw pikir nanti turun bisa surfing ria, ternyata jalurnya pasir batu…ogah balik-balik badan pada beset. Gw sama Dwi sibuk potrat-potret, mumpung belum jauh dari puncak dan pemandangan oke banget. Ternyata teman-teman gw yang tidak jadi muncak menunggu di tengah jalan, Wahyu KO, Kristian tidak bisa ambil keputusan, dan Suleh jadi korban keputus asaan Kristian.

Tiba di Plawangan Sembalun, ambil air buat persiapan ke Segara Anak. Jalur turun menuju Segara Anak dari Plawangan Sembalun harus siap-siap kaki hancur yah, karena jalur disini turunan terjal plus batu. Kepala gw pusing turun lewat sini, kaki menghentak keras dibebatuan. Apalagi sepatu gw boot, mana bekas kerikil puncak suka nyelip di kaki. jadi sepanjang jalan, jalan gw kaya siput berusaha meredam hentakan kaki dan menahan kerikil. Tapi semua stress itu bisa terobati di Segara Anak, suasana tenang dan damai di keheningan danau. Di Segara Anak banyak sajian loh, kita bisa mancing, ke utara dikit ada air terjun plus air panas, agak ke timur 30 menit bisa mandi sauna di goa susu. Di Segara Anak kami coba beristirahat mengumpulkan tenaga untuk turun, seperti kebiasaan gunung Jawa. Jalur track turun pastinya sudah bisa dibayangkan dong, lancar terus sampai bawah. Tapi disini beda kita harus naik dulu jack! mana jalur tebing, dalam hati gw sial banget sih nih, ga ada habisnya nyiksa gw. Ditengah kejenuhan, gw masih bisa lihat puncak Rinjani…"Lo mo kasih gw jalur kaya mana bakalan gw tempuh deh", gw terharu ngucap kaya gitu karena usaha keras gw terbayar oleh keindahan Rinjani. Ternyata ucapan gw dibayar Jack! sama Rinjani. Selepas Plawangan Senaru jalur kering dan tanah pasir…duh, mana gw make sendal…sengsara deh nih, tambah lagi luka. Mana otak sama kaki dah ga kompatibel lagi jalannya, meleset terus. sampe kata-kata makian terucap, dan yang bikin gw sewot, si Wahyu sempet-sempetnya lari, terpaksa gw suruh duluan dari pada nabrak gw!. Kejutan lain, buka mie instan dan telpon. Waduh gw yang udah jenuh sama jalur ga habis-habis, terpaksa gw duluan ninggalin dia untuk masuk hutan berlindung dari panas. Gw kalo turun paling demen track hutan, biar stress, kalo lari ‘ga sakit. Masuk hutan lah sudah, ga ada acara meleset lagi. sampe Pos III, Topan bertanya sama gw, "mana mba’ W". "Nelpon", jawab gw kesal. "biarin aja ah, jalur jelas ini terus gw cape nungguin. mana panas,terus jatuh mulu", tambah gw. Setelah kumpul semua, kita coba susun formasi biar cepat sampai Nol KM. Perasaan gw yang daritadi ‘ga enak takut penyakit sendi Wahyu kumat gara-gara lari, terjawab. Wahyu terseok-seok, jalannya menggeser tanah…waduh masalah nih, ga bakalan keubuer jam empat sore. Mana ke Nol KM itu masih empat jam, bayangkan empat jam itu jalur turun. Ini jalur Stress berattttt!!!. Campur aduk perasaan, jengkel,lucu,kasihan,marah,sedih…udah bertumpuk dikepala. Akhirnya perjuangan panjang itu usai setelah berjam-jam melihat patok jalan yang ditempuh lama cuma berkurang 0,5 km.

Dari desa Senaru kami naik angkot, gw sama topan milih bagian VIP…atap mobil buat lihat pemandangan. Baru pertama kali gw lihat sunset segede pantat panci penggorengan didepan mata…kuerreeennn aabbiiiiissss!!! Matahari di ufuk barat mulai tenggelam. Peradaban akhirnya bisa dirasakan lagi, langsung dinner di rumah Udi, makan Ayam Kaliwang. Busyet, perut belum keisi dah dihantem sama pedes, tapi urusan belakang yang penting happy…hahaha.

Selesai dinner, Topan pamit ke Praya. Tapi gw bilang sama Topan, besok gw mesti nginep Praya. Kami pun segera menikmati hembusan malam angin pantai Senggigi, kudapan jagung bakar dan sekali lagi PEDAAASSSS…ga ada matinya. Ada lagi yang buat gw ngidam di puncak FANTA MERAH!.

Sabtu pagi beberes untuk membeli beberapa oleh-oleh di pasar. Gw sibuk luluran biar kulit yang gosong dan pecah-pecah cepet hilang, lumayan mempercantik diri. Pukul 15.00 WITA, gw sama Topan cabut ke Praya sambil bopong tiga carrier, gila tuh pegel banget mana naik motor. Kami berdua langsung mengarahkan haluan menuju Kuta setelah menaruh carrier. Mapir sebentar di SADE, desa wisata suku Sasak. Pernak-pernik dan rumah adat cukup bikin gw berdecak. Di Kuta mulai Sunset, pasir putih yang luas…WAW…cukuplah merenung menikmati kecantikan Kuta yang ku padankan dengan paras seorang gadis kesayangan. Tenang hati ini, setelah kemarin berada di atas awan sekarang berada di pesisir.

Minggu, 17 Juni. Gw harus mengalah sama waktu, kalau ‘ga bisa kena SP 1. Belum sempat gw melepas kangen dengan berfoto ria sama Topan, gw harus berburu dengan waktu untuk mengejar penyebrangan jam tiga. Apa lacur perpisahan itu berakhir dengan genggaman tangan dan pelukan kawan sejati. "maaf pan, sampai ketemu lagi", beberapa patah kata yang mewakili kekecewaan karena kurangnya waktu.

Gw pun berpamitan dengan teman Mataram dan Praya hanya melalui SMS, beribu terima kasih karena keindahan alam dan keramahan kawan di ujung pulau…empat jam penyebrangan itu ku lalui dengan perasaan kehilangan sangat, belum pernah gw merasa kehilangan dan rindu yang memuncak terhadap suatu tempat, dan itu LOMBOK!. Di buritan, ku habiskan pandangan dengan memandangi Rinjani yang angkuh memasak bumi. I’ll be Back Rinjani…sampai benar habis pandangan itu seiring Matahari yang lelah memancarkan suryanya. Ku rindu ia (gadis itu)…

nb: ini kali pertamanya gw naik pada make senter korek api…gila ga safety procedur man!!!

tak ada yang bisa dibeli, biar alami…akan hancur semua demi komersialisasi…

tak rela rasanya perjuangan tanpa lelah demi sebuah kekasih (puncak) itu terenggut dengan kemewahan duniawi…

lagu wajib…WELCOME TO MY PARADISE

nantikan tentang RINJANI berikutnya

Bolehlah Sambil Ngemil!

June 2nd, 2007 by ardian-pettrucci

Silahkan kita bermimpi, dari mimpi semua akan terjadi dan terjatuh…

jangan takut bermimpi karena itu awal dari harapan, dan jangan takut jatuh dalam bermimpi karena itu hanya mimpi. Tidak salahkan bermimpi, memang tidak bisa seindah realita yang akan dihadapi, dan cobalah…pasti dreams come true…bijaklah menyikapinya. tentunya kita semua bermimpi banyak hal. aku pun masih memupuk mimpi itu terus, sampai jengah dan berkata AKU TERUS!…sadar…

tak kan lari gunung dikejar, potongan kalimat lucu tapi memang bisa diresapi bahwa semua mimpi bisa diraih dengan semangat, karena memang dia ada ditempatnya siap menunggu kita walau itu dengan berjalan, jalan cepat, sekali kita berlari…

diatas pemaparan sebuah cerita dari semua yang dirasakan tiap insan dalam hidup. Apa gunanya hidup tanpa mimpi, tapi bukan hanya sekedar sebagai seorang pemimpi ulung mengasihi diri. Tentunya Tuhan pasti membencinya, kita dibekali semangat, kemampuan dan keunggulan yang berlimpah, manfaatkan itu kawan. Cerita sakit ataupun sedih, jamaklah pasti kita alami. Jangan patah karena itu!.

Sambil memangku kepala di atas meja, menerawang ke atas dengan alas imajinasi,harapan, dan doa…

MATUR SUWUN SANGET NDORO GUSTI…!!!

kamar ku, tempat “gila”

May 30th, 2007 by ardian-pettrucci

Kamar gw teman mesum, gila, sumber inspirasi, pelepas lelah dan "hajat", pokoknya segalanya lah kamar ku pembantu yang paling setia kepada majikannya, yaitu GW!.

Berbicara tentang kamar atau mempunyai kamar, pasti sangat menyenangkan yah…hehehe. Kamar adalah ruang privasi kita yang paling rahasia, dan rasanya tidak etis kamar kita dibagi untuk orang lain…benar ga?. Sejak dulu gw ga bisa untuk berbagi kamar tidur…entah yah, mungkin gw adalah salah satu mahluk pengidap penyakit soliter, senang menyendiri. Pernah gw disatuin kamar tidur ma ade gw, yang terjadi kita saling ribut, bertengkar, tendang-tendangan. ga ada akur-akurnya ma saudara sedarah. Pada jaman kuliah, coba-coba ‘tuk ngekos. pengen tahu aja rasanya jadi anak kost an, hitung-hitung menghemat biaya teman ku mengajak untuk patungan biar ga membengkak bulanan. Tapi apa yang terjadi, justru gw tersingkir dengan teman-teman yang banyak berdatangan justru bukan teman-teman dari gw. kadang mereka menginap dan tempat tidur harus dibagi lagi, trus asap rokok yang membumbung memenuhi spasial kamar, musik yang disetel kuat-kuat memekakkan telinga, dan tidak tenang setelah penat dikampus. Untuk masalah kost sih itu hal standar asal kita punya kamar sendiri. Belum lagi masalah kunci kamar, kadang suka main cari-carian kunci…dan kejebak ga nemu kunci padahal lagi butuh ngelindur atawa lepas penat. Apalagi kalau sudah kena panah asmara dan indahnya romansa kampus, lagi nagih berat ingin berhajat ria dengan sang pujaan hati, harus dipaksa nahan emosi dan birahi karena kamar penuh jali…hikzzz…NGEHE!

Dengan berada di kamar sendiri tentunya kita akan mempunyai khayalan tingkat tinggi deh…percaya ga loe semua?!. coba aja lo rasain kalo dah masuk ke dalam kamar sendiri. Loe bisa jadi apa aja…ga percaya lagi?…ngehe. Coba loe setel musik kesukaan lo deh, misalnya berhubung gw suka genre Rock, kadang-kadang ngayal jadi Rock Star nomor wahid se Indonesia raya, macan panggung. kadang jadi guitarist, drummer macho, atau vokalis ala Bon Jovi and Eric Martin. serasa di foto dengan kilatan flash kamera, jejingkrakan diatas panggung trus injak monitor sound panggung berdiri telak pinggang mengacungkan salam tiga jari…YEAHHH…WiLL ROCK ON THE WORLD MAN!!!!…puastinya keren buanget jack!

Sekali gw pernah lagi kena program pemerintah jaman Presiden Soeharto pas lagi SKJ jadi makanan wajib memulai aktivitas belajar mengajar, yaitu menggalakkan olahraga. mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olahraga. Jadi tuh kamar saksi gw berlakon pemain bola yang diberkahi kemampuan menggiring dan umpan silang yang mumpuni, trus diberi anugerah wajah tampan. Disitu gw mempraktekkan gocekan-gocekan ala zidane, lalu umpan khas Beckham…membayangkan diri berpeluh ria, plus sorakan penonton…gile bener dah!. Lain lagi kalo lagi jiwa epos gw yang muncul…mendadak jadi pendekar, berbekal ahli Karateka pemegang sabuk hitam DAN 3, Dan seterusnya deh…bayangin diri dikeroyok lima orang. pantang mundur dan tak bisa mundur karena ada tembok terpaksa melayani lima orang ini…CIAT…CIAT…WUSHHH…PLETAK…bunyi tulang salah urat…NGEHEEE!!! kelewat semangat jack. lebih parah lagi kalo mengkhayal  jadi super hero…waduh…tau-tau kita bisa terbang,menghilang trus ngintip cewe mandi atau lagi polos badannya..hihihi, lari dan gerakannya secepat kilat, bisa manjat tembok…gila ga tuh…hehehe.

Pernah juga gw berorator tak jelas didepan kaca sendirian, bak politisi ulung berbicara didepan forum, orang tercengang lihat kemampuan gw berbicara dan terpengaruh…widiiihhh. Tepuk tangan riuh rendah setuju dengan politik basi gw…huahaha. Gw juga pernah berakting ria di depan kaca, gara tergiur dengan penghasilan tinggi dari jadi aktor, trus ngembangin kemampuan terpendam dari sifat sanguins gw….hehehe.

Teman riang di kala mengingat kejadian-kejadian lucu bersama kawan-kawan ku, trus cekakakan sndirian…hehehe. kan enak tuh sendirian gak ketahuan orang biar ga di cap gila. Karena kamar gw dulunya tempat nongkrong anak-anak jadi gampang buat rendevousnya, saking lucunya pernah jadi tempat ajang judi bikin 3 lapak denganpermainan yang berbeda dan massa yang berbeda pula. Nonton bokep berjamaah kala orangtua naik haji (laknat), itu jaman SMP BM (bonceng mobil) dari sekolahan. Miras dan nyimeng juga pernah mampir…dan kamar gw itu pintunya banyak coretannya, kaca jedelanya tempelan sticker mulu. so enak banget buat ngingetin kejadian konyol kawan-kawan gw

trusnya kalo lagi lo kena peliknya masalah asmara, disitu loe bisa mikir nyari strategi jitu yang baik untuk ngajak jalan, megang tangan, nyolong bibir doi, atau sekalian yang ekstrim "nikam"…hehehe. itu kalo lagi dapet senengnya dari masalah asmara, cuman kalo lo lagi kena apesnya bisa sesegukan tersedu sedan loe dibuatnya…ibarat kata kalah deh Maria Mercedes, apalagi mo disandingin sama yang lagi ngetop INTAN….wah bisa putus deh semua itu…hikzzz. Sambil megang rokok, nyeselin kenapa bisa kaya gitu gw, kenapa kaya gini jadinya, kok ga jadi anuan…ups, mulai ngaco…hehehe.

Ada lagi yang bikin kalut, kalo ortu dah ngomel cas-cis-cus dibrondong semua kesalahan kita…busyeettt…buaya darat, tuh kamar bisa jadi ajang kamuflase kita ngumpet dari pelor makian ortu. Ntar tinggal dicariin…mana tuh si Dian (panggilanku)…huahaha. Kunci rapat-rapat deh kalo sudah kaya gitu, biar ada gempa,atau angin ribut sekalian jangan dibuka, kecuali bokap punya kunci cadangan. waduh percuma ngeles…ngeheee.

terus kalo masalah asyik, bisa kita bikin asyik tuh kamar kita (17 th keatas)…apa lagi kalo tegangan tinggi…celingak-celinguk, gelisah ga ada hasil pemecah solusi ngurangin tegangan…nyari ilham dikit, kunci kamar make jamu sari rapet…dimulailah imajinasi liar make alat bantu film atau gambar seronok tungging beruang….huahaha. Kalau punya pacar lebih enak lagi…hihiihi…banyak yang ngiri dengan strategisnya letak dan suasana kamar gw loh untuk masalah bermesraan…kata temen gw aman dari serbuan massa cing….hehehe.

kalau soal mancing buat nyari ilham berseni, tinggal bakar rokok sebatang…mulai mikir make otak kanan. Puter-puter cari topik, dah didapet simpen. ntar malem tinggal online di kantor, trus ketak-ketik ga jelas. lupain pekerjaan sejenak. Dan kalo lagi kena masalah baik itu finansial, nyari kerjaan ga dapet-dapet ataupun kurang sreg di gaji dan jabatan, keluarga, tuntutan hidup. dikamar kita bisa tiba-tiba berdialog dengan tuhan loh…berkeluh kesah dikamar sendirian, trus ngobrol dengan diri sendiri. berhubung seperti yang gw bilang, kalo sudah kaya gini tutup tuh kamar, biar ga dibilang cengeng dan gila ngoceh sendirian.

Waktu gw sempat berhenti ngerokok, tuh kamar pernah gw telantarin berdebu banget. karena gw males banget ke atas. ngapain coba diatas ga ada kerjaan. sekarang berhubung tuh hobi mulai giat lagi, yah sudah tuh kamar jadi gw sering sambangi trus. Efek positifnya dari gw ngerokok lagi, tuh kamar jadi ga berdebu, karena ada kegiatan dikamar itu..hehehe.

masih ga percaya dengan berada dikamar lo bisa jadi apa aja…pasti deh lo bisa jadi apa aja…percaya. karena loe semua pasti pernah ngelakuin apa yang pernah gw lakuin juga kan…hehehe. Dan hormatin deh kamar lo, gw aja kalo mau masuk kamar pasti salam metal dulu dengan penghuni tak kasat matanya…kata temen gw, kamar gw ada penunggunya, sampai ade gw pernah digangguin. Tapi kenapa gw ga yah, mungkin doi demen gw yah, soalnya numpuk dosa mulu disitu…hahaha…pisss.

NB: tutup semua kamar, jendela periksa, kunci dulu tuh pintu biar ga tengsin…